POULTRYINDONESIA, Surabaya — Masa depan produksi telur berkualitas menjadi topik utama dalam acara Explore The Future 3.0 yang digelar di Morazen Hotel, Surabaya. Mengusung tema “Super Eggs for Super Food”, acara ini menghadirkan para pelaku industri perunggasan dari dalam dan luar negeri, dengan fokus pada inovasi di bidang teknologi hatchery, kesehatan ayam, genetika, serta manajemen awal anak ayam (DOC).
Dalam sambutannya drh. Thomas Ribut Subagyo, Direktur PT Sapta Karya Megah menekankan pentingnya inovasi berkelanjutan untuk memastikan ketersediaan protein hewani yang terjangkau bagi masyarakat. “Kami ingin menjadi partner bahkan keluarga bagi pelaku industri. Tidak boleh setengah-setengah dalam memberikan pelayanan,” ujarnya.
Lebih lanjut, drh. Thomas menyoroti pentingnya teknologi penyortiran telur dan sistem grading terbaru yang menunjang keseragaman dan kesehatan DOC. Ia mengungkapkan bahwa perusahaannya telah meningkatkan kapasitas hatchery secara signifikan untuk menjawab permintaan pasar. “Kami memperluas kapasitas hingga 175% karena permintaan meningkat dan kami merasa bertanggung jawab untuk memenuhinya,” tambahnya.
Isu kualitas DOC turut menjadi fokus dalam sesi berikutnya. drh. Nurmansyah Haryadi selaku Marketing Manager PT Sapta Karya Megah menegaskan pentingnya pengawasan menyeluruh sejak proses penetasan hingga pengiriman ke peternak. “Kami pastikan tim kami ikut mengawal proses dari awal hingga DOC diterima dalam kondisi sehat,” tegasnya.
Dirinya juga menjelaskan bahwa sanitasi kendaraan pengangkut serta pengawasan di peternakan menjadi bagian tak terpisahkan dalam menjaga performa awal anak ayam.
Dari sisi kesehatan unggas, Zone Veterinary Service Manager Asia Pacific, drh. Fauzi Iskandar menyoroti tantangan penyakit saluran pernapasan yang masih menjadi momok di industri layer. Ia menyampaikan perlunya pendekatan yang menyeluruh dalam pengendalian penyakit, termasuk melalui vaksinasi, pemantauan berkala, dan deteksi dini. “Ayam bisa menderita beberapa penyakit sekaligus dalam satu flock. Karena itu, kita tidak bisa fokus pada satu agen saja,” ujarnya.
Dirinya menambahkan, kemajuan teknologi saat ini memungkinkan proses vaksinasi dilakukan dengan lebih presisi dan merata, sekaligus memperkuat aspek biosekuriti di lapangan.
Sementara itu, topik genetika ayam petelur dibahas oleh Mailys Faure, perwakilan dari Hendrix Genetics Global Geneticist. Ia menjelaskan bahwa seleksi genetik bukan proses instan, melainkan hasil dari pendekatan ilmiah jangka panjang. “Kesalahan genetik bisa memperparah kondisi dan butuh waktu hingga tiga tahun untuk memperbaikinya. Dengan dukungan teknologi dan uji lapang yang terukur, ia optimistis bahwa kualitas produksi telur dapat terus ditingkatkan dari generasi ke generasi,” tambahnya.
Sesi penutup diisi oleh Biochem Product Manager Dietary Feed Supplement, Etienne Effenberger menyoroti pentingnya manajemen awal anak ayam sejak hari pertama. Ia menekankan bahwa periode awal kehidupan ayam sangat menentukan performa selanjutnya.
“Minggu pertama adalah masa kritis. Kami perlu memastikan bahwa ayam mendapatkan lingkungan dan asupan yang mendukung adaptasi mereka,” jelasnya.
Acara Explore The Future 3.0 menjadi wadah penting untuk berbagi pengetahuan, teknologi, dan pengalaman dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi industri layer Indonesia dari hulu ke hilir.