Koksidiosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit protozoa dan sering ditemukan pada industri perunggasan. Penyakit ini menyebabkan gangguan pada intestinal yang
dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar pada produksi unggas di seluruh dunia. Oleh karena itu, peneliti terus melakukan studi untuk menemukan strategi yang tepat untuk pengendalian koksidiosis. Melihat kondisi perunggasan yang masih dihantui oleh koksidiosis, HIPRA Indonesia menyelenggarakan peluncuran produk EVANT® with HIPRAMUNE® T secara daring melalui aplikasi zoom pada Rabu (15/12).
Hadir dalam kesempatan ini, Dr. Ong Shyong Wey, DVM, MBA selaku Regional Technical Marketing Manager, Asia & Oceania HIPRA. Ia menyebutkan bahwa keseragaman dan berkurangnya tingkat mortalitas serta ancaman penyakit menjadi perhatian para pelaku
usaha, khususnya pada proses produksi industri perunggasan. “Adanya produk vaksin dari HIPRA yaitu EVALON® with HIPRAMUNE® T dan EVANT® with HIPRAMUNE® T diharapkan dapat mengatasi ancaman penyakit koksidiosis dan mengurangi penggunaan antibiotik pada industri perunggasan ini,” harap Ong Shyong Wey.
Masih menurut Shyong Wey, ia mengungkapkan bahwa dengan penggunaan vaksin yang tepat dapat mengontrol kesehatan hewan dan kesehatan manusia. “Konsep “One World One Health” yang dicanangkan secara global dapat berjalan bersama-sama denganpara stakeholder dan dapat mengatasi koksidiosis dan meningkatkan produktivitas ternak di lapangan,” ungkapnya.

Pempaparan selanjutnya menurut Diptya Cinantya, DVM selaku Technical and Marketing Manager PT HIPRA INDONESIA, menjelaskan mengenai “Coccidiosis Concept : EVALON® Experience”. Dalam mengatasi koksidiosis, HIPRA memiliki vaksin pertamanya yang
diperkenalkan di Indonesia pada tahun 2019 yaitu EVALON® yang dilengkapi dengan HIPRAMUNE® T. Vaksin EVALON® ini merupakan vaksin live attenuated yang ditujukan untuk proteksi terhadap penyakit koksidiosis pada breeder dan layer.
“Vaksin EVALON® berisi oocysts yang bersporulasi yang didapatkan dengan metode precocious yang telah berisi strain Eimeria yang banyak ditemui pada ayam, yaitu Eimeria acervulina, Eimeria maxima, Eimeria necatrix, Eimeria brunetti dan Eimeria tenella yang sangat penting pada ayam yang dipelihara dalam jangka panjang. Selain itu telah
dilengkapi dengan HIPRAMUNE® T yang berisi tiga komponen utama yaitu colouring agent berwarna ungu muda, beraroma vanilla dan merupakan adjuvant bersifat imunomodulator,” terang Diptya.
Kunci utama vaksin koksidiosis dari HIPRA adalah vaksin live yang diatenuasi secara precocious dan imunomodulator di dalam HIPRAMUNE® T sehingga dapat meningkatkan respon imun seluler. Selain itu, dapat dipastikan bahwa penggunaan vaksin ini sangat baik
jika ditunjang dengan metode vaksinasi yang tepat dan dilakukan manajemen pascavaksinasi sesuai rekomendasi.
Diptya pun mengatakan bahwa dengan metode precocious, lesi pada usus yang dilihat secara makroskopis maupun mikroskopis dapat berkurang dibandingkan jenis vaksin yang lain, sehingga tidak perlu menggunakan obat antikoksi setelah aplikasi vaksinasi. “Hal tersebut juga berkaitan dengan potensial reproduksi strain Eimeria pada vaksin yang lebih rendah jika dibandingkan dengan parental strain. Penggunaan vaksin dapat mengatasi koksidiosis,” ucap Diptya. Selanjutnya, respon imun terhadap koksidiosis ialah imunitas yang bersifat species-specific dan protective immunity terbentuk setelah terjadi replikasi secara berulang. Protective immunity terbentuk ditandai dengan adanya penurunan produksi oocyst sebagai akibat terjadinya hambatan perkembangan Eimeria di usus.
