Menjalani profesi di dunia kesehatan hewan selama 14 tahun memang tidaklah mudah, setidaknya itulah yang dialami oleh Eka Purwayaneka Ramdhani, Commercial Excellence dari PT. Elanco Animal Health Indonesia (Elanco). Kariernya dimulai dari bisnis ruminan terkhusus sapi potong. Namun setelah belasan tahun kemudian, akhirnya ikut merasakan terjun ke dunia perunggasan untuk memenuhi ekspektasi dari perusahaan terhadap performa Eka.

Berbekal jejaring dan pengalaman dalam melayani konsumen, membuat Eka mampu beradaptasi dalam situasi apapun. Walau datang dari dunia ruminan, akan tetapi jika dijalani dengan sungguh – sungguh, beragam target yang dituntut dalam bisnis di dunia perunggasan juga dapat diatasi.

Menurut Eka, pengabdian dirinya kepada perusahaan bukanlah tanpa sebab. Banyak faktor yang membuat ia merasa perusahaan yang sedang ia jalani saat ini merupakan perusahaan yang biSa ia percayakan untuk urusan pekerjaan dan jenjang karier.
“Pada 2009 saya dipanggil untuk bergabung di perusahaan Elanco, dimana pada masa itu Elanco sedang mencoba untuk masuk ke pasar ternak besar dengan produk feed additive. Ada beberapa hal yang membuat saya merasa bahwa Elanco adalah tempat yang cocok untuk berkarier sampai sekarang sudah menginjak 14 tahun. Disini saya merasa setiap pengambilan keputusan perusahaan, pendapat karyawan selalu dilibatkan,” kata Pria yang lahir di Tasikmalaya ini.
Hal menarik ketika Ia baru pertama kali bergabung adalah ketika diminta untuk membaca berbagai bacaan yang sudah disiapkan oleh perusahaan. Padahal yang Eka pikirkan kala itu, ketika bergabung menjadi karyawan di Elanco, dalam benaknya karena direkrut sebagai sales maka harus langsung turun ke lapangan untuk menjual produk.
“Tetapi ketika saya masuk, ternyata saya dilatih untuk memahami dulu visi dan misi perusahaan, sehingga timbul rasa tanggung jawab dari karyawan untuk bisa membuat perusahaan ikut maju,” kenang Eka.
Setelah memasuki bulan kedua atau ketiga, Ia lalu diminta untuk mulai berbicara banyak tentang kondisi lapangan di Indonesia terutama terkait sapi potong, karena saat itu perusahaan sedang mencoba untuk merintis beberapa produk di sapi walaupun memang dalam skala luas, perusahaan tidak berfokus di penjualan produk sapi.
“Dengan pengalaman yang saya punya, akhirnya saya turun ke lapangan ke perusahaan yang pernah saya temui selama berkecimpung di dunia persapian. Kuncinya saya masih bisa diterima walaupun sudah berada di bendera yang berbeda yaitu jejaring dan nama baik, sehingga begitu saya datang kembali ke jejaring saya yang telah terbangun, mereka menyambut baik, lalu setelah itu baru berbicara produk,” jelas Eka.
Walaupun kala itu, produk untuk sapi dari Elanco merupakan salah satu produk termahal yang pernah ada, sehingga target yang diberikan kepada Eka memang tidak terlalu muluk. Akhirnya Ia kerjakan dengan tulus dan fokus, mengesampingkan distraksi, berbekal jejaring, ditambah pola pikir yang ditanamkan oleh Eka yaitu menganggap bahwa target yang diberikan merupakan salah satu cara untuk mengembangkan diri.
“Akhirnya semua target bisa tercapai. Dan satu lagi pesan saya, dimanapun berada saya pribadi berpesan agar bisa selalu menjaga nama baik perusahaan tempat kita bekerja, jangan karena semata – mata mengejar target yang diberikan, akhirnya melakukan kampanye negatif terhadap kompetitor. Alhamdulillah, dengan pola pikir tersebut, selama tiga tahun pertama saya di Elanco target saya selalu tercapai.”
Akhirnya pada tahun 2015 Eka ditawarkan untuk promosi ke jabatan yang lebih tinggi, otomatis harus juga menerima untuk mengemban tugas yang lebih luas, akhirnya tugas baru tersebut adalah menangani produk di bidang perunggasan.
“Kemudian akhirnya saya terima dengan positive mindset, dan semakin lama akhirnya target semakin besar, tetapi tetap bisa dijalani dan memenuhi target. Saya punya tim di sekitar saya, maka bagaimana caranya kita bisa memahami peran masing – masing untuk bisa mencapai target tersebut.”  
Dengan mindset yang Eka miliki dari dulu, akhirnya ia mencoba membangun kembali jejaring di poultry industry. Bedanya, sekarang ia dibantu oleh tim yang berpengalaman di bidang perunggasan. Akhirnya dengan semangat tersebut, para pemain kunci di bidang perunggasan juga bisa ia rangkul.
“Alhamdulillah, dengan visi tersebut selama 2015 saya terjun di dunia poultry hingga 2018 dapat mencapai target terus menerus,” papar Eka.
Pada tahun 2018 akhir, Eka akhirnya diberi tantangan baru sebagai Commercial Excellence Manager, dimana berperan menjadi jembatan kepada distributor supaya tahu dan ingat produk Elanco. Lalu pada tahun 2019, ketika perusahaan Bayer mengintegrasikan produk animal health ke Elanco, Eka juga ditunjuk sebagai salah satu orang yang dipercaya untuk menangani bidang akuakultur yaitu produk untuk pet health dan udang. Sebelum Eka berkarier di Elanco, memang pengalaman dan jejaringnya sebagian besar datang dari ruang lingkup bisnis sapi potong. Selama hampir 9 tahun melanglang buana di bisnis hulu hingga hilir sapi potong, membuat pengalamannya menjadi incaran dari perusahaan yang ingin bergerak di bidang sapi potong.
“Setelah saya lulus akhirnya melamar ke bidang pekerjaan sapi potong untuk mengawasi sapi yang dipotong di jagal termasuk juga di bagian keuangan yaitu menagih uang ke pelanggan. Suka duka nya juga ternyata memang dirasakan, seperti bagaimana merasakan piutang yang macet. Dan walaupun saya bekerja disitu ya tetap hasil dibagi bersama. Setelah tahun 2002 sampai 2003 saya merasa frustrasi dengan pekerjaan yang betul betul harus merintis dari awal, akhirnya saya melamar ke perusahaan sapi potong dengan nama PT Nindya. Saya masuk ke perusahaan tersebut memang karena dari pengalaman saya sebelumnya di bidang sapi potong,” ungkap Eka.
Akan tetapi, Eka juga memiliki pengalaman dalam dunia perunggasan yaitu ketika sebelum ia lulus dan menjalani keseharian sebagai mahasiswa tingkat akhir, Eka pernah dilibatkan dalam bisnis rintisan dari program Induk Koperasi Daerah dengan menjual telur hasil pemeliharaan dari anggota koperasi.
“Sebelum saya lulus sekitar tahun 1996 sebenarnya saya itu sudah memulai bisnis rintisan dengan kawan – kawan saya di bidang ayam petelur. Pada waktu itu, saya bergabung di sebuah program yang dinamakan Induk Koperasi Unit Desa (INKUD). Dan induk koperasi tersebut memiliki anak perusahaan bernama PT Insan dengan kepanjangan Inkud Satwa Nusantara,” terangnya. 
Selanjutnya menurut Eka, PT Insan ini memang dikhususkan untuk membina peternak – peternak yang salah satunya merupakan peternak di Semarang. Dari peternak binaan tersebut, PT Insan bertugas untuk memasarkan produk berupa telur dari peternak binaannya.
“Dari situlah saya ikut dilibatkan untuk memasarkan telur ke pasaran dengan model kanvas sebanyak 2 peti ke pasar – pasar. Setelah itu memang prosesnya tidak selalu lancar, seringkali memang saya merasa babak belur dalam perjalanan menjual telur karena memang sebanyak 5 ton telur itu harus habis dalam dua minggu,” papar Eka.