Oleh :   Dr. Jojo, S.Pt., M.M.*
Industri peternakan unggas saat ini mengalami pertumbuhan yang pesat di seluruh dunia. 
Merujuk Data dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menunjukkan produksi daging unggas dunia pada tahun 2022 mencapai 135 juta ton atau  mengalami peningkatan rata-rata 3% per tahun dalam dua dekade terakhir. Namun, pesatnya pertumbuhan ini juga membawa dampak signifikan terhadap lingkungan. Dampak tersebut seperti emisi gas rumah kaca (GRK), penggunaan sumber daya yang tinggi, dan masalah kesejahteraan hewan. 
Guna mengatasi tantangan tersebut, konsep ekonomi hijau hadir sebagai solusi dengan mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi dengan keharmonisan lingkungan. Dimaksud ekonomi hijau dalam peternakan yaitu pendekatan yang meminimalkan dampak lingkungan dengan praktik berkelanjutan, seperti efisiensi sumber daya, pengurangan emisi, penggunaan energi terbarukan, dan pengelolaan limbah secara bertanggung jawab.
Sektor peternakan unggas menyumbang sekitar 8% dari total emisi gas rumah kaca di industri peternakan. Angka ini sebenarnya  masih lebih kecil jika dibandingkan sektor sapi atau domba. Sebagai contoh, untuk setiap kilogram daging ayam yang diproduksi, dihasilkan sekitar 5 kg CO₂e (karbon dioksida ekuivalen). Artinya, angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan sapi yang menghasilkan 27 kg CO₂e per kilogram daging.
Teknologi ramah lingkungan seperti biogas telah terbukti menjadi solusi untuk mengurangi emisi metana dari limbah peternakan. Tiongkok, contoh negara yang telah menerapkan  teknologi biogas  secara luas di peternakan unggas. Hal tersebut membantu menurunkan emisi metana sekaligus memberikan manfaat tambahan berupa sumber energi terbarukan bagi para peternak.
Sumber daya lain yang juga memerlukan perhatian adalah air. Peternakan unggas membutuhkan sekitar 4.000 liter air untuk memproduksi setiap kilogram daging ayam, jauh lebih efisien dibandingkan sapi yang memerlukan hingga 15.000 liter air. Namun, penggunaan air yang tinggi ini tetap menjadi tantangan, terutama di wilayah yang minim akses terhadap sumber daya air. Solusi yang ditawarkan dalam ekonomi hijau termasuk teknologi daur ulang air yang dapat menghemat hingga 20% penggunaan air di peternakan unggas.
Selain itu, pengelolaan limbah unggas juga merupakan salah satu isu penting yang perlu ditangani. Limbah ini tidak hanya menjadi penyebab polusi, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan. Misalnya, di India, limbah kotoran unggas diubah menjadi pupuk organik dan energi terbarukan melalui proses biogas, yang sekaligus mengurangi polusi air tanah.
Penerapan teknologi hijau dalam dunia peternakan unggas memungkinkan peningkatan efisiensi sumber daya. Teknologi pengumpanan presisi memungkinkan peternak memberikan pakan dan air sesuai kebutuhan unggas secara lebih efisien, sehingga mengurangi limbah pakan hingga 10% dan menghemat air hingga 15%. Di Eropa, beberapa peternakan besar telah mengadopsi sistem pencahayaan dan ventilasi hemat energi yang dapat mengurangi konsumsi energi hingga 25%, yang tidak hanya mengurangi jejak karbon tetapi juga menurunkan biaya operasional.
Prinsip ekonomi sirkular juga dapat diterapkan dalam pengelolaan limbah di peternakan unggas. Ekonomi sirkular dimaksud adalah pendekatan yang bertujuan untuk mengurangi limbah, meningkatkan efisiensi sumber daya, dan memperpanjang siklus hidup produk. Kotoran unggas yang kaya akan nitrogen, fosfor, dan kalium, dapat diolah menjadi pupuk organik atau energi terbarukan.  Teknologi ini telah berhasil diterapkan di beberapa negara berkembang dan membantu mengurangi emisi GRK serta menyediakan sumber energi alternatif bagi peternak.
Selain dampak lingkungan, isu kesejahteraan hewan juga menjadi salah satu perhatian serius dalam ekonomi hijau. Saat ini, sebagian besar peternakan unggas di negara berkembang termasuk Indonesia, masih menggunakan sistem kandang baterai yang padat, yang menimbulkan masalah kesejahteraan hewan. Di Eropa, lebih dari 50% ayam petelur sudah dipelihara dalam sistem cage-free yang lebih ramah hewan. Pergeseran ini menandai peningkatan kesejahteraan hewan, yang sejalan dengan tuntutan konsumen terhadap produk-produk yang lebih etis dan ramah lingkungan.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Opini pada majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Januari 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com