Oleh : Budi Tangendjaja., Ph.D*
Pencemaran nitrogen dan fosfor
Pencemaran nitrogen (N) dan fosfor (P) menjadi masalah serius di negara-negara dengan kepadatan ternak yang tinggi. Pengeluaran N dan P dari ekskreta (kotoran dan kencing) dapat menimbulkan pencemaran lingkungan ketika kotoran digunakan untuk pupuk tanaman dan disebarkan di lapangan. Kandungan yang tinggi dari N dan P memang bermanfaat sebagai sumber pupuk bagi tanaman. Tetapi jika pemberian N dan P berlebihan, maka kelebihan tersebut dapat terbawa oleh air hujan dan dapat masuk ke perairan, sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan, misalnya kemunculan ganggang (algae) yang dapat merusak lingkungan.

Umumnya nilai gizi ransum masih ditujukan untuk menghasilkan performa produksi yang maksimal atau menghasilkan biaya termurah dalam menghasilkan daging, susu maupun telur. Nutrisionis di Indonesia masih belum banyak mengenal mengenai pengaruh pakan terhadap lingkungan. Berlainan di negara maju terutama di Eropa yang jumlah ternak atau kepadatan ternak per satuan luas lahan menjadi sangat tinggi sehingga pemberian pakan ternak harus memperhitungkan pengaruhnya terhadap lingkungan.

Hal ini sudah lama terjadi di waduk Cirata atau Saguling, dimana petani memelihara ikan dalam jaring apung yang melebihi dari daya dukungnya, sehingga menimbulkan pencemaran ditandai kejadian “upwelling” (pemutar balikan air) yang menimbulkan kematian ikan dalam jumlah besar karena ikan menderita kekurangan oksigen dalam air. Lebih dari 10.000 ton pakan ikan dikirim ke waduk tersebut setiap bulannya. Apabila nutrisi yang dapat diserap oleh ikan hanya 80% saja, maka ada sisa nutrisi sebesar 20% atau 2.000 ton setiap bulannya masuk ke dalam air waduk yang dapat menimbulkan “eutrophication”, sehingga kadar oksigen dalam air menurun.
Di antara pengeluaran senyawa dalam kotoran ternak, ada 2 senyawa yang dapat memengaruhi lingkungan yaitu kandungan senyawa N dan P. Kelebihan senyawa ini akan dapat menjadi sumber nutrisi atau media bagi pertumbuhan algae, maupun mikroba lain dan akan memengaruhi ekosistem dalam tanah/air. Oleh karena itu, kandungan senyawa N dan P yang dikeluarkan oleh ternak harus dibatasi jumlahnya.
Di Eropa, peraturan mengenai pengeluaran N dan P dari ternak setiap tahunnya sudah berjalan lebih dari dua dekade, sebagai contoh pengeluaran N dari kotoran ternak setiap tahunnya dibatasi maksimum sebesar 170 kg N dalam 1 hektare nya untuk 1 unit ternak. Dalam hal ini 1 unit ternak dihitung dari satu ekor sapi dengan berat 454 kg (1.000 lb) dan untuk ayam dengan berat 1,4 kg dihitung setara dengan 100 ekor. Peraturan negara Eropa menunjukkan bahwa apabila satu hektare lahan peternakan mengeluarkan kotoran setiap tahunnya melebihi kandungan N 170 kg maka peternakan tersebut akan didenda sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Di samping peraturan mengenai pengeluaran senyawa N dan P dari kotoran, beberapa negara juga mendengungkan akan terjadinya kerusakan lapisan ozon oleh gas rumah kaca (GRK) akibat pengeluaran gas Metana (CH4) dari ternak dan gas N2O dari kotoran ternak. Sudah banyak dilaporkan bahwa kerusakan lapisan ozon oleh GRK di dunia akan mengakibatkan kenaikan suhu bumi, salah satunya diakibatkan oleh pengeluaran gas metana dari ruminansia. Ternak ruminansia akan mengeluarkan gas metana ketika mikroba dalam rumen mencerna pakan baik dari hijauan maupun dari konsentrat.
Hal ini memang menjadi kenyataan di berbagai negara dimana populasi ruminansia sangat padat per luasan lahan seperti di negara-negara Eropa. Tetapi hal ini bukan menjadi isu yang penting bagi Indonesia karena jumlah ternak ruminansia (sapi/kerbau hanya 20 juta ekor) dibandingkan jumlah penduduk yang mencapai sekitar 270 juta. Berbagai upaya dilakukan untuk menekan pengeluaran gas metana dari ruminansia dengan memanipulasi mikroba rumen atau dari nutrisi baik dari pemakaian hijauan maupun konsentrat yang berupa serealia dan pengembangan imbuhan pakan yang dapat mengubah fermentasi rumen.
Di Indonesia, pengaturan pencemaran lingkungan masih sangat minim diperhatikan padahal hal ini sangat penting pada masa mendatang ketika tekanan dari konsumen hasil ternak memintakan agar ternak dipelihara dengan mengurangi pencemaran oleh GKR atau Jejak Karbon agar dicapai peternakan yang berkelanjutan. Data survei menunjukkan bahwa konsumen muda di Asia akan lebih memilih hasil ternak yang diperoleh dari peternakan yang dikelola secara berkelanjutan dengan memperhatikan nilai Jejak Karbon maupun pencemaran lingkungan. Mereka mau membayar harga yang lebih tinggi untuk hasil ternak yang dikelola dengan berkelanjutan. Peternakan Indonesia masih berkutat dengan masalah harga dalam mempertahankan usaha peternakan, padahal peternakan harus dilihat secara “holistic” dalam menyediakan protein hewani yang berkelanjutan.
Berkembang ke arah jejak karbon (Carbon footprint) dalam rantai pasok
Perkembangan selanjutnya dengan peternakan yang berwawasan lingkungan tidak hanya menghitung pencemaran akibat kotoran yang dikeluarkan, tetapi menghitung jejak karbon (carbon footprint) dari seluruh rantai pasok. Mulai dari penyediaan bahan pakan sampai produk ternak dikonsumsi manusia. Dalam rangka penurunan jejak karbon, maka semua proses yang terjadi harus dihitung jejak karbonnya dan akan dimintakan untuk diturunkan pada masa mendatang. Untuk menilai jejak karbon ini, akhir-akhir ini dikembangkan metode Life Cycle Assessment (LCA) yang merupakan metode secara menyeluruh (holistic) untuk menilai pengaruh seluruh rantai pasok untuk menghasilkan suatu produk terhadap lingkungan.
Pada mulanya LCA digunakan untuk menghasilkan produk pertanian, misalnya dalam pertanian kedelai telah dievaluasi jejak karbon yang dihasilkan seperti yang dilakukan oleh perusahaan konsultan Blonk di Eropa. Jejak karbon yang dihitung dari kg setara CO2 untuk menghasilkan 1 kg kedelai dari tiap negara ternyata sangat berbeda. Jumlah jejak karbon dihitung atas dasar 3 komponen utama yaitu karbon yang dihasilkan dari bercocok tanam, transportasi dan juga penggunaan lahan. Di negara Amerika Latin seperti Argentina dan Brazil, jejak karbonnya jauh lebih tinggi dibanding negara di Eropa dan AS. Salah satu penyebab tingginya jejak karbon di Amerika Latin adalah jejak karbon yang tinggi akibat pembukaan lahan baru untuk menanam kedelai. Penebangan hutan yang lahannya digunakan untuk menanam kedelai mengakibatkan emisi karbon yang sangat tinggi dan sangat menentukan terhadap jejak karbon untuk menghasilkan 1 kg biji kedelai.
Teknik menghitung LCA juga dikerjakan untuk menghitung jejak karbon dalam peternakan layer. Laporan dari Hyline (perusahaan pembibitan ayam petelur) menunjukkan bahwa jumlah CO2 yang dihasilkan untuk menghasilkan 1 ton telur adalah sebesar 5.020 kg (Tabel 1). Dari tabel terlihat jelas bahwa sebagian besar CO2 yang dihasilkan adalah dari komponen pakan (82%). Oleh karena itu, penggunaan bahan pakan dan efisiensinya dalam mengubah zat gizi menjadi telur sangat menentukan untuk mengurangi jejak karbon.
Tabel 1. CO2 yang dihasilkan selama proses produksi ayam untuk menghasilkan telur
 
Kg CO2 yang dihasilkan per ton telur
% dari Total
Pakan (Feed)
4110
82,0
Pullet
428
8,5
Energi
139
3,2
Pengelolaan kotoran
343
6,8
Total
5020
100
Sumber: Hyline (2012)
LCA sekarang ini tidak hanya digunakan untuk bagian atau tahapan produksi ternak, tetapi dapat digunakan secara menyeluruh mulai dari bahan pakan sampai menghasilkan daging, susu maupun telur yang diterima konsumen. Ada 2 tipe pengaruh lingkungan yang dihitung dalam LCA, yaitu pengaruh lingkungan dari penggunaan sumber daya seperti penggunaan lahan dan minyak bumi sebagai sumber energi dan polusi lingkungan akibat pengeluaran gas amonia dan metana. Pengeluaran (emisi) pollutant dapat dikategorikan dalam perubahan iklim, pengasaman lingkungan, eutrofikasi lingkungan perairan maupun keracunan pada manusia dan hewan. Jadi perhitungannya tidak hanya proses produksi ternak, tetapi juga dimulai dari produksi bahan pakan yang dihasilkan dari pertanian. Penggunaan energi yang berlebihan selama produksi ternak juga harus diperhitungkan karena energi, misalnya dari penggunaan minyak bumi atau gas dapat menghasilkan CO2 yang berpengaruh terhadap jejak karbon.
Usaha yang dapat dikerjakan dalam produksi pakan
Usaha untuk menekan jejak karbon harus diperhatikan dalam rantai produksi ternak. Namun dalam tulisan ini, hanya memberikan saran terhadap pabrik pakan yang memberikan kontribusi terbesar dalam menghasilkan CO2 yang berpengaruh terhadap lingkungan. Beberapa usaha yang dapat dikerjakan oleh pabrik pakan adalah:
  1. Pemilihan bahan baku
Dalam menyusun ransum, sebaiknya bahan baku yang digunakan berasal dari hasil pertanian atau industri yang relatif sedikit memberikan jejak karbon. Pertanian yang dikerjakan dengan membuka lahan baru, dengan membuka hutan atau terlebih dengan membakar lahan hutan akan mengakibatkan peningkatan emisi karbon dan akan memproduksi hasil pertanian yang memberikan nilai jejak karbon yang tinggi. Demikian pula, pengolahan tanah yang berlebihan mengakibatkan polusi karena dapat mengakibatkan erosi akibat lapisan permukaan lahan akan terkikis air ketika hujan. Banyak di negara maju mengerjakan pertanian “no till” tanpa mengolah tanah. Pertanian yang efisien dan dikelola secara “Good Agriculture Practice” (GAP) harus diterapkan untuk menghasilkan bahan baku pakan yang ramah lingkungan.
  1. Formulasi tepat gizi
Formula ransum yang kekurangan zat gizi akan menekan produksi ternak, tetapi formula ransum yang kelebihan zat gizi akan mengakibatkan pengeluaran zat gizi yang tidak dicerna oleh ternak makin meningkat di dalam kotoran dan pada akhirnya dapat mencemari lingkungan karena banyak kotoran ternak yang dikembalikan ke lahan. Di samping itu, kelebihan zat gizi dapat mengakibatkan perubahan populasi mikroba dalam usus ternak dan seringkali meningkatkan populasi mikroba yang tidak dikehendaki (misalnya Clostridium sp.) dan memberikan pengaruh negatif terhadap ternak dan juga memengaruhi kualitas kotoran (basah) dan mencemari lingkungan. Penggunaan enzim seringkali dapat membantu meningkatkan kecernaan pakan dan mengurangi sisa zat gizi di dalam usus bagian belakang. Penggunaan enzim fitase dapat mengurangi penambahan sumber P dalam ransum dengan memanfaatkan P dalam fitat yang banyak terdapat dalam bahan pakan nabati, pada akhirnya dapat menekan biaya produksi dan bersamaan waktunya mengurangi pengeluaran P dalam kotoran.
  1. Perhitungan lanjutan dengan LCA
Pabrik pakan tidak hanya memperhitungkan jejak karