Semasa Kecil, Dekan Fapet IPB Idat Galih Permana merupakan sosok anak yang rajin untuk belajar. Sehingga memang sedari kecil, kegiatan sehari harinya tidak terlepas dari belajar yang menurutnya memang sebuah kegiatan yang menyenangkan. Hal tersebut juga tidak terlepas dari latar belakang profesi kedua orang tuanya yang merupakan tenaga pendidik di sekolah dasar.
Pria yang lahir lahir pada tahun 1967 di Kota Serang, Banten, ini memang terlahir dari dunia pendidikan. Idat semasa kecil memang dididik oleh orang tua yang bekerja sebagai guru di sekolah dasar.
“Orang tua saya berprofesi sebagai guru, Ayah dan Ibu saya guru SD namun Ibu saya harus pensiun dini karena sakit. Sedangkan ayah masih meneruskan kariernya hingga menjadi Kepala Sekolah di SD tersebut. Saya anak ke-4 dari 5 bersaudara,” papar Idat saat ditemui di ruangannya, Ruang Dekan Fapet IPB University, Kampus Dramaga, Kabupaten Bogor, Senin (27/3).
Semasa kecil Idat terbiasa hidup di pedesaan. Maka dari itu, ia bertekad selalu belajar dengan giat supaya bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik. “Dari awal memang saya tinggal di kecamatan, sehingga selalu mencoba untuk mencari pendidikan yang paling baik di daerah untuk jenjang SMP dan SMA. Maka dari itu ketika masuk ke SMA, saya memutuskan untuk masuk di SMA 1 Serang karena memang di kota tersebut sekolah itulah yang paling baik,” ujarnya.
Ketika lulus SMA pada awalnya Idat ingin masuk ke jurusan teknik karena pada zaman ia remaja dulu, sepertinya jurusan teknik sedang menjadi primadona. Jadi awalnya ia memutuskan untuk mencoba tes di Institut Teknologi Bandung, hanya sayangnya hasil dari tes yang ia lakukan masih belum beruntung untuk menjadi mahasiswa teknik ITB.
“Maka di kesempatan lain ketika saya ada kesempatan untuk tes, saya memutuskan untuk masuk ke IPB di tahun 1985. Saat itu IPB belum memilih jurusan di tingkat 1, nanti ketika di tingkat 2 baru mengambil jurusan. Sebetulnya awalnya mengapa memilih fakultas peternakan karena memang setelah saya timbang – timbang, ternyata saya lebih menyukai hewan daripada tanaman,” jelas Idat.
Walaupun saat itu ada beberapa pilihan jurusan seperti fakultas pertanian, fakultas peternakan, kedokteran hewan, tetapi Idat mantap untuk memilih fakultas peternakan IPB di tingkat 2. Ternyata setelah Idat menjalani kegiatan perkuliahan, memang menarik karena dunia peternakan itu menurutnya mengelola makhluk hidup dengan berbagai macam standar supaya ternak itu bisa hidup sekaligus memberikan manfaat bagi manusia yang memeliharanya.
“Jadi kalau dirunut, saya masuk IPB tahun 1985, masuk fapet tahun 1986, dan lulus pada tahun 1990. Karena pada masa perkuliahan itu saya orangnya sangat menyukai kegiatan belajar, maka dari itu saya selalu berusaha agar nilai saya bisa selalu baik. Akhirnya setelah saya jalani dan tekuni saya menjadi lulusan terbaik di fakultas peternakan saat saya wisuda,” kenang Idat.
Setelah berhasil menjadi lulusan terbaik di fakultas kala itu, Idat tidak langsung serta merta menjadi dosen. Karier pertama dari Idat justru bekerja di industri perunggasan sebelum akhirnya kembali dipanggil oleh kampus dan menjadi dosen dan peneliti untuk urusan nutrisi ternak ruminansia.
“Selepas saya lulus, saya tidak serta merta langsung menjadi dosen. Saya sempat bekerja di poultry breeding farm dan mengelola sekitar 30.000 ekor layer parent stock. Jadi walaupun saya sekarang sebagai dosen yang dikenal di kalangan ruminansia, tetapi awal mula karier saya itu ada di perunggasan,” ungkapnya.
Perjalanan karier
Idat lalu melanjutkan kenangannya semasa lulus kuliah dan menerangkan bagaimana perjalanan kariernya hingga dipanggil kembali menjadi dosen. Kalau mengingat kala itu, Idat dipimpin oleh seorang manajer dari Thailand dan menikmati awal karier saya di bidang farm breeding.
“Akan tetapi, karena kampus itu memanggil saya untuk menjadi tenaga pengajar, maka akhirnya saya kembali ke kampus IPB pada tahun 1991, menikah di tahun 1992, dan kemudian di tahun 1993 saya melanjutkan ke program pascasarjana (S2) di Jerman sampai tahun 1995. Saya mengambil jurusan nutrisi ternak di fakultas pertanian Universitas Gottingen. Lalu untuk program doktoral, saya kembali ke Universitas Gottingen untuk bidang yang sama dengan profesor yang sama dan selesai pada tahun 2002,” terangnya.
