Oleh: Muhsin Al Anas*
Apa yang membuat Gojek menjadi “Decacorn”, yaitu perusahaan yang memiliki valuasi di atas US$10 miliar atau setara Rp140 triliun? Padahal baru 10 tahun beroperasi. Apakah startup ini memiliki ratusan ribu mobil, motor, atau rumah makan sehingga membuat asetnya begitu besar? Jawabannya tidak, bahkan satu rumah makan pun tak punya. Lalu kenapa bisa?
Jika dulu emas dan minyak adalah kekayaan yang dicari oleh semua orang, maka saat ini data merupakan kekayaan baru yang lebih berharga dari keduanya.
Jawabannya, Gojek “hanya” memiliki data. Data menjadi sesuatu yang begitu berarti untuk pengembangan industri atau perusahaan. Revolusi Industri 4.0 benar-benar merubah tatanan lama, menjadikan segala sesuatu tidak terlepas dari internet of things (IoT), sehingga berdampak terhadap ledakan data (big data) dalam penggunaan berbagai aplikasi untuk akses data.
Gojek mampu menghimpun big data yang digunakan untuk pengembangan usaha yang dijalankan. Mereka mampu menghubungkan jutaan pembeli dengan berbagai menu makanan pilihan, meskipun Gojek tidak memiliki warung makan. Gojek juga mampu menghubungkan jutaan pelanggan dengan tukang ojek untuk mencapai tujuan dengan jangkauan daerah yang begitu luas. Bukankah itu didasari dengan data yang begitu besar? Lalu, apa hubungannya dengan industri perunggasan?
Big data dan perunggasan
Big data merupakan kumpulan data yang memiliki ukuran besar (volume), pertumbuhan yang sangat cepat (velocity) dan beraneka ragam (variety) yang dapat diolah untuk keperluan prediksi, pembuatan keputusan, bahkan pengembangan pasar. Pengolahan big data akan menghasilkan informasi secara akurat dan tepat.
Kenapa big data menjadi penting dalam industri perunggasan? Terdapat dua alasan yang menjadikan big data menjadi penting terhadap industri perunggasan, sektor penting dalam menghasilkan pangan sumber protein hewani di Indonesia. Pertama, big data untuk pengembangan usaha. Seperti halnya Gojek, mereka tentu memiliki data pembeli dan penjual atau pelanggan dan tukang ojek. Mereka tahu preferensi makanan yang menjadi favorit berdasarkan waktu dan daerah. Bahkan bisa diketahui makanan apa yang dibeli, berbahan telur ataukah daging. Data tersebut bisa digunakan untuk mengetahui berapa jumlah telur dan daging yang terjual, artinya yang dikonsumsi.
Lebih mudahnya, bayangkan Anda seorang penjual telur atau daging ayam di suatu tingkat Rukun Warga (RW) yang terdiri dari beberapa Rukun Tetangga (RT). Anda memiliki data pembeli berdasarkan RT, bahkan sampai tingkat rumah. Anda tentu tahu berapa kebutuhan telur atau daging ayam setiap hari di RW tersebut dari hasil penjualan yang Anda lakukan. Karena sudah lama berjualan, Anda tahu kapan akan terjadi peningkatan penjualan atau sebaliknya, sehingga Anda sudah bisa melakukan prediksi untuk menyediakan barang dalam jumlah lebih banyak atau sedikit. Anda juga tahu rumah mana yang belum membeli telur kepada Anda, sehingga anda bisa melakukan promosi atau semacam diskon, supaya orang di rumah tersebut tertarik dan membeli telur atau daging ayam kepada Anda. Hal tersebut Anda lakukan karena Anda mengetahui data di RW tersebut, baik pembeli maupun tren pembelian.
Seperti itu salah satu peran data. Tentu industri besar tidak hanya memiliki data di level RW, data mereka bisa dihimpun dari berbagai daerah dengan karakter pembeli yang begitu bervariasi. Itulah big data. Bagaimana ekonomi dapat digerakkan dengan mengetahui data, sehingga apabila data tersebut dapat diolah dengan baik, maka hal itu dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dengan tepat dalam peningkatan jangkauan pasar atas produk.
Tidak hanya sampai di situ, big data dapat digunakan untuk pemasaran atau digital marketing. Anda mungkin pernah mencari tiket pesawat atau kereta secara online, meskipun tidak jadi membeli. Akan tetapi ketika Anda membuka sosial media, kenapa terdapat berbagai iklan tiket dengan rute seperti yang Anda pilih ketika pencarian tiket online, bahkan dengan berbagai penawaran diskon. Begitulah big data dapat dimanfaatkan, ia dapat mengetahui potensi pembeli berdasarkan usia, jenis kelamin, hingga letak geografi.
Saat ini, berbagai startup penjualan online khusus bidang pertanian dan peternakan mulai muncul. Tanihub, salah satu perusahaan yang menjual produk pangan lokal termasuk daging ayam dan telur. Tanihub didirikan tahun 2016, sudah memiliki lebih dari 25.000 mitra petani lokal di seluruh Indonesia. Menghubungkan petani dengan puluhan hingga ratusan ribu orang pembeli. Melalui big data, mereka dapat mengetahui kebutuhan produk masyarakat secara sfesifik, sehingga produk yang dikembangkan berdasarkan sesuai preferensi konsumen. Selain itu, mereka juga dapat mengembangkan sistem rantai pasok dengan baik karena didukung dengan data yang akurat dan tepat.
Kedua, penggunaan big data dapat meningkatkan produktivitas ternak unggas. Akan tetapi pemanfaatan big data dalam ranah produksi belum banyak. Hal ini dikarenakan tenaga trampil big data khusus industri perunggasan masih terbatas. Meskipun beberapa pelaku usaha sudah mulai memanfaatkan.
Peternak tentu melakukan usaha produksi secara berulang. Mereka sebenarnya dapat melakukan pencatatan terkait apa yang terjadi, meliputi suhu, kelembapan, amonia, bahkan produktivitas ternak berdasarkan umur dan waktu pemeliharaan. Jumlah data itu begitu besar, namun apakah data itu sudah diolah dan dimanfaatkan? Mungkin sudah ada, tapi sebagian besar pasti belum.
Melalui analisis big data, suhu, kelembapan, amonia bisa dipediksi berdasarkan hari atau populasi, bahkan perlakuan pakan yang digunakan. Hasil tersebut tentu dapat dimanfaatkan sebagai dasar keputusan atau tidak lanjut (decisions) untuk mendapatkan produktivitas ternak yang optimal. Bahkan peternak bisa mengetahui kondisi lingkungan berdasarkan bulan. Dari data ini, peternak dapat melakukan antisipasi dengan melakukan manipulasi lingkungan supaya sesuai kebutuhan ternak. Tentu berbeda perlakuan ketika musim hujan dan kemarau.*Dosen Muda Fakultas Peternakan UGM dan Koordinator Bidang IV Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Februari 2020 ini dilanjutkan pada judul “Kerjasama Semua Pihak dalam Teknologi Perunggasan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153
Menyukai ini:
Suka Memuat...