POULTRYINDONESIA, Jakarta – Pria bernama lengkap drh. Hadi Wibowo lahir di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, 16 Agustus 1960, pria berdarah jawa ini merupakan seorang praktisi perunggasan yang sudah malang melintang di dunia perunggasan. Kecintaannya pada dunia peternakan khususnya perunggasan karena sejak muda sudah mencintai dunia kedokteran hewan. Menurutnya, manusia itu bisa belajar makna ketulusan dari seekor hewan.
Menjadi dokter hewan memang membuatnya senang, apalagi pekerjaan tersebut juga bisa menghasilkan uang baginya. Terlebih dari keluarga besarnya memang sedari dulu sudah jatuh hati dengan profesi dokter dan ia memilih untuk menjadi dokter hewan. Menurutnya, antara hobi dan pekerjaan itu memang harus berjalan beriringan
Sewaktu kecil, Hadi sebenarnya tergolong berasal dari keluarga yang berada karena saat itu ayahnya menjabat sebagai Kepala Desa di Desa Candi Mulyo, kampung kelahirannya. Sampai pada suatu waktu ibunya meninggal dan kondisi ekonomi keluarga juga semakin terpuruk. Kondisi tersebut mengharuskannya untuk pindah dan tinggal bersama keluarga dari pihak ibunya di Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo.
Baca Juga: Prof. Dr. drh. Michael Hariyadi Wibowo, M.P. Semangat Berusaha dan Menjalin Relasi adalah Kunci
Takdir memang tak bisa ditolak, setelah lulus SMP, Hadi harus pindah tempat lagi untuk mengarungi lautan takdir kehidupan. Ia pindah ke Malang untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang sekolah menengah atas dan di sana ia kembali tinggal dengan saudaranya. Layaknya kehidupan yang selalu ada sisi lebih dan kurangnya, masalah ekonomi tak menghalangi dirinya untuk tetap berprestasi. Nilai dan prestasi yang bagus pada masa SMA, bisa membuatnya untuk meneruskan ke jenjang kuliah tanpa melalui jalur seleksi tes.
Mencintai dunia ayam
Kecintaannya pada dunia peternakan ayam, membuatnya lebih senang disebut praktisi perunggasan, karena memang ia pernah memelihara, mengamati, dan membandingkan. Seperti halnya pada saat ini, dengan adanya aturan non AGP, para pelaku budi daya harus paham betul apa yang musti dilakukan untuk menjaga prodiktivitas.
Saat menceritakan pengalamannya, Hadi teringat bahwa apa yang bisa ia dapatkan hingga saat ini merupakan bentuk keajaiban dan kemurahan Tuhan. Suatu ketika pada tahun 2016 silam, Hadi mengisi sebuah seminar tentang peningkatan produktivitas pada peternakan layer di Blitar, di sana ia bertemu dengan kawan lamanya dan diajak kerja sama dalam sebuah proyek. Tatkala proyek tersebut berhasil dan selang tiga tahun kemudian yakni pada tahun 2019, ia tiba-tiba dihubungi temannya tersebut dan memberinya hadiah untuk ibadah haji bersama sang istri. Padahal, yang ada dalam pikirannya saat menggarap proyek tersebut, ia tidak mengharap sebuah imbalan karena hanya berniat membantu temannya. Momen lain yang juga membekas dalam hidupnya adalah pada tahun 2018 yang lalu, tepatnya pada saat hari Lebaran, ia mengumpulkan semua saudara-saudaranya yang dulu merawatnya sewaktu kecil. Ada sekitar 500 orang saudaranya yang ia kumpulkan, dan di situ ia mengucapkan terima kasih kepada semuanya karena sudah dengan tulus ikhlas merawat dan membimbingnya.
Ada satu pedoman hidup yang selalu melekat didirinya. Menurutnya, ketika apapun yang kita lakukan itu didasari dengan tulus dan ikhlas, maka semuanya akan menjadi keberkahan dan akan kembali ke diri kita. “Kita lahir dalam kondisi miskin itu bukan salah siapa-siapa, karena itu semua adalah takdir, namun kalau nanti saya meninggal dalam keadaan miskin, itu adalah kesalahan saya, karena selama hidup kenapa saya tidak berusaha secara maksimal,” tutupnya mengakhiri wawancara. Chusnul
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2020 dengan judul “drh. Hadi Wibowo – Keikhlasan dan Ketulusan yang Membawa Keberkahan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153