Konferensi Internasional Fapet Unsoed yang diselenggarakan secara daring
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Dalam mendukung kemajuan ilmu pengetahuan bidang peternakan, Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Fapet Unsoed) tetap berusaha berkarya melalui konferensi ilmiah internasional di masa pandemi COVID-19 seperti sekarang.
Moch. Sugiarto, Ph.D selaku ketua panitia acara mengungkapkan kegiatan Seminar Internasional The 2nd AnSTC dilaksanakan secara daring dengan media Zoom Meeting yang diikuti oleh ratusan peserta dari dalam maupun luar negeri seperti Zimbabwe, Australia, Selandia Baru, Jepang, Thailand, Vietnam, Malaysia dan lain-lain. Acara digelar selama dua hari yakni dari tanggal 4-5 November 2020.
Sugiarto menambahkan, konferensi internasional yang bertemakan “Advancing Animal Production Systems for Rural Development and Environment Sustainability” tersebut bertujuan untuk mendukung peningkatan produksi ternak untuk mengatasi masalah kemiskinan dan juga ketahanan pangan di negara tropis, meningkatkan kolaborasi antara akademisi, bisnis, dan pemerintah, mengembangkan jaringan peneliti internasional di bidang teknologi ternak dan pangan serta untuk menjalin kerja sama dalam publikasi internasional.
“Kami menghadirkan sejumlah narasumber kunci dari berbagai negara yakni Assoc. Prof. Henny Akit, Ph.D (University Putra Malaysia, Malaysia), Assoc. Prof. Dr. Yanin Opatpatanakit (Maejo University, Thailand), Assoc. Prof. Bibin Bintang Andriana, Ph.D. (Kwansei Gakuin University, Jepang) dan Prof. Vu Dinh Ton, Ph.D. (Vietnam National University of Agriculture, Vietnam),” ujarnya di Purwokerto, Jawa Tengah, Rabu (4/11).
Assoc. Prof. Henny Akit, Ph.D selaku peneliti dari University Putra Malaysia, yang dalam konferensi tersebut membawakan materi seputar Black Soldier Fly (lalat tantara hitam) mengatakan bahwa maggot (larva BSF) bisa digunakan sebagai sumber protein dalam budi daya peternakan ayam pedaging (broiler).
Baca Juga: Kafapet Unsoed Gelar Halalbihal Virtual
Berdasarkan keterangannya, larva BSF mudah dikembangkan karena sangat mudah berkembang biak di media sampah organik seperti kotoran ayam, limbah sisa makanan, kotoran sapi, maupun limbah sayur mayur.
“Dalam satu kali bertelur, BSF mampu menghasilkan sekitar 500-900 telur. Telur tersebut akan bertahan sekitar 4 harian. Setelah menetas menjadi larva, usia hidup larva berkisar antara 13-18 hari. Mereka kemudian memasuki fase pra-kepompong selama 7 hari, fase kepompong selama 10 hari dan terakhir menjadi BSF dengan usia hidup antara 5-8 hari,” ujar Henny Akit.
Henny Akit berujar, berdasarkan hasil penelitiannya, larva BSF (maggot) yang dikembangkan melalui media kotoran kuda menghasilkan kesimpulan yang baik karena mampu meningkatkan bobot badan pada ayam pedaging (broiler).
“Larva BSF yang dihasilkan dari media limbah sayur juga mampu meningkatkan kesehatan usus pada broiler. Oleh karena itu, pemanfaatan larva BSF untuk pakan broiler bisa dikatakan aman untuk manusia maupun lingkungan,” jelasnya.