Perjalanan karier dari Idat dimulai di tahun 1991 sebagai dosen. Selain menjadi dosen, Idat juga mengisi pos Sekretaris Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan pada tahun 2004, dan akhirnya menjadi Kepala Departemen pada tahun 2007. Setelah itu, kariernya berlanjut ke rektorat dengan menjadi direktur integrasi data dan sistem informasi pada tahun 2013. Dari situlah ia terpilih menjadi wakil dekan pada tahun 2020, dan pada setahun setelahnya yaitu 2021, Idat terpilih menjadi dekan Fapet IPB University.
Belajar adalah hal yang sangat disukai oleh Idat, karena prestasi akademik adalah hal yang sangat ingin ia kejar. Maka dari itu, ia berterusterang bahwa semasa menjalani perkuliahan, ia bukan tipe mahasiswa yang banyak bermain. Tetapi ia merupakan tipe orang yang banyak menghabiskan waktu untuk belajar.
“Kala itu, saya memiliki pola pikir di setiap mata kuliah yang saya jalani, saya harus memiliki prestasi. Tetapi, walaupun saya senang dengan kegiatan belajar, saya juga tetap menyibukkan diri dalam himpunan mahasiswa profesi. Walaupun bukan Ketua Himpunan tetapi ketika saya menjalani kuliah S1 saya sempat menjadi Ketua Poultry Club karena semasa kuliah dulu saya menyukai ternak unggas. Jadi satu sisi saya fokus dalam prestasi akademik, di sisi lain pengembangan diri saya difokuskan dalam kegiatan profesi unggas,” ungkapnya.
Pesan untuk generasi muda
Menurut Idat teknologi di luar sudah sangat berkembang jauh, sehingga saat ini posisi perguruan tinggi dalam mengadopsi teknologi yang ada di industri masih kalah cepat, sehingga mahasiswa dan alumnus fakultas peternakan harus terbuka dengan teknologi. Tidak cukup jika hanya mengandalkan bekal akademik dalam masa studi program sarjana.
“Kita harus terbuka dengan berbagai perkembangan teknologi sehingga keterampilan dan kompetensi para lulusan bisa berkembang. Sekarang juga telah banyak cara untuk belajar, karena yang namanya belajar itu harus dilakukan terus menerus, dan juga harus cepat. Salah satu kemampuan saya yang mungkin juga bisa menjadi inspirasi yaitu belajar dengan cepat dalam berbagai bidang,” kata Idat.
Dengan kemampuan belajar yang cepat, Idat yakin para generasi muda mampu memahami prinsip dasar dari sebuah ilmu, pada akhirnya kemampuan tersebut juga yang membawa Idat menjadi Direktur Data Integrasi dan Sistem Informasi IPB.
“Ketika itu, memang semasa menjabat sebagai kepala departeman di fakultas, banyak sekali ide – ide saya untuk mengintegrasikan data yang ada, dari mulai kepegawaian, dan data akademik lainnya. Walaupun saya tidak menguasai bahasa pemrograman secara detail, tetapi saya memiliki banyak staf yang berkaitan dengan urusan bahasa pemrograman. Tinggal bagaimana ide yang saya tuangkan tersebut bisa dieksekusi oleh tim IT,” ujarnya.
Lalu Idat juga berpesan untuk generasi penerus di bidang peternakan agar jangan ragu untuk terjun di bidang peternakan. Sektor peternakan masih menjadi sektor yang menjanjikan dan bisnis yang akan selalu ada karena masyarakat akan selalu membutuhkan protein hewani.
“Bahkan saat melalui masa pandemi sekalipun, urusan pangan itu masih tetap dibutuhkan masyarakat. Selain itu, protein hewani juga berperan untuk meningkatkan kesehatan dan kecerdasan masyarakat,” terangnya.
Maka dari itu, Idat mengajak kepada para mahasiswa peternakan selain kita diajarkan untuk meningkatkan kompetensi profesi dalam budidaya peternakan, para sarjana peternakan juga memiliki misi untuk meningkatkan ketersediaan protein untuk meningkatkan kecerdasan bangsa.
“Pekerjaan urusan peternakan itu masih akan tetap eksis di tengah era disrupsi yang akan menghilangkan beberapa pekerjaan konvensional dengan bantuan teknologi. Insan peternakan akan tetap dibutuhkan, hanya saja supaya mampu bersaing harus pintar dalam mengadopsi dan mengadaptasi teknologi,” pungkas Idat.
Artikel ini merupakan rubrik Profil pada majalah Poultry Indonesia edisi April 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi April 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com
Menyukai ini:
Suka Memuat...