Ovarium dan saluran telur yang mengalami Egg Yolk Peritonitis
drh. Rahmat Ramadoni*
Sampai saat ini industri perunggasan, seperti peternakan ayam petelur dan broiler, masih menjadi sektor yang diandalkan dalam penyediaan pangan sumber protein hewani di Indonesia. Dalam waktu relatif singkat, ayam dapat menghasilkan telur dan daging yang cukup besar dengan angka konversi pakan yang lebih rendah jika dibandingkan dengan ternak unggas yang lain.

Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa EYP menjadi penyebab umum kematian pada ayam. Dengan tingkat morbiditas, mortalitas, dan penurunan produktivitas yang ada, Egg Yolk Peritonitis menjadi masalah reproduksi penting yang dihadapi industri perunggasan

Produksi telur dan daging yang optimal di industri perunggasan secara signifikan bergantung pada fungsi dan kesehatan organ reproduksi unggas. Berbagai macam gangguan pada organ reproduksi ayam menjadi rangkaian dari salah satu kompleksitas sistem metabolisme ayam yang begitu krusial dan saling sinergi terikat antara satu dan lainnya.
Dengan kata lain, sistem metabolisme ayam tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Kesempurnaan dari organ reproduksi menjamin produksi telur yang optimal, kontinuitas yang berkesinambungan, pada akhirnya akan menghasilkan profit secara maksimal. Jika terjadi sedikit saja gangguan, maka produksi telur pasti drop. Salah satu gangguan tersebut adalah Egg Yolk Peritonitis.
Egg Yolk Peritonitis merupakan reaksi inflamasi yang terjadi pada kuning telur (egg yolk) dan peritoneum. Penyakit ini juga biasa disebut Egg Yolk Stroke. Kejadian penyakit ini biasanya diawali dengan produksi kuning telur yang berlebih atau terjadinya kondisi ovulasi ektopik dimana folikel pecah atau tidak masuk secara normal di saluran telur.
Penyakit Egg Yolk Peritonitis terjadi ketika terlalu banyak folikel telur yang matang, dan kadang dikarenakan oleh kondisi posisi kuning telur yang tidak menentu terhadap saluran telur. Folikel telur yang berada bebas di dalam rongga peritoneum menyebabkan reaksi inflamasi lokal yang masif sehingga mengakibatkan akumulasi cairan bebas, darah, dan sel-sel inflamasi.
Dengan kondisi tersebut, kuning telur di dalam tubuh ayam menjadi terinfeksi dan yang paling sering terjadi yaitu infeksi bakteri Escherichia coli. Infeksi bakteri sekunder dapat terjadi dikarenakan kuning telur merupakan media pertumbuhan yang sangat baik untuk bakteri.
Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa EYP menjadi penyebab umum kematian pada ayam. Egg Yolk Peritonitis merupakan penyakit sistem reproduksi unggas yang memiliki tingkat morbiditas hingga 35%, mortalitas hingga 15%, dan penurunan produktivitas hingga 40%. Dengan tingkat morbiditas, mortalitas, dan penurunan produktivitas yang ada, Egg Yolk Peritonitis dianggap sebagai salah satu tantangan masalah reproduksi penting, yang dihadapi industri perunggasan karena dapat menyebabkan turunnya produksi telur atau daging unggas.
Pada dasarnya, kuning telur dapat disimpan atau diserap kembali oleh tubuh ayam. Namun, ketika tubuh ayam mencoba untuk menyerapnya kembali, infeksi pada peritoneum dapat terjadi karena kuning telur adalah media yang baik bagi bakteri untuk tumbuh. Masalah tersebut dapat terjadi ketika ayam muda atau pullet terkena stres akibat lingkungan yang tidak baik, kepadatan kandang yang berlebih, dan terlalu banyak terpapar cahaya sehingga memicu pematangan organ reproduksi yang terlalu dini.
Obesitas juga menjadi faktor pendukung dari kejadian penyakit ini. Saat ayam mengalami obesitas, maka akan ada gangguan ke organ saluran telur, terutama infundibulum, yang mempunyai peran dalam menangkap kuning telur yang diproduksi. Saat ovulasi terjadi dan kuning telur tidak dapat ditangkap oleh infundibulum, disitulah kuning telur berenang bebas pada rongga peritoneum yang kemudian menjadi awal terjadinya Egg Yolk Peritonitis.
Egg Yolk Peritonitis dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu non-septik dan septik. Pada kejadian EYP non-septik, tidak ada keterlibatan infeksi bakteri. Sementara, kejadian EYP septik diikuti infeksi bakteri. Pada ayam yang mengalami kerusakan pada saluran telur, maka telur tidak akan terbentuk dengan sempurna dan kuning telur akan masuk kembali ke rongga peritoneum yang mengakibatkan ketidaknyamanan ayam dan kesulitan bernapas.
Hal ini sering terjadi setelah ada infeksi bakteri E. coli yang bersifat imunosupresif dan memicu masuknya virus seperti Newcastle Disease dan Avian influenza yang menyerang saluran reproduksi sehingga menyebabkan Oophoritis dan Egg Yolk Peritonitis. Infeksi sekunder pada kejadian EYP septik oleh bakteri E. coli merupakan infeksi yang sering terjadi.
Baca juga : Ancaman Koliseptisemia pada Broiler
Pemberian berbagai macam antibiotik dalam menangani kejadian penyakit ini memberikan hasil nihil dan cenderung tidak ada perbaikan. Sehingga, beberapa orang menyimpulkan bahwa telah terjadi resistensi antibiotik tanpa mencermati lebih jauh penyebab utama terjadinya infeksi E. coli. Dalam hal ini, masalah obesitaslah yang harus segera diatasi terlebih dahulu.
Selain faktor fisiologis kuning telur yang berada bebas di rongga peritoneum, Egg Yolk Peritonitis juga dapat disebabkan oleh infeksi penyakit viral, seperti Egg Drop Syndrome (EDS), Infectious Bronchitis (IB), maupun Avian influenza (AI), yang menyerang ovarium atau saluran reproduksi. Penyakit viral tersebut dapat mengganggu proses ovulasi dan penangkapan kuning telur oleh infundibulum, selain itu juga menyebabkan infeksi ovarium yang dapat meluas menginfeksi peritoneum.
Distribusi dari penyakit Egg Yolk Peritonitis ini dapat terjadi di lokasi mana pun, baik dataran tinggi yang dingin atau di daerah yang suhunya tinggi. Penyakit ini sering kali terjadi pada kandang dengan tingkat kenyamanan yang kurang di mana hal ini dapat menyebabkan kondisi stres pada ayam. Selain itu, intensitas cahaya yang diberikan berlebih saat fase grower juga mempengaruhi.
Beberapa gejala klinis yang muncul akibat Egg Yolk Peritonitis, antara lain distensi abdomen, ayam tidak bertelur dalam waktu yang lama, penurunan berat badan, terlihat lesu, asites, gangguan pernapasan, anoreksia, manure berwarna kuning telur, dan kematian mendadak.
Baca juga : Menekan Kejadian Infeksi Bronkhitis dengan Tindakan Preventif
Pengobatan terhadap kejadian Egg Yolk Peritonitis ini sebaiknya dilakukan saat gejala mulai terlihat karena jika sudah kronis, maka akan sangat sulit dilakukan pengobatan. Yang dapat dilakukan adalah isolasi terhadap individu yang diindikasikan terkena Egg Yolk Peritonitis dan dilakukan karakterisasi apakah ayam tersebut mengalami EYP kronis atau tidak.
Ketika ayam tersebut mengalami Egg Yolk Peritonitis tidak kronis, maka dapat dilakukan pengobatan dengan cara pemberian diuretik, antibiotik yang peka terhadap bakteri E. coli, serta pemberian vitamin yang cukup. Selain itu terhadap populasi lainnya, perlu diwaspadai penyakit viral yang menyerang organ reproduksi dengan melakukan rapid test atau pengukuran antibodi untuk ND dan AI.
Untuk ayam yang mengalami Egg Yolk Peritonitis non-septik, dapat diobati dengan pemberian vitamin dan antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder. Jika ditemukan ayam dengan kondisi asites, maka dapat dilakukan tindakan abdominocentesis dan jika populasinya besar, dapat diobati menggunakan obat diuretik.
Strategi terbaik untuk menghindarkan populasi dari penyakit ini adalah dengan kontrol manajemen berat badan, keseragaman, perkembangan organ reproduksi, dan sanitasi air minum. Menghindarkan cahaya yang berlebihan saat fase grower juga dapat dilakukan untuk mengontrol hormon pendewasaan alat reproduksi. Selain itu, pastikan juga asupan mineral yang cukup untuk proses pembentukan cangkang, sehingga pecahnya telur dalam saluran telur dapat terhindarkan, serta ayam memiliki ruang yang cukup untuk bergerak untuk menghindari abnormalitas saluran telur.
Kondisi kebersihan kandang, kandungan amonia pada kandang, dan penerapan biosekuriti juga perlu diperhatikan untuk menghindari agen penyakit yang menyerang sistem reproduksi. Dua tindakan biosekuriti dapat dilakukan secara masif adalah pemisahan area luar dan area dalam farm serta mendesinfeksi semua kendaraan dan orang yang masuk wilayah farm. Langkah-langkah biosekuriti membantu mencegah masuknya agen patogen yang secara sekunder dapat mempengaruhi ayam untuk terkena Egg Yolk Peritonitis. *Medik Veteriner Ahli Pertama Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lamongan