Dalam proses pemeliharaan ayam layer, manajemen pemilihan pullet harus benar-benar diperhatikan
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Pullet adalah ayam layer yang dipelihara di umur 0-16 minggu. Namun biasanya sudah bisa dikatakan pullet jika telah memasuki umur 12 minggu. Tahap pemindahan pullet ke kandang baterai biasanya dilakukan ketika ayam berumur 12 sampai 13 minggu. Hal tersebut dilakukan karena ayam layer sudah mulai bertelur saat umur 18 minggu, sehingga ayam diberi waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan kandang yang baru.
Dalam proses pemeliharaan ayam layer, manajemen pemilihan pullet harus benar-benar diperhatikan. Pasalnya, banyak peternak yang mengeluh untuk mencapai standar performa ayam petelur, meskipun telah melakukan berbagai macam usaha ketika masa produksi. Hal ini bisa disebabkan karena sedikitnya peternak yang memberi perhatian lebih terhadap manajemen pemilihan pullet di peternakannya. Terkadang upaya pemeliharaan yang dilakukan hanya fokus pada peningkatan nutrisi dan perbaikan program kesehatan, namun hal ini tidak dapat menjadi solusi apabila kualitas pullet yang didatangkan dari awal sudah rendah.
Dalam proses pengadaan pullet, sebaiknya peternak memperhatikan sistem pemeliharaan pullet pada kandang sebelumnya. Hal ini akan berpengaruh pada proses adaptasi ayam terhadap lingkungan baru. “Apabila kandang kita menggunakan sistem closed house, maka usahakan pullet yang didatangkan juga berasal dari kandang sistem closed house” tegas Bima. Begitu pula sebaliknya, apabila kandang yang digunakan sistem opened house, maka pullet juga sebaiknya didatangkan dari kandang opened house.
Dalam pengadaan pullet, hal lain yang harus diperhatikan adalah recording ayam tersebut. Peternak wajib hukumnya mengetahui recording pada pullet yang didatangkan dari farm sebelumnya. Misalnya pencatatan umur, bobot, bibit, grade, program vaksinasi dan pengobatan, dan lainnya. Apabila recording yang jelas dan rapi telah dipegang, maka peternak dapat melanjutkan program pemeliharaan yang tepat, sehingga performa produksi  yang optimal bisa didapatkan.
Selain itu, jumlah pullet yang didatangkan juga harus diperhatikan. Usahakan dalam pengadaan pullet, peternak hanya mengambil dari 1 sumber kandang. Ketika diwawancara jurnalis Poultry Indonesia, Bima memberikan gambaran bahwa ketika kandang membutuhkan pullet dalam jumlah 500.000 ekor, jangan mengambil 250.000 ekor dari kandang A dan sisanya dari kandang B. Hal ini akan berpengaruh pada keseragaman kualitas pullet yang didatangkan. Keseragaman yang baik dapat diartikan ayam dalam 1 populasi memiliki kesamaan. Kondisi ini menjadi syarat penting agar produksi telur atau henday bisa mencapai puncak. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa, tingkat produktivitas ayam petelur diperhitungkan melalui perbandingan antara jumlah produksi telur yang dihasilkan pada suatu populasi tertentu. Jadi saat keseragaman ayam tidak optimal maka waktu produksi telurnya akan sangat beragam, sehingga puncak produksi akan sulit tercapai.
Faktor lain yang harus diperhatikan dalam pemilihan pullet adalah jarak kandang asal pullet tersebut didatangkan. Sebaiknya, peternak tidak mendatangkan pullet dari daerah yang jaraknya terlalu jauh. Jarak akan berpengaruh pada lama tidaknya waktu pengiriman. Semakin lama proses pengiriman pullet, maka akan semakin tinggi kemungkinan terjadinya stress dan kematian pada ayam saat transportasi. Selain faktor transportasi, jarak yang jauh juga memperbesar kemungkinan adanya perbedaan iklim yang mencolok antara daerah asal dan daerah tujuan. Pada pullet yang berasal dari kandang opened house, perbedaan iklim yang mencolok dapat memperlambat proses adaptasi. Stress transportasi dan adaptasi yang tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan mundurnya umur awal produksi telur, sehingga performa ayam menurun.
Baca Juga: Pullet Menentukan Kesuksesan Beternak Layer
Ketika pullet telah sampai dikandang, ada beberapa langkah yang harus dilakukan oleh peternak. Hal ini berkaitan dengan penanganan stress, proses adaptasi serta efisiensi biaya yang dikeluarkan oleh peternak. Bima menjelaskan pada kasus kandang closed house keranjang pullet harus segera dimasukkan kedalam kandang, agar segera menerima udara dingin dari kandang. Pullet tidak dapat terpapar cahaya matahari terlalu lama. Selain itu, jangan memberikan pakan pada ayam sebelum semua masuk ke kandang. Tahap ini dimaksudkan untuk menghindari debu akibat pakan yang justru membuat sirkulasi udara dalam kandang kurang baik. “Pada fase kedatangan, pullet sebaiknya jangan dulu diberi pakan, cukup diberi air gula untuk sumber energi. Selain itu nyalakan lampu selama 24 jam pertama, untuk proses pengenalan pullet pada lingkungan baru,” tutup Bima.
Dalam proses produksi budi daya ayam petelur, memilih pullet atau memelihara dari DOC layer sebaiknya memang disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi ternak. Jika memiliki lahan yang luas dengan banyak kandang, peternak bisa memilih memelihara DOC.  Keuntungannya, peternak bisa memantau langsung perkembangan ayam dari DOC sampai produksi sesuai dengan program yang diinginkan. Sedangkan jika ingin lebih cepat produksi dan berada di lahan yang terbatas, maka sebaiknya gunakan pullet. Konsekuensinya peternak harus mengeluarkan biaya yang besar di awal, dan harus secara teliti memilih bibit, kualitas, dan manajemen pullet dari farm pullet tersebut.
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2020 dengan judul “Titik Kritis Pemilihan Pullet”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153