Menjadi Wali Kota memang bukanlah pekerjaan yang mudah, karena harus menjadi teladan sekaligus harus terus melayani berbagai macam persoalan yang terjadi di masyarakat. Tak ayal sebagai seorang pria yang juga manusia biasa, Drs. H. Santoso M.Pd., memerlukan kegiatan lain yang bisa melepas penat saat tidak bertugas sebagai Wali Kota Blitar. Berawal dari situlah Santoso menemukan kegiatan memelihara ayam hias sebagai hobi untuk melepas penat.
Memelihara ayam hias merupakan sebuah hobi yang dapat memberikan kepuasan tersendiri. Momen saat memberi pakan ayam dan setiap jenis ayam membaur adalah momen yang paling berharga.
“Jadi sebagai Wali Kota, memang yang saya rasakan itu jadwal sangat padat sekali. Biasanya sehari bisa sampai tujuh kegiatan dari pagi sampai sore, sehingga dengan kesibukan seperti itu kalau kita tidak memiliki kegiatan untuk melepas sejenak dari rutinitas pekerjaan, tentunya akan cepat lelah,” ucap Santoso saat ditemui di Ruangan Kantor Wali Kota Blitar, Kamis, (3/11).
Santoso juga bercerita bahwa ketika dulu semasa muda, ia aktif dalam berbagai kegiatan olahraga, namun seiring dengan berjalannya waktu, kondisi fisiknya membuat ia membatasi beberapa kegiatan olahraga dengan intensitas tinggi. “Seiring berjalannya waktu, kondisi fisik saya tidak memungkinkan untuk melakukan kegiatan olahraga dengan intensitas tinggi. Pada awalnya ketika pulang ke rumah, ketika istirahat tanpa ada kegiatan, ternyata jenuh juga. Dari momen itulah saya mencari cari, dan akhirnya menemukan kegiatan memelihara ayam dan ikan hias untuk hobi di luar jam kerja,” ungkap Santoso.
Kegiatan memelihara ayam hias telah lama ditekuninya. Berbagai macam jenis ayam hias juga pernah ia pelihara. Bahkan, dengan semakin tingginya intensitas perhatian Santoso terhadap hobinya ini, sebagian besar populasi ternak yang ia miliki merupakan hasil dari penetasan yang Ia miliki. “Awalnya saya memelihara banyak sekali jenis burung kicau, dari mulai burung cucak rowo, murai, kenari, tekukur, dan lainnya. Kemudian saya juga memelihara berbagai jenis ayam, dari mulai berbagai jenis ayam brahma, silky, poland, ketawa, pelung, bangkok, cemani, sampai ke burung unta. Sebagian besar ternak yang saya miliki juga hasil dari penetasan saya sendiri.”
Dalam memelihara ayam hias, Santoso memang mengakui tidak selamanya berjalan dengan mulus. Pada suatu masa, ia pernah mengalami serangan penyakit yang mengakibatkan banyak dari ternaknya mengalami kematian. Disinyalir penyebabnya adalah perubahan cuaca yang menyebabkan turunnya kekebalan dari ternak yang Ia pelihara. “Pernah suatu masa, ternak yang saya pelihara itu dihantam oleh perubahan cuaca dan mengakibatkan ayam saya habis terserang penyakit. Dalam sehari, bisa habis sekitar 30 ekor ayam. Ada beberapa ternak yang tersisa, yang berupa bibit dan saya pelihara dengan baik, akhirnya setelah dewasa saya tetaskan sendiri, jadi ternak yang saya miliki saat ini memang hasil dari penetasan saya,” ujar Santoso.
Dari sekian banyak jenis ayam yang ia miliki, pria yang lahir pada 15 Januari 1961 ini mengaku bahwa ayam brahma adalah ayam yang ia favoritkan. Alasannya, karena ayam brahma memiliki postur yang lebih besar jika dibandingkan dengan ayam hias lainnya. Menurut pengalamannya dalam memelihara ayam hias, ayam mutiara merupakan ayam yang cukup kuat terhadap serangan penyakit. Sedangkan untuk ayam yang cukup ringkih, menurut Santoso ialah ayam kalkun. Karena ketika ayam kalkun terserang penyakit di usia 3 bulan, maka tingkat kematian akan tinggi. Namun ketika ayam kalkun berhasil melewati hal tersebut, maka kalkun akan terus hidup.
Pengalaman unik ketika memelihara ayam hobi yang pernah Santoso alami adalah ketika memelihara burung unta. Memelihara burung unta, memang perlu perhatian ekstra dan tidak bisa dipelihara secara asal – asalan. Kala itu ia membeli dua pasang burung unta yang cukup mahal dengan usia sekitar tiga bulan. Hingga saat ini ia masih memelihara burung unta tersebut dan sekarang umurnya sudah mencapai satu setengah tahun lebih, namun satu ekor mati karena cedera kaki yang membuat ternak tersebut sulit bergerak. “Burung unta yang mati itu disebabkan karena jatuh dan akhirnya tidak bisa berjalan. Akhirnya saya berpikir daripada burung unta tersebut mati, maka akhirnya saya putuskan untuk sembelih saja. Tapi ketika menyembelih seekor burung unta itu rasanya seperti menyembelih seekor kambing saking besarnya,” kenangnya.
Keunikan lain dari memelihara burung unta adalah ketika sehabis dimandikan lalu diberi pakan, maka akan memengaruhi perasaan burung unta itu. Menurut Santoso, burung unta akan melakukan pertunjukkan tari ketika merasa senang telah diperlakukan secara khusus oleh majikannya. “Jadi ciri khas dari burung unta itu adalah dia akan menari ketika suasana hatinya sedang baik. Jadi dia akan menari sambil berputar – putar di kebun saya yang berlokasi di Kebunrojo. Bahkan banyak anak – anak kecil yang berkumpul disana untuk melihat burung unta,” ceritanya.
Memelihara ayam merupakan sebuah hobi yang menurut Santoso bisa memberikan kepuasan tersendiri, terlebih ketika momen memberi pakan untuk ayam – ayamnya. Kegiatan memberi pakan sendiri biasa Santoso lakukan ketika hari Sabtu atau Minggu di luar jam kantornya. Santoso merasa momen ketika ayam ayamnya diberi pakan olehnya dan setiap jenis ayam membaur ketika makan, itu adalah momen yang paling berharga. “jadi ketika pagi hari saya memberi pakan ke ayam – ayam saya. Di mana berbagai jenis ayam membaur menjadi satu. Momen kerukunan ayam – ayam itulah yang paling saya nikmati. Walaupun demikian, apabila ada masyarakat yang mengundang saya untuk menghadiri acara di Sabtu atau Minggu, maka momen saya untuk memberi pakan ayam–ayam saya hilang,” ucapnya sambil berkelakar.
Santoso juga menyoroti bahwasanya saat ini banyak sekali pegiat ayam hias yang tergabung dalam berbagai komunitas ayam hias terutama di Kota Blitar. Maka dari itu, ia sangat mendukung dengan kegiatan – kegiatan komunitas ayam hias yang ada di wilayahnya. “Jadi saya memang memperhatikan bahwa saat ini sudah mulai banyak sekali para penghobi ayam hias terutama di daerah Blitar. Hal tersebut jugalah yang melatarbelakangi terjadinya kontes ayam hias beberapa waktu silam,” ucap Santoso.
Memelihara ayam hias memang tidak bisa setengah – setengah, dimana dijelaskan oleh Santoso Bahwa dalam kegiatan memelihara ayam hias diperlukan perhatian yang lebih. Tujuannya, sudah barang tentu supaya ternaknya mendapatkan hidup yang layak dan jauh dari ancaman gangguan kesehatan. “Saya yakin ketika orang – orang di luar sana sudah merasakan indahnya memelihara ayam hias, pasti akan tertarik untuk ikut memelihara. Tetapi memang membutuhkan perhatian lebih dalam memelihara ayam hias, harus ada orang yang secara khusus untuk memelihara kalau memang sibuk. Kegiatan yang wajib dilakukan seperti membersihkan kandang, memberi pakan, dan melihat kalau ada tanda – tanda serangan penyakit itu harus selalu dikerjakan supaya ternaknya sehat.”
Ia juga berpesan kepada komunitas supaya terus bisa menggalakkan kegiatan – kegiatan yang berkaitan dengan ayam hias agar lebih banyak lagi masyarakat yang bisa ikut menikmati keindahan dari ayam hias ini. Apalagi di Kota Blitar memang memiliki agenda tahunan yang biasanya diisi oleh kegiatan – kegiatan kemasyarakatan. “Jadi di Kota Blitar itu biasanya memiliki dua agenda utama yang biasa dihadiri oleh masyarakat banyak dan bisa diisi oleh kegiatan kontes ayam hias. Pertama itu hari jadi Kota Blitar di bulan April, yang kedua bersamaan dengan bulan Bung Karno di bulan Juni. Pada kedua tanggal tersebut kami mempersilahkan kepada komunitas untuk bisa memanfaatkan kontes tersebut, dan pemerintah memfasilitasi yang bisa dijangkau.”
Kolaborasi memang dibutuhkan jika ingin menyelenggarakan sebuah acara dan memberikan dampak kepada masyarakat. Maka dari itu, Santoso juga berpesan kepada para komunitas ketika mengadakan acara supaya bisa menggandeng berbagai pihak supaya bisa bekerjasama dalam penyelenggaraan acara agar acara yang dijalankan bisa berjalan dengan sukses.
Menyukai ini:
Suka Memuat...