POULTRYINDONESIA, Jakarta – Persaingan pada industri perunggasan begitu ketat. Meskipun demikian rupanya masih ada celah yang luar biasa untuk dimanfaatkan. Hal ini seperti disampaikan oleh Ali Mas’adi, Chief Executive Officer (CEO) PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMU) dalam sebuah Talkshow Xtra Ordinary yang ada di Channel Youtube Bahana Sekuritas pada Selasa, (8/3).
Baca juga : Fluktuasi Harga Telur Terjadi, Pemangku Kepentingan Diskusi Mencari Solusi
Menurut Ali, harga broiler fluktuasinya sangat luar biasa. Sehingga pihaknya membaca sebagai peluang yang luar biasa pula, “Saat harga broiler rendah, maka kami akan melakukan setting full kapasitas untuk rumah potong, dan ketika harga broiler tinggi, maka kami hanya memotong dari on farm kami saja,” jelasnya.
Ali mengaku bahwa revenue driver dari perusahaan yang ia pimpin adalah dari penjualan karkas sebesar 80 persen. Karena itu, fokus yang sedang dikembangkan adalah di hilir, yakni di downstreamnya.”Kami sudah memiliki fasilitas dari upstream sampai downstream. Namun, fokus kami (saat ini) di downstreamnya,” tegasnya.
Sementara itu Wahyu Andi Susilo, Chief Financial & Human Capital Officer PT Widodo Makmur Unggas Tbk,mengungkapkan bahwa  sebagian besar perusahaan perunggasan yang lain di support oleh revenue pakan atau hulunya. Namun, untuk WMU lebih pada hilir, atau downstream.
“Kami mendesain pengembangan fasilitas di downstream, seperti pengembangan slaughterhouse yang menghasilkan karkas ayam, ayam parting, dan produk unggas lainnya yang menjadi sumber pendapatan di WMU,” tegasnya.
Ia mengaku bahwa pemilihan pada fokus pada hilir terbilang lebih stabil, bila dibandingkan dengan hulu seperti pakan, doc dan broiler yang harganya sangat fluktuatif.
“Kami memilih pada hilir atau downstream karena lebih stabil bahkan cenderung naik. Harga karkas pada tahun 2011 sebesar 25 ribu sedang untuk tahun 2021 sudah mencapai 35 ribu,” pungkasnya.