Webinar hadapi tantangan pandemi di perunggasan yang diselenggarakan oleh FKH Unair
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Berbagai Tantangan hadir di era pandemi COVID-19, tak terkecuali dalam sektor perunggasan. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga menyelenggarakan kuliah tamu dengan tema ”Challenge of Poultry Disease and Production in Pandemic Era” secara virtual via Zoom, Kamis (2/9). Acara ini dihadiri oleh Dr. Nik Mohd Faiz Bin Nik Mohd Azmi dari Fakultas Perubatan Hewan Universiti Putra Malaysia dan Prof. Dr. Hafez M. Hafez, BVSc., M.VSc. dari Institute of Poultry Disease Freie University, Jerman.
Baca juga : Tantangan dan Peluang Perunggasan Indonesia Paska Pandemi
Acara ini juga dihadiri oleh Prof. Dr. Mirni Lamid, drh., MP. selaku Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Dalam sambutannya, Mirni menyampaikan program kelas tamu internasional ini diselenggarakan untuk mengetahui perkembangan penyakit pada unggas di masa pandemi. Peserta yang didominasi oleh mahasiswa dan dosen diharapkan dapat mendapatkan ilmu dari para ahli.
”Acara ini merupakan tahap pertama kerja sama dengan Freie University dan juga kolaborasi dengan FKH Universiti Putra Malaysia. Kami berharap kolaborasi ini tidak hanya sampai disini saja dan acara ini dapat memperkuat Kerja sama antar universitas” tutur Mirni.
Dalam presentasinya, Dr. Nik Mohd Faiz memaparkan materi mengenai Marek’s Disease. Seiring berjalannya waktu, populasi unggas meningkat dan kejadian Marek’s Disease pun ikut meningkat.
”MD is an evolving problem. Ada beberapa serotipe dari penyakit ini, namun hanya serotipe 1 yg menyebabkan terjadinya penyakit pada ayam. Virus dari penyakit ini bereplikasi di saluran pernapasan. Karakteristik khusus dari penyakit ini adalah terjadinya pembesaran syaraf perifer. Di beberapa kasus, sering terdapat tumor, namun jika dilihat dari tumor saja, tidak cukup untuk meneguhkan diagnosa MD. Beda hal Jika tumor ditemukan di hepar, limpa, ginjal, testis, dan ovarium. Jika terjadi lesi pada kulit, maka patut dicurigai terpapar MD. Selain itu, lesi pada mata juga dapat menjadi salah satu tandanya,” jelas Nik.
Nik juga menjelaskan tentang tantangan dalam mendiagnosa penyakit ini. Salah satunya adalah banyaknya virus lain yang dapat menginduksi tumor. Namun, tumor yang tiba-tiba terjadi dan menyebabkan lesi pada kulit, patut dicurigai sebagai MD. Penyakit ini dapat dicegah dengan vaksinasi. Namun, tantangan lainnya adalah saat terjadi kegagalan imunisasi. Kegagalan ini bisa disebabkan oleh tempat penyimpanan yang kurang baik, administrasi vaksin, respon imun dari unggas itu sendiri, dan virulensi dari MDV yang menyerang.
Hafez dalam presentasinya memaparkan tentang pengaruh COVID-19 pada produksi unggas. Tahapan produksi unggas meliputi flok unggas, hatchery, breeder flok, hingga DOC. Produk hasil unggas yang didapatkan dapat berupa telur dan karkas.
”Tujuan dari industri perunggasan adalah meningkatkan produksi, menghasilkan pangan yang aman bagi konsumen dan lingkungan, dengan biaya produksi yang wajar. ”Ayam tidak rentan terhadap infeksi intranasal yang disebabkan oleh virus COVID-19, namun pandemi ini jelas mempengaruhi flow komoditas agrikultur dari produsen ke konsumen,” ujar Hafez.
Virus COVID-19 dapat tersebar dengan mudah di dalam ruangan minim ventilasi. Tingginya konsentrasi debu dalam kandang berpengaruh pada meningkatnya kejadian penyakit pernapasan pada anak kandang. Hafez juga menginformasikan jika ada rumor yang beredar bahwa telur dan daging ayam ikut serta dalam penyebaran virus COVID-19, sehingga terjadi penurunan drastis pada produksi. Di Indonesia sendiri, pengaruh dari pandemi COVID-19 pada perunggasan adalah adanya pengurangan DOC sebanyak 30-45 persen, produksi pakan unggas 35-40 persen, dan penjualan obat sebanyak 40-50 persen.
”Akibat pandemi COVID-19, para produsen daging kehilangan pasarnya, sehingga berdampak pada berkurangnya pemasukan. Selain itu, pandemi juga meningkatkan kekhawatiran masyarakat akan pangan asal hewan dan ini mengganggu rantai suplai makanan. Untuk memastikan produksi di industri perunggasan terus berlanjut, makan dibutuhkan kerja sama dengan berbagai pihak seperti stockholders, peternak, dokter hewan, dan pemerintah,” pungkas Hafez.