Menjadi peternak sebenarnya bukanlah cita-cita. Namun, jalan Tuhanlah, yang menakdirkan Eko Murdiyanto menjadi peternak yang sejalan dengan pendidikan yang ia pelajari selama di kampus Fakultas Peternakan (Fapet), Universitas Brawijaya (UB), Malang.

Menerapkan strategi bertahan di tengah badai peternakan ayam layer,dengan mengamankan stok bahan baku pakan.

Saat ditemui wartawan Poultry Indonesia pada, Senin (11/4) ia bercerita bahwa setelah lulus Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) ia bermaksud untuk melanjutkan ke Fakultas Teknik Sipil, dengan harapan bahwa nanti kalau lulus bisa menjadi pegawai negeri sipil (PNS).
Ia ikut tes ujian masuk perguruan tinggi dan memilih teknik sipil, ternyata di tahun pertama keikutsertaan dalam tes itu gagal, dan dalam perjalanannya ia mengerti bahwa teknik sipil itu tidak ada hubungan dengan PNS. Namun Ia sadar bahwa teknik sipil itu bangunan atau konstruksi. Di Tahun kedua ia  diajak teman untuk masuk ke fakultas peternakan. Kebetulan temannya merupakan jurusan produksi, dan ia sendiri diminta untuk memilih jurusan nutrisi.
“Nanti kalau lulus rencananya adalah membuat usaha, dengan teman yang bagian produksi, sedang untuk bagian nutrisi akan diserahkan kepada saya, intinya supaya saling melengkapi,” tegasnya.
Ia setuju dengan tawaran sang teman, Hingga akhirnya ia bisa masuk fakultas peternakan,jurusan nutrisi ternak.”Pada awalnya agak terpaksa, namun akhirnya senang dan bisa menikmati sampai lulus,” tegasnya.
Setelah lulus, ia masuk di perusahaan pembibitan di Cibadak. Selepasnya dari tempat tersebut, ia pindah ke Jatinom, Blitar. Disinilah ia mulai mengenal ayam layer lebih dalam lagi, banyak mengenal para peternak, banyak belajar dari Hidayaturrahman selaku pemilik dari sisi marketing maupun produksi.
Baca Juga: H. Muhammad Idris, Sang Penghobi Ayam Kontes
Pada kesempatan tersebut Eko mendapati sebuah kesempatan untuk bertemu dengan Almarhum Siswoyo, Pendiri Jatinom PS, yang saat itu berpesan padanya. Hingga saat ini Eko masih selalu teringat sebuah pesan dari Almarhum yang selalu ia jadikan petuah dalam menjalani hidup.
“Jangan dilihat gajinya berapa kamu kerja disini,mempunya jatinom memang segini,tapi manfaatkan selama di Jatinom untuk belajar,sebab di jatinom Ilmunya banyak,saya lebih senang mas eko suatu saat nanti bisa mandiri” katanya, menirukan pesan yang disampaikan oleh almarhum Siswoyo kepadanya.
Setelah lepas dari Jatinom, karena banyak kenal dengan peternak Blitar, ia mencoba berjualan secara mandiri. Ia menjual katul dan jagung dengan bekerja sama dengan peternak. Namun ketika ia menjalankan usahanya, ternyata tidak semuanya lancar, banyak uang yang tidak tertagih di peternak.
“Perkara untuk menagih hutang dari pembeli memang sulit. Biasanya ketika ditagih selalu dengan berbagai alasan sulit untuk ditagih. Lantas saya berpikir, daripada uang dipegang orang lain, lebih baik saya pegang sendiri, akhirnya saya investasikan di peternakan layer,” tegasnya.
Akhirnya, Eko bercerita pada rentang waktu tahun 2009 ia memutuskan untuk menghentikan usaha berjualan jagung dan katul, lalu memulai beternak ayam layer sebanyak 500 ekor,dan lambat laun bertambah hingga mencapai populasi 1.500 ekor.
“Namun, di tahun 2010-2011 harga telur jatuh, akhirnya saya memutuskan untuk ikut perusahaan lagi sebagai marketing obat, sambil terus beternak. Pada tahun 2015 saya berhenti lagi, dan fokus di ternak ayam hingga saat ini, dengan populasi sekitar 8.500 ekor,” katanya.
Ia bercerita bahwa selama beternak ayam layer memang banyak liku-likunya salah satunya adalah banjir yang sering melanda kandangnya. Sebab, kandangnya cenderung memiliki topografi yang rendah, sehingga cenderung menjadi kubangan air jika hujan lebat.
Kondisi ini membuatnya berpikir, untuk mengatasi banjir salah satunya adalah dengan membuat kolam ikan lele di bawah kandang. Rupanya cara ini cukup efektif. Selain mengatasi masalah banjir, ternyata menghasilkan pendapatan juga setiap 5-6 bulan bisa panen ikan lele, dengan pakan murni dari sisa pakan ayam yang jatuh dan dari feses ayam.
Namun masalah kembali datang, kondisi kandang cukup panas, karena jarak antara atap dan ayam cukup rendah, akibatnya ayam stres hingga banyak penyakit yang muncul. Akhirnya, ia menemukan solusi dengan memberi hujan buatan pada atap kandang yang dipancarkan dari keran sprinkle serta penambahan kipas dalam kandang.
Eko mengaku di tahun 2009-2018 masih termasuk kondusif dalam berjualan telur. Namun, pada 2-3 tahun terakhir harga telur fluktuatif luar biasa, sementara di sisi lain kenaikan pakan terus terjadi. Ditambah lagi dengan harga jual telur murah, yang disinyalir dilakukan oleh pedagang nakal.
Ia mengaku optimis pada layer karena telur adalah kebutuhan protein hewani yang murah, dibandingkan protein hewani yang lain, selain itu telur sudah menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat.