Memelihara ayam hias merupakan salah satu kegiatan hobi yang bermanfaat, bahkan dari sisi psikologi maupun kesehatan, memelihara hewan mampu meningkatkan berbagai maanfaat positif. Memelihara hewan juga dapat membuat pemilik menjadi lebih aktif bergerak untuk berinteraksi dengan hewan peliharaannya, sehingga dengan adanya aktivitas memelihara hewan bisa membuat badan lebih sehat.
Ayam hias merupakan sebutan untuk ayam yang memiliki keunikan, keunggulan atau kelebihan, juga eksotisme tersendiri, baik jika dilihat dari fisik atau tampilan, perilaku, hingga suara yang dikeluarkan. Sebagian orang menyebut ayam hias ini dengan sebutan ayam hobi, ayam tangkas, atau juga ayam kontes. Di luar negeri sendiri ayam hias ini biasanya disebut dengan fancy chicken atau ornamental chicken.
Memelihara hewan merupakan kegiatan yang positif yang tidak harnya digemari oleh kaum pria, akan tetapi juga diminati oleh wanita. Seperti Fenny yang merupakan salah satu wanita penghobi ayam hias asal Bandung ini mengaku tertarik untuk memelihara ayam hias semenjak pandemi. Berawal dari memelihara ayam besar yaitu ayam Brahma, saat ini ia memiliki ribuan ekor koleksi ayam yang ia pelihara sendiri. “Ketika pandemi Covid-19 selama tiga tahun salon agak sepi, akhirnya untuk mengisi waktu luang saya mencari kegiatan hobi diluar bisnis utama saya. Akhirnya saya memutuskan untuk memelihara ayam hias sebagai hobi, lalu iseng – iseng mengikuti kontes dan akhirnya menang. Hal itulah yang membuat saya ketagihan dengan hobi ini sampai akhirnya saya terus menambah koleksi dan melakukan pembibitan sendiri,” ujar Fenny.
Pemilik dari Damour Farm ini sebetulnya memiliki bisnis sendiri yaitu bisnis salon kecantikan, tetapi semenjak pandemi Covid – 19 melanda dunia, ia memutuskan untuk mencari kegiatan yang posisit dan akhirnya ia memutuskan untuk menekuni hobi ayam hias dari berbagai jenis. “Sebetulnya saya itu aslinya berbisnis salon kecantikan hanya saja ketika masuk ke hobi ayam hias, saya jadi punya banyak koleksi ayam dari mulai American Silkie, Poland, Cochin, Brahma, Cemani, dan masih banyak koleksi saya yang lainnya. Sebenarnya jumlahnya tidak pernah saya hitung, tetapi sepertinya ada sampai seribu ekor. Koleksi ayam pertama saya adalah ayam brahma karena saya suka dengan ayam dengan ukuran besar.” ungkap Fenny.
Pada masa awal – awal ia menekuni hobi ayam hias, memang untuk satu ekor ayam hias sedang tinggi, akan tetapi karena ia menyukai ayam hias maka ia tidak masalah dengan hal tersebut. Selain memelihara, Fenny juga sering mengunjungi kegiatan kontes ayam hias yang terselenggara di berbagai daerah. “Kala itu saat pandemi Covid-19, harga ayam remaja saja cukup mahal per ekornya, tapi karena saya senang dengan hobi ayam hias jadi tidak mengapa. Pada masa awal – awal saya memelihara ayam itu sering datang ke kontes, namun karena ayam saya itu masih belum diizinkan untuk mengikuti kontes karena belum masuk di kriteria kontes. Akhirnya setelah saya pelihara ayam itu sampai dewasa, mencoba mengikuti berbagai kontes dan akhirnya mendapat piala. Jujur saya juga awalnya tidak menyangka kalau saya akan menang.”
Pengalaman berkesan ketika ia memelihara ayam hias adalah ketika momen Fenny mengikuti kontes di Internasional di Thailand. Kala itu, memenag ia mengakui bahwa untuk kontes jenis ayam frizzle dan silky frizzle belum ada di Indonesia, jadi ia memutuskan untuk mengikuti kontes di Thailand sekaligus ingin melihat langsung seperti apa kontes yang ada di luar negeri. “Hal yang paling berkesan ketika saya memelihara ayam hias itu ketika saya mengikuti kontes ke Thailand. Ketika saya mengikuti kontes itu sangat berkesan sekali dan seru. Jujur saya juga tidak menyangka dan tidak terbayangkan sebelumnya kalau sampai mendapatkan gelar juara. Memang saya berharap untuk bisa memboyong salah satu saja piala dari Thailand, tapi ternyata akhirnya ayam saya mampu membawa pulang banyak piala ke Indonesia, sagat tidak menyangka sekali. Jadi kenapa saya bawa ayam itu ke Thailand karena sengaja mengambil kategori ayam yang belum ada kontesnya di Indonesia,” Kenang Fenny.
Berdasarkan pengalaman Fenny mengikuti kontes ayam hias di luar negeri, ia mendapat pandangan baru terkait dengan kontes ayam hias. Dimana memang terdapat perbedaan dari ayam yang dipelihara di Indonesia dan di Thailand. “Menurut saya, memang ada sedikit perbedaan dari ayam yang dipelihara di Thailand, dan ayam yang dipelihara di Indonesia. Contohnya ayam Poland yang dipelihara di Indonesia dan di Thailand itu saya akui lebih bagus yang dipelihara di Indonesia.”
Ketika mengikuti kontes, Fenny mengakui bahwa rata – rata para penghobi itu mengejar piala best of the best. Walaupun para penghobi telah mendapatkan banyak piala, namun piala best of the best merupakan piala tertinggi di kalangan para penghobi sehingga sangat layak untuk diperjuangkan ketika para penghobi mengikuti kontes. “Memang ketika mengikuti kontes saya banyak sekali memenangkan piala dari berbagai kategori, hanya saja masih belum bisa menembus kategori best of the best. Koleksi piala saya dari awal mengikuti kontes sampai saat ini berkisar antara 30 – 40 piala dari berbagai macam kategori. Pada akhirnya ketika kontes terakhir di Indonesian Fowl Show yang terselenggara di Kiara Artha Park Desember silam, ayam saya mendapatkan penghargaan kategori best of the best,” papar Fenny.
Menurut Fenny, secara personal dengan diraihnya penghargaan tersebut berarti kualitas ayam yang ia pelihara memang sudah meningkat artinya konsisten dalam memelihara ayam dengan kualitas yang tinggi. Sehingga apa yang sudah ia berikan kepada ayam hias yang ia pelihara merupakan perlakuan terbaik. “Saya juga sering berbicara kepada tim saya supaya terus optimis dan bekerja dengan sepenuh hati supaya bisa mendapatkan hasil yang terbaik suatu saat nanti. Konsistensi itu juga yang membuat saya mendapatkan juara dari kategori mini Cochin dari Ratu Thailand. Kenapa saya bawa ayam Cochin dan mengikuti kontes itu ke Thailand karena memang untuk kategori mini Cochin belum ada kala itu di Indonesia. Maka dari itu, saya mencoba untuk mengikuti kontes di Thailand sekaligus ingin melihat juga seperti apa kualitas ayam – ayam yang ada di Thailand.”
Fenny juga membagikan pengalaman dukanya ketika memeilhara ayam hias. Perasaan duka ketika memelihara ayam hias itu tentu saat pemilik sudah menyayangi ayam yang dipelihara, sudah nurut dengan selaku pemilik ayam, ternyata dia mati padahal tanpa ada terlihat gejala serangan penyakit. “Maka dari itu kalau kita pelihara ayam ketika sudah dipelihara dengan sepenuh hati dan bisa berumur panjang itu ya harus kita syukuri, dan ketika ayam yang kita sayangi itu mati secara tiba – tiba, berarti itu memang sudah kehendak Tuhan. Yang terpenting adalah bagaimana kita selaku penghobi memberikan yang terbaik kepada ayam yang kita pelihara, dari mulai perawatan yang terbaik, pakan yang terbaik, dan semua hal yang bisa diberikan kepada ayam itu sebisa mungkin adalah yang terbaik,” pesan Fenny kepada para penghobi.
Terakhir Fenny berharap agar lebih banyak lagi generasi muda yang terjun menjadikan ayam hias sebagai hobi sekaligus peliharaan dirumah. Pada dasarnya, ayam hias itu setara dengan hewan peliharaan lainnya seperti anjing dan kucing, sama sama bisa memberikan dampak positif bagi yang memelihara. “Harapan saya saat ini semoga anak – anak muda sekarang bisa lebih banyak lagi yang memelihara ayam hias, karena sebetulnya memelihara ayam hias itu menyenangkan sama dengan hewan peliharaan lainnya,” pungkas Fenny.
Artikel ini merupakan rubrik Profil pada majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com
Menyukai ini:
Suka Memuat...