Dengan sifatnya yang akut dan sulit terdeteksi, penyakit IBH dapat menjadi ancaman tersembunyi dalam usaha peternakan. Untuk itu, strategi pengendalian dan pencegahan harus disiapkan.

Seperti halnya pada makhluk hidup lain, organ hati pada ayam menjadi organ penting yang berperan dalam sekresi empedu, detoksifikasi, pembentukan sel darah merah, metabolisme, dan penyerapan vitamin. Untuk itu, kesehatan hati menjadi hal vital, demi memperoleh performa produksi yang optimal. Untuk itu manajemen kesehatan, termasuk bagaimana pengendalian penyakit yang berpotensi memberikan ancaman bagi hati menjadi hal yang perlu diupayakan.

Mengenal lebih dekat IBH

Salah satu penyakit yang patut menjadi perhatian adalah Inclusion Body Hepatitis (IBH). Seperti namanya, IBH atau disebut juga Hepatitis Hydropericardium ini merupakan penyakit hati, di mana terdapat bentukan inclusion body di dalamnya. Penyakit viral ini bersifat akut, sangat sulit dideteksi, dan gejala klinis hewan yang terserang pun hampir tidak kelihatan. Penyakit IBH menyerang ayam muda, dan tak hanya pada broiler, penyakit ini juga cukup memberikan dampak pada peternakan layer. Di mana peternakan layer yang terserang penyakit ini menunjukkan dampak berupa penurunan produksi telur yang cukup signifikan.

Penyakit ini pertama kali ditemukan menyerang ayam pada tahun 1963 di Amerika Serikat yang ditandai adanya hepatitis, yang diikuti dengan ditemukannya badan inklusi intranuklear pada sel organ hati ayam. Tetapi agen penyakit tersebut tidak dapat diidentifikasi sehingga penyakit ini disebut penyakit Inclusion Body Hepatitis. Diawal tahun 1970 juga ditemukan penyakit IBH menyerang di Kanada dan hingga saat ini menyebar secara sporadis ke beberapa peternakan di China, Thailand hingga Indonesia.

Untuk di Indonesia, penyakit ini pertama kali muncul pada tahun 1985 di Pulau Jawa yaitu Kabupaten Semarang dan DKI Jakarta. Penyakit ini sempat meredup, namun pada akhir 2017 sampai tahun 2018, ditemukan adanya infeksi IBH pada sampel yang diambil dari kasus di lapangan dalam bentuk organ yang diformalin dan organ segar. Di mana BBVet Wates menerima sampel organ dari peternakan yang mempunyai populasi 23.000 ekor yang telah terjadi kasus kematian hingga 6.000 ekor ayam pada usia 23 hari dengan kata lain angka kematian sudah mencapai 26%. 

Kejadian serupa juga dialami oleh peternakan dengan populasi 350.000 ekor ayam dengan angka kematian mencapai 40% di usia 25 hari. Setelah dilakukan nekropsi, ditemukan beberapa kelainan antara lain adanya multifocal nekrosis pada hepar, hidropericardium, hemoragi otot paha dan setelah dilakukan pemeriksaan PCR dan histopathologi, ditemukan bahwa kasus tersebut disebabkan oleh FAdVs dan ditemukan adanya inclusion bodies pada pemeriksaan histopathologi organ hepar (Pratamasari et al., 2018).

Lebih lanjut IBH merupakan penyakit yang disebabkan oleh Adenovirus yang tergolong ke dalam famili Adenoviridae. Adenovirus ini merupakan virus yang tersusun dari asam dioksinukleat (DNA), protein dan lemak. Virus ini termasuk virus yang tergolong tahan terhadap lingkungan dan cuaca yang ekstrem. Virus dalam keadaan asam dan tahan terhadap ether dan chloroform, tetapi virus ini tidak tahan terhadap desinfektan yang mengandung formaldehid dan iodin.

Umumnya infeksi IBH dapat menular baik secara vertikal maupun horizontal. Infeksi vertikal terjadi secara trans-ovarial pada telur tetas (hatching egg) yang tidak mengandung antibodi dari induk. Sedangkan, penularan secara horizontal terjadi secara langsung maupun secara tidak langsung. Penularan secara langsung dapat ditularkan melalui feses ayam yang terinfeksi ke ayam yang peka. Satu ayam yang terinfeksi dapat menyebarkan virus melalui feses selama kurang dari beberapa minggu dan infeksi tersebut akan menyebar secara perlahan dari satu flok ke flok lainnya. Penularan secara tidak langsung dapat terjadi melalui kandang, sisa ransum dan air minum, perlengkapan kandang, egg tray, mobil pengiriman atau pegawai kandang yang tercemar virus. Penularan IBH akan lebih cepat terjadi pada kandang dengan kepadatan yang tinggi dan manajemen litter yang buruk.

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi April 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi April 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com