POULTRYINDONESIA, Bandung –Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran mengadakan Focus Group Discussion yang bertajuk “International Standard in Animal Science Education” yang diadakan di eL Hotel Braga, Bandung pada Kamis (⅛). Acara ini melibatkan para akademisi, peneliti, praktisi, dan pembuat kebijakan yang berdiskusi dan berbagi pengalaman serta pengetahuan mereka untuk meningkatkan kualitas pendidikan di bidang ilmu peternakan sesuai dengan standar internasional.
Sambutan disampaikan oleh Dr. Ir. Rahmat Hidayat, S.Pt., M.Si., IPM selaku Dekan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Ia menyampaikan bahwa selama ini prinsip pendidikan dalam menyusun kurikulum adalah ‘half empty glass’ (gelas setengah kosong) dimana dosen cenderung fokus pada kekurangan, kelemahan, atau kesalahan mahasiswa daripada memperhatikan pencapaian dan potensi mereka. Ini bisa mengakibatkan siswa merasa tidak dihargai, tidak termotivasi, dan berpotensi menghambat perkembangan mereka.
“Sebaliknya, kita harus mulai pendekatan ‘half-full glass’ (gelas setengah penuh) yang lebih optimistis dan berfokus pada kekuatan, kemampuan, dan potensi positif mahasiswa. Prinsip ini mendorong mahasiswa untuk berkembang dan percaya diri dalam belajar, karena mereka merasa didukung dan dihargai,” jelasnya.
Ia pun menambahkan bahwa industri itu terus bertransformasi, maka dari itu akademisi harus mendengarkan masukan dari berbagai pihak terutama praktisi yang sudah berkecimpung dalam industri peternakan secara langsung. Ia berharap dengan adanya diskusi, para pembicara dapat terbuka mengenai karakter mahasiswa yang dibutuhkan industri sehingga mengurangi gap antara akademisi dan praktisi.
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Bernhard Heibl selaku perwakilan University of Veterinary Medicine menjelaskan bahwa terdapat korelasi antara animal welfare dengan hubungan manusia dengan hewan sehingga kurikulum yang dipersiapkan haruslah berorientasi pada perkembangan industri peternakan.
“Kemampuan komunikasi sangat diperlukan dalam pekerjaan, kita banyak menemukan mahasiswa yang pintar tetapi sulit untuk berkomunikasi. Lulusan perguruan tinggi harus dibekali dengan pengetahuan mengenai industri dan teknologi terbaru agar mereka dapat bertahan dan berkarya dalam industri peternakan,” tegas Bernhard.
Ia memberikan masukan kepada Universitas Padjadjaran untuk mengikuti standar internasional dalam menyusun kurikulum yaitu prinsip dan manfaat Outcome Based Education (OBE), serta cara mengukur hasil belajar siswa berdasarkan OBE. Kurikulum ini berfokus pada hasil belajar yang diinginkan dan bagaimana mengintegrasikan standar internasional ke dalam kurikulum OBE. Evaluasi dan penilaian efektivitas kurikulum berbasis hasil seperti ini juga menjadi penting, termasuk pengembangan alat penilaian yang sesuai. 
“Selain itu, pentingnya kolaborasi antar institusi pendidikan di berbagai negara untuk mencapai standar internasional, serta program pertukaran mahasiswa dan staf akademik untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian di bidang ilmu peternakan. Dalam FGD nanti dapat dibahas lebih lanjut tantangan yang mungkin dihadapi dalam mengimplementasikan standar internasional dan kurikulum berbasis hasil, serta membahas solusi dan praktik terbaik untuk mengatasi tantangan.
Dalam FGD Minat Sosial dan Ekonomi Peternakan, I Wayan Suadnyana, S.Pt menyampaikan bahwa lulusan peternakan harus disertai kemampuan untuk berwirausaha dan menciptakan lapangan pekerjaan bukan hanya menjadi pekerja. Maka sangat penting peran perguruan tinggi untuk mendukung hal ini.
Selanjutnya Muhamad Domi Sattyananda, S.Pt memaparkan pentingnya universitas untuk menyesuaikan diri dan lebih terbuka dalam mendidik generasi Z yang dalam praktiknya lebih melek teknologi dan kreatif, ia berpendapat bahwa universitas harus lebih terbuka dan fleksibel dalam menyusun kurikulum mengikuti perkembangan zaman yang ada.
Dalam kesempatan ini juga para dosen dan praktisi mengadakan diskusi yang terbagi kedalam beberapa ruangan membahas lebih lanjut terkait beberapa tantangan industri dan bagaimana cara mempersiapkan kurikulum terbaik agar perguruan tinggi mampu mencetak lulusan yang berkualitas dan berdaya saing tinggi.