Oleh : Dr. Emy Koestanti Sabdoningrum, drh., M.Kes.*
Penularan infeksi Salmonella pullorum dapat melalui berbagai macam media. Di pembibitan, penyakit pullorum dapat menularkan secara kongenital yang dibawa dari induk ke DOC melalui telur terinfeksi. Selain itu, Salmonella pullorum juga bisa ditularkan melalui pakan, air minum, dan peralatan kandang. Bakteri ini juga kerap menularkan melalui lantai kandang yang dipenuhi oleh kotoran ayam yang terinfeksi.
Kondisi kandang sangat memengaruhi keberadaan Salmonella pullorum. Di kondisi yang menguntungkan, bakteri ini mampu bertahan di lingkungan kandang dalam beberapa tahun ke depan. Walau demikian, Salmonella pullorum rentan terhadap cahaya panas atau pada temperatur yang tinggi. Saat kondisi panas, Salmonella pullorum hanya mampu bertahan selama beberapa minggu di lingkungan kandang. Yang menjadi tantangan lainnya adalah Salmonella pullorum dapat ditularkan secara mekanik melalui hewan seperti tikus, kucing, dan lalat.
Selain berak kapur, penyakit pullorum pada ayam juga menunjukkan beberapa gejala lainnya seperti mata tertutup, jengger kebiruan dan nafsu makan menurun. Selain itu, gejala lain yang mudah untuk dilihat oleh peternak adalah kelemahan kaki, sayap menjuntai, kusam, bahkan lumpuh karena radang sendi dan sesak napas. Ayam berumur muda sangat rentan terhadap penyakit ini. Ayam muda yang terinfeksi penyakit pullorum memiliki tingkat kematian hingga 80%. Pada pembibitan, jika penyakit pullorum datang dari induk ke telur tetas, maka dapat menyebabkan embrio mati di dalam telur.
Sebenarnya, penyakit pullorum dapat diobati dengan menggunakan antibiotik seperti amoksisilin, enrofloksasin, dan tilosin. Namun, perlu digarisbawahi bahwa setiap pengobatan menggunakan antibiotik dapat menimbulkan kekhawatiran, dimana ketidaksesuaian dosis kontrol dapat menyebabkan bakteri menjadi resisten terhadap antibiotik. Kasus ini yang disebut dengan Antimicrobial Resistance (AMR), sehingga akan mempersulit proses pencegahan dan pengobatan penyakit di waktu yang akan datang. Hal ini juga yang mendasari penulis melakukan riset menggunakan ekstrak meniran untuk mengobati ayam ras pedaging yang terjangkit penyakit pullorum.
Efikasi meniran terhadap pullorum
Berdasarkan hasil riset penulis, pertumbuhan Salmonella pullorum masih terjadi pada dosis ekstrak Meniran 5% dan 10%. Sedangkan pada dosis ekstrak Meniran 20% dan 40% tidak ditemukan pertumbuhan Salmonella pullorum. Dalam kata lain, aktivitas zat aktif yang terkandung dalam ekstrak meniran mulai efektif di dosis 20-40%. Kemampuan antibakteri ekstrak meniran tersebut berasal dari senyawa antibakteri yang mengandung flavonoid, alkaloid, saponin, dan tanin.
Mekanisme kerja antibakteri ekstrak meniran dimulai dengan pembongkaran dinding sel bakteri yang dilakukan oleh senyawa flavonoid. Flavonoid yang menembus dinding sel menyebabkan kerusakan permeabilitas sel bakteri.  Gangguan permeabilitas akan menyebabkan rusaknya mikrosom dan lisosom bakteri. Dengan begitu, mekanisme tersebut dicapai dengan menghambat sintesis asam nukleat, fungsi membran sitoplasma, dan metabolisme energi bakteri.
Sejalan dengan itu, flavonoid dianggap memiliki sifat antibakteri dan antioksidan yang meningkatkan kerja sistem imun karena mampu mempercepat aktivasi sistem limfoid dan sistem imun. Hal tersebut dilakukan oleh senyawa flavonoid dengan memproduksi sel leukosit sebagai pemakan antigen. Kemudian, mekanisme kerja flavonoid adalah mendenaturasi protein yang terdapat pada dinding sel sehingga dapat mengubah struktur dan mekanisme permeabilitas dinding sel bakteri.
Disisi lain, senyawa alkaloid yang terkandung dalam meniran memiliki kemampuan mengubah keseimbangan genetik rantai DNA yang menyebabkan kerusakan pada rantai DNA bakteri. Tak diragukan lagi, alkaloid memang dikenal sebagai zat antibakteri yang efektif dalam membunuh dan menghambat bakteri gram negatif dan gram positif. Alkaloid bekerja dengan cara menghancurkan komponen penyusun peptidoglikan dalam sel bakteri. Oleh sebab itu, lapisan dinding bakteri tidak akan terbentuk sempurna. Selain itu, alkaloid yang terkandung dalam ekstrak meniran berfungsi untuk menghambat pertumbuhan bakteri dengan membentuk jaringan kompleks dengan bakteri melalui ikatan hidrogen, sehingga protein dan asam nukleat bakteri terhambat.
Selanjutnya, tanin yang terkandung dalam ekstrak meniran bekerja dengan cara menghambat pertumbuhan bakteri melalui koagulasi protoplasma bakteri. Sederhananya, senyawa tanin mencegah pertumbuhan mikroorganisme dengan cara mengendapkan protein dari enzim yang dihasilkan oleh mikroorganisme, sehingga menjadi tidak aktif dan pertumbuhan bakteri menjadi terhambat. Selain itu, tanin bekerja dengan mekanisme yang berkaitan dengan kemampuannya untuk menonaktifkan adhesi sel bakteri dan enzim, serta mengganggu transportasi protein di lapisan dalam sel. Tak hanya itu, tanin juga memiliki target pada polipeptida dinding sel, sehingga pembentukan dinding sel menjadi kurang sempurna. Hal ini jelas memengaruhi sel bakteri menjadi lisis karena adanya tekanan osmotik, yang menyebabkan sel bakteri akan mati.
Zat kimia lain yang bermanfaat dalam meniran adalah saponin. Sebagai mekanisme, saponin merusak membran sel bakteri dengan menurunkan tegangan permukaan yang mengakibatkan peningkatan permeabilitas membran sel dan menyebabkan pelepasan komponen penting seperti protein, asam nukleat dan nukleotida yang menyebabkan bakteri berubah menjadi lisis. Selanjutnya, Saponin bekerja dengan cara melisiskan dinding sel bakteri dan mengganggu metabolisme sel hingga terjadi kematian. *Dosen Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga
Artikel ini merupakan bagian dari majalah Poultry Indonesia edisi Juli 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi Juli 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com