Kemudian, Diptya pun memberikan tip teknis untuk mengatasi koksidiosis. Ia menyebutkan bahwa dengan vaksinasi yang baik merupakan awal yang baik. Dimana perlu dipastikan pengaplikasian vaksin yang tepat dan benar dengan memperhatikan pengenceran yang baik, keseragaman distribusi, ukuran droplet dan penambahan colouring agent. Selanjutnya, penting untuk menghindari komponen-komponen yang dapat menghambat replikasi dari pemberian vaksinasi tersebut, dengan menghindari obat antikoksi apapun
selama pemeliharaan ayam dan beberapa antibiotik (spiramycin dan tetracycline) yang perlu dihindari 3 minggu awal selama masa replikasi Eimeria yang berasal dari vaksin pada masa hidup unggas.
“Litter management perlu diperhatikan, karena diperlukan media yang optimum untuk replikasi Eimeria yang berasal dari vaksin dan kita juga harus memastikan untuk dapat meminimalisir faktor imunosupresi,” tambah Diptya.
Perlunya ketelitian
Dalam launching EVANT® with HIPRAMUNE® T ini, hadir pula Marc Pages Bosch selaku Senior Manager R&D Biologicals HIPRA. Ia mengingatkan untuk secara teliti melihat gejala klinis koksidiosis dan skor lesi pada ayam di kandang. “Metode skor lesio dapat digunakan untuk menentukan spesies Eimeria yang menginfeksi di kandang dan dapat mendukung diagnosa yang dilakukan,” jelas Marc.
Selanjutnya, dapat dilakukan pemeriksaan Eimeriacheck dengan sampel feses segar dan litter untuk melihat jenis Eimeria yang bereplikasi di kandang, menentukan program vaksinasi, dan mengetahui tingkat infeksi koksidiosis di Kandang. “Dapat pula dilakukan morphometry untuk melihat ukuran oocyst agar dapat menentukan jenis Eimeria yang mengkontaminasi,” terang Marc.
HIPRA menggembangkan metode PCR kuantitatif yang menggunakan sider green sehingga dapat memberikan informasi jumlah setiap spesies tunggal dalam suatu sampel. Melaui plot atau kurva amplifikasi yang diperoleh untuk setiap spesies dapat menginformasikan nilai CT (cycle threshold) untuk mengetahui tingkat materi genetik yang terdeteksi.
“Dengan kombinasi semua alat diagnosa yang berbeda, dapat memberikan gagasan yang sangat baik untuk mengetahui tentang kinerja kandang dan dapat menilai kondisi penyakit di kandang, maka kita dapat menentukan program pengendalian koksidia atau penyakit
lain selanjutnya” jelas Marc.
Vaksinasi lengkap terbaru
Joan Molist Badiola, selaku Corporate Product Manager Coccidiosis Vaccines HIPRA menjelaskan sejarah perkembangan penanganan koksidiosis di dunia pada tahun 50an – 90an. Pada 1952 dikembangkan vaksin pertama yang belum diatenuasi untuk melawan
koksidiosis dan pada 1970 ditemukan koksidiostat baru yang disebut ionofor. Namun ditakutkan terjadi resistensi. Hingga saat ini resistensi terhadap obat antikoksi masih menjadi perhatian serius para peneliti.
“Adanya resistensi ini dapat menyebabkan koksidiosis klinis dan subklinis, memburuknya kesehatan usus dengan munculnya dysbiosis dan akibatnya kerugian ekonomi yang sangat besar, pada tahun 90an pertama kalinya dikembangakan vaksin yang diatenuasi dan hingga saat ini, vaksin koksidiosis HIPRA mengandung Eimeria yang diatenuasi,” jelas Joan.
EVALON®, merupakan vaksin HIPRA untuk proteksi koksidiosis pada unggas berumur panjang telah menjadi langkah maju dalam mengendalikan koksidiosis.
