Penyakit Egg Drop Syndrome merupakan ancaman serius bagi peternakan ayam petelur, karena dapat menyebabkan penurunan produksi telur secara signifikan.
Telur merupakan salah satu sumber protein hewani yang memiliki peran penting dalam pola konsumsi masyarakat Indonesia. Selain kaya akan nutrisi, ketersediaannya yang melimpah dan harga yang terjangkau menjadikannya pilihan utama dalam berbagai hidangan. Hal ini diperkuat dari laporan Buku Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan 2024 yang menyebutkan bahwa partisipasi konsumsi pangan hewani terbesar penduduk Indonesia pada Maret 2023 adalah telur, yakni sebesar 92,77 persen.
Fenomena tersebut, tentunya membuka peluang yang lebar bagi usaha peternakan ayam petelur di masyarakat. Namun demikian, di tengah prospek bisnis tersebut, berbagai tantangan teknis pemeliharaan selalu siap menghadang. Seperti halnya penyakit pada ayam, yang apabila tidak dikendalikan dengan tepat, akan berdampak buruk pada performa produksi hingga menyebabkan kerugian dari sisi ekonomi.
Pasalnya berbagai penyakit infeksius yang bersifat kontagius, akibat virus, bakteri, fungi dan riketsia senantiasa menjadi ancaman nyata pada usaha ayam petelur. Telebih penyakit akibat infeksi virus menjadi kekhawatiran utama bagi para peternak. Hal ini disebabkan oleh tingkat penularannya yang sangat cepat, baik dari satu hewan ke hewan lain, antar kandang, maupun antar flok. Dampak ekonomi yang ditimbulkan pun juga bisa lebih besar dibandingkan dengan infeksi yang disebabkan oleh bakteri, parasit, jamur, atau mikroorganisme lainnya. Dalam artikel ini akan dibahas mengenai gangguan virus pada layer yaitu Egg Drop Syndrome atau EDS, beserta faktor-faktor yang perlu diperhatikan dan dapat diperbaiki dalam manajemen pemeliharaan.
Mengenal EDS
Virus Egg Drop Syndrome (EDSV) termasuk dalam klasifikasi Adenovirus A family Adenoviridae. Virus ini juga dikenal sebagai duck adenovirus (DAdV-1) dan dilaporkan pertama kali pada tahun 1976 sehingga virus ini dikenal sebagai EDS-76. Hasil studi molekuler menunjukkan bahwa virus ini memiliki perbedaan dengan adenovirus lain yang ditemukan pada bebek namun mirip dengan adenovirus yang ditemukan di kambing, sapi dan posum. Selanjutnya, virus ini dikategorikan dalam AT-Adenovirus yang merefleksikan tingginya basa AT dalam DNA. Berat molekulnya sebesar 22.6×106 d.
Morfologi virus EDS dapat dilihat pada Gambar 1. Mansoor et al., 2011 dalam penelitiannya melaporkan bahwa virus EDSV beramplop dengan 6 capsomer dan proses reproduksi secara in vivo yang ditemukan pada sel epitel infundibulum kelenjar tubular shell, isthmus, mukosa nasal dan limfa unggas yang terinfeksi (). EDSV rentan terhadap pemanasan suhu 60 °C selama 30 menit, namun mampu bertahan pada pemanasan 56 °C, pH 3-10 dan resisten terhadap kloroform.
Penyakit EDS ini umum menyerang peternakan layer fase produksi, yang menyebabkan penurunan produksi telur secara tiba-tiba atau gagalnya mencapai puncak produksi dari ayam tersebut. Kerugian ekonomi jelas terjadi pada penurunan produksi telur, namun dari segi kematian ayam tidaklah signifikan. Perubahan yang terjadi pada telur dikarakteristikan oleh produksi telur yang memiliki bentuk cangkang lunak pada ayam yang terlihat sehat.
Gejala klinis EDS biasanya terlihat pada ayam yang berumur 25-35 minggu dengan gejala umum berupa penurunan produksi telur disertai dengan kualitas yang buruk seperti hilangnya warna kulit telur, kulit telur yang lunak, tipis dan bahkan bisa tanpa kulit serta ukuran telur bisa menyusut hingga sangat kecil. Laporan dari Kencana et al. (2017), menyebutkan bahwa produksi telur dapat turun sebesar 20-50%, hal ini berlangsung hingga 6 sampai 8 minggu, yang menyebabkan puncak produksi sulit untuk dicapai. Gejala lainnya yang nampak yaitu ayam terlihat sedikit lesu, nafsu makan menurun, jengger dan pial berwarna pucat dan kadang disertai diare ringan. Ayam yang terserang Egg Drop Syndrome sebelum mencapai dewasa kelamin sulit untuk mencapai produksi telur yang optimal.










