POULTRYINDONESIA, Jakarta – Pangan merupakan kebutuhan vital yang sangat penting yang tidak bisa ditunda penyediaannya. Saat ini pangan selalu dihubungkan utamanya dengan bidang pertanian. Kondisi di Indonesia, paradigma terhadap pertanian ini konotasinya merupakan sektor terbelakang.  Tidak banyak anak muda yang tertarik terjun di bidang pertanian. Oleh karena itu Forbil Institute tergerak menyelenggarakan Webinar Inovasi Sosial : Optimisme Memajukan Sektor Pangan dan Pertanian Indonesia serta Soft Launching Sekolah Inovasi Pangan melalui aplikasi zoom, Minggu (14/11).
Baca juga : Fapet Unsoed Sukses Menyelenggarakan “ASIC”
Prof. Dr. Erwan Agus Purwanto, M.Si.,  selaku Akademisi UGM menyampaikan bahwa kegiatan ini Forbil Institute sebagai salah satu lembaga yang consern mengenai pangan berharap generasi muda kedepannya dapat memberikan perhatian terhadap urusan pangan dan berkontribusi dalam pengembangan bidang pertanian dengan penggunaan teknologi sehingga pangan Indonesia menjadi maju.
“Forbil Institute memiliki komitmen dan semangat memajukan pangan Indonesia dan melalui start up Sekolah Inovasi Pangan yang diluncurkan hari ini bisa berkembang dan  menjadi kontribusi kecil kami terhadap kemajuan pangan di Indonesia,” tutur Erwan dalam sambutannya.
Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., selaku Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM dalam paparannya menyampaikan pada tahun 2018 pelaku usaha pangan 99,51% dilakukan pelaku  small-micro (UMKM). Permasalahan UMKM pangan saat ini yakni, higienitas dan sanitasi masih lemah, kurangnya pemahaman terhadap regulasi dan penggunaan bahan makanan tambahan, penguasaan teknologi pengolahan dan GMP yang masih lemah, tampilan dan kemasan yang masih sederhana, serta kurangnya branding, imaging dan promosi produk.
“Untuk meningkatkan potensi UMKM pangan Indonesia yakni, perlunya kolaborasi dengan berbagai pihak, peningkatan pengetahuan dan keterampilan teknologi pengolahan pangan, digitalisasi, kreativitas dan inovasi serta jejaring dan informasi,” tegas Eni.
Selain itu hadir pula, Dennis Guido selaku Food Technologist dan Content Creator @naktekpang, memaparkan bahwa di era industri revolusi 4.0 perkembangan teknologi sangat cepat sekali, jika kita tidak dapat mengikutinya bisa semakin ketinggalan. Oleh karena itu butuh anak muda yang melek teknologi untuk mengikuti tren penerapan teknologi khususnya di sektor pertanian atau pangan.
“Peran aktif anak muda sangat dibutuhkan dalam rangka mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan hingga tahun 2030. Saya berharap lebih banyak lagi anak muda yang berperan di sektor pertanian. Anak muda saat ini diharapkan terus mencari potensi yang bisa kita gali dan kembangkan supaya memajukan sektor pertanian ini,” tegas Dennis.
Di kesempatan yang sama, Ismiyati selaku Founder dan CEO CV Global Net  Super Roti Semarang, berbagi pengalaman bagaimana cara mengembangkan UMKM, yaitu: semangat untuk belanja yang tidak ada batasan usia, belajar bisa dari mana saja, dan kepada siapa saja. Selain itu kolaborasi dari hulu hingga hilir yang tidak hanya sekedar berkompetisi dan mengejar profit dengan prinsip saling menyadari dan simbiosis mutualisme danyang terpenting adalah lakukan ATM BCA (Amati Tiru Modifikasi Bikin Cepat Aksi).
“Dalam pengembangan UMKM penting untuk berinovasi, memiliki unique selling point yang membedakan dengan bisnis lain yang sejenis, serta meningkatkan nilai potensi lokal agar tidak ketergantungan dengan bahan baku impor dan harga bahan lebih stabil,” papar Ismayati.
Acara puncak soft launching Sekolah Inovasi Pakan yang dilakukan oleh An Naafi Yulianti Lathifah selaku Kepala Sekolah Inovasi Pangan yang dalam paparannya menjelaskan bahwa Sekolah Inovasi Pakan merupakan platform edutech di bidang pangan dan pertanian, dimana kami memberikan kesempatan belajar langsung bagi teman-teman yang memiliki minat untuk mengembangkan usaha dan inovasi di sektor pangan dan pertanian untuk belajar dan bertemu langsung dengan para pelaku UMKM dan pelaku inovasi.
“Keuntungan bergabung di Sekolah Inovasi Pangan yakni belajar langsung dari pengalaman inovator pangan, belajar kapan saja dan dimana saja, berkesempatan berkolaborasi dengan peserta di seluruh Indonesia untuk mengembangkan kolaborasi, membership bisnis pangan serta mengembangkan potensi usaha sosial di bidang pangan,” papar Naafi.