“EVALON® telah diberikan kepada 700 juta unggas, dan tersebar di 65 negara di seluruh dunia dan sekitar 50% pangsa pasar global,”jelas Joan.
Maka dari itu, untuk memberikan tingkat perlindungan yang lebih besar terhadap koksidiosis pada ayam, HIPRA memperkenalkan vaksin terbaru yaitu EVANT® with HIPRAMUNE® T. “Dengan vaksin terbaru kami, vaksinasi koksidiosis 100% dapat dilakukan pada ayam broiler dan layer, dapat melindungi lengkap tanpa harus menggunakan obat antikoksi,” terangnya.
EVANT® telah terbukti menjadi vaksin koksidiosis yang sangat andal dengan 3 fitur unik yang membedakan dengan vaksin lain yang ada dipasaran, yaitu dengan strain Eimeria pilihan yang telah diatenuasi secara precocious sehingga memiliki imunogenisitas yang kuat, dengan bahan inovatif yang termasuk dalam HIPRAMUNE® T yang mampu memodulasi respon imun dan layanan terpercaya yang diberikan oleh HIPRA.
Strain yang diatenuasi secara precocious yang terdapat pada EVANT® dapat bereplikasi lebih awal dan menghasilkan lesi yang lebih ringan dibandingkan dengan strain lapangan atau dibandingkan dengan vaksin yang tidak diatenuasi. Manfaat lain adalah pengurangan
resistensi terhadap obat antikoksi. “Seleksi genetik yang dilakukan dalam atenuasi secara precocious menghasilkan lesi makroskopis dan mikroskopis yang lebih sedikit yang berarti kesehatan usus ayam yang lebih baik mendukung pengembalian investasi vaksin atau ROI.
Juga tidak perlu menggunakan obat antikoksi untuk mengendalikan koksidiosis lapangan atau strain vaksin dan tidak ada wabah koksidiosis yang disebabkan oleh strain vaksin,” jelas Joan.
Keunggulan lain EVANT® yaitu kandungan spesies Eimeria didalamnya termasuk pada spesies yang menyebabkan koksidiosis klinis dan subklinis, seperti Eimeria acervulina, Eimeria maxima, Eimeria mitis, Eimeria praecox dan Eimeria tenella. Adjuvant inovatif dari HIPRA yaitu HIPRAMUNE® T terdapat pada EVALON® dan juga EVANT®, dimana mampu memodulasi respon imun terhadap penyakit koksidiosis dan memiliki warna ungu muda, beraroma vanilla, serta dilengkapi dukungan Smart Vaccination.
Selain itu, HIPRA pun melakukan beberapa percobaan dalam kondisi lapangan berbeda yang dilakukan di Belgia dan Brazil, dengan membandingkan kerja EVANT® dengan vaksin koksidia atau obat antikoksi lainnya. Hasilnya, setelah diberikan EVANT® nilai FCR menjadi
lebih rendah dan dapat mengembalikan kepekaan terhadap obat antikoksi dan memperbaiki kematian mendekati 1,5%. Selanjutnya dilakukan pula percobaan dengan berbagai macam perlakuan, hasilnya dengan penggunaan vaksin EVANT® dapat mencegah munculnya koksidiosis.
Vaksin koksidia yang diproduksi HIPRA telah dilengkapi chip RFID pada labelnya, didukung perangkat aplikasi coarse spray yang dikembangkan secara eksklusif yaitu HIPRASPRAY® dan perangkat lunak khusus yaitu HIPRALINK® VACCINATION untuk mengelola dan melacak proses vaksinasi serta HIPRA DIAGNOS untuk layanan pemeriksaan Laboratorium. ADV
Untung Eko Purnomo – Manager PT Satwa Indo Perkasa
Satu lagi produk HIPRA yang baru diluncurkan, aplikatif dan mudah dimonitor hasilnya, EVANT® memberikan perlindungan yang komprehensif terhadap koksidiosis, membuat kita lebih tenang dalam memelihara ayam, dan tentu akan menurunkan biaya pemakaian antikoksi, selain itu menambah keuntungan bagi peternak yang memakainya. HIPRA selalu selangkah lebih maju dibidangnya.