Oleh: Prof. Dr. Ir. Budi Tangendjaja*
Formula pakan ternak seringkali dianggap rahasia sehingga tidak boleh diketahui oleh orang luar, bahkan beberapa pabrik pakan maupun peternak yang membuat pakan sendiri (self-mixing) seringkali tidak mau mengubah formula pakan yang sudah dianggap baik di lapangan. Perubahan formula seringkali menimbulkan risiko terjadinya keluhan pelanggan apabila suatu formula, yang tadinya sudah diterima tanpa keluhan tetapi kemudian diubah. Banyak ditemukan pada peternakan self-mixing petelur yang tidak mau mengubah formula sampai 6 bulan bahkan 1 tahun.
Formula Pakan harus dibuat tepat pada waktunya sesuai dengan bahan baku yang digunakan dan kondisi ternak di lapangan.
Dengan perkembangan teknologi, formula pakan bukanlah hal yang sangat rahasia lagi karena formula pakan hanyalah perhitungan matematis yang dapat dikerjakan sangat cepat dengan bantuan program komputer. Sekarang dengan perkembangan teknologi, formulasi pakan dapat dibuat dengan hitungan detik atau instan dan program formulasi dapat dikaitkan dengan program lainnya dalam suatu bisnis di perusahaan. Persoalannya adalah kapan saatnya mengubah formula pakan untuk dibuat ransum?
Tulisan ini mengemukakan formulasi pakan pada waktunya (In time Feed Formulation) dengan pemikiran bahwa formula pakan harus disusun pada waktunya. Maksud pernyataan pada waktunya adalah bahwa formula pakan disusun ketika bahan baku pakan tersedia untuk dibuat ransum sehingga hitungan dalam formulasi pakan sesuai dengan kenyataan bahan baku yang akan digunakan.
Perlu dikemukakan disini bahwa teknik formulasi pakan hanyalah perhitungan matematis dalam menyusun ransum agar dihasilkan ransum dengan biaya terendah sesuai dengan batasan yang dimasukkan di dalam perhitungannya. Teknik matematis yang digunakan umumnya adalah Program Linier (Linear Programming).
Dalam prinsip program linier, asumsi yang digunakan adalah linier dalam arti zat gizi yang dihitung dalam ransum adalah penjumlahan dari zat gizi yang terdapat dalam bahan baku pakan yang ada di dalam ransum dan tidak ada interaksi antara bahan pakan yang satu dengan yang lain. Formula dinyatakan dalam persentasi yang totalnya sebesar 100% sehingga untuk membuat ransum dalam 1 batch (adukan) dihitung tergantung kapasitas adukan.

Agar formulasi pakan dapat dikerjakan oleh komputer, maka diperlukan berbagai data yang harus dimasukkan di dalamnya. Jangan berfikir bahwa komputer yang akan memberikan data, tetapi formulator yang harus meng input data yang diperlukan ke dalam program formulasi. Program formulasi hanya menghitungkan formula dengan harga terendah berdasarkan data yang dimasukkan ke dalam program. Kalau data yang dimasukkan salah, maka akan dihasilkan formula pakan yang keliru.
Untuk dapat melakukan formulasi dengan benar maka perusahaan harus memperlengakapi dengan sistim pengendalian mutu terhadap bahan baku yang akan digunakan. Teknik pengukuran kualitas bahan baku pakan dapat berupa fisik, kimia maupun biologis. Sebagai contoh, pengukuran fisik adalah mencium bau jagung yang diterima dari pemasok. Apabila tercium bau asam, maka jagung tersebut mungkin tidak layak untuk dibuat pakan ternak.
Umumnya, produsen pakan atau peternak akan menganalisis kandungan proksimat dari bahan pakan, tetapi pemeriksaan proksimat saja tidak cukup untuk menentukan kandungan gizi bahan pakan yang diperlukan dalam formulasi. Dalam formulasi pakan saat ini data  kandungan gizi yang disiapkan harus mencakup seperti kecernaan asam amino, kandungan energi metabolis dan ketersediaan zat gizi pada ternak. Untuk mendapatkan nilai kecernaan, penilaian secara biologis harus dilakukan terhadap ternaknya, tidak cukup hanya dari analisis kimia.
Memang pengukuran kualitas secara in-vitro atau in sacco pada ruminan dapat memberikan gambaran kualitas bahan pakan, tetapi masih belum cukup untuk membuat formula ransum. Untuk melakukan semua analisis diatas diperlukan biaya dan waktu yang tidak sedikit, dan kadang-kadang tidak mungkin dilakukan sendiri bahan di Indonesia, sehingga beberapa analisis harus dikerjakan di luar negeri.
Dengan berkembangnya teknologi Near Infrared Reflectance (NIR) spectroscopy, dalam satu dekade terakhir ini, maka pengukuran kandungan gizi dalam bahan baku pakan dapat dikerjakan secara cepat, mudah, tanpa merusak bahan pakan dan penggunaan bahan kimia. Pengukuran dengan NIR menggunakan prinsip penyinaran gelombang dekat infra merah kepada bahan pakan dan refleksinya diterima oleh optick yang dapat membaca absorbansinya.
Dengan melakukan penyinaran pada berbagai panjang gelombang maka akan didapatkan suatu spektrum yang dapat digunakan untuk mengukur kandungan gizi pakan. Setiap senyawa kimia organik dalam bahan pakan memberikan karakteristik spektrum yang dapat dikaitkan dengan senyawa gizi baik jenis gizi maupun jumlahnya.
Data kandungan gizi yang dihasilkan dari NIR dapat dengan mudah dipindahkan kedalam program formulasi pakan melalui program pengelolaan data. Artinya hasil analisis NIR atau analisis lainya dapat diolah lebih lanjut untuk digunakan dalam formulasi pakan.
Kemampuan NIR yang sangat cepat dalam menghasilkan data kandungan gizi secara lengkap, maka formulasi pakan dapat dikerjakan sesuai dengan keadaan bahan baku di lapangan. Artinya bahan baku pakan yang akan dibuat ransum dapat dianalisis lebih dahulu dan hasil pengukurannya dapat digunakan langsung untuk memformulasikan pakan. Dengan pemanfaatan Internet of Things (IoT), maka formulasi pakan dapat dikerjakan pada waktunya. *Konsultan Nutrisi dan Teknologi Pakan USSEC

 

Artikel ini merupakan bagian dari Majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2022 dengan judul “Pentingnya Kesehatan Pencernaan Unggas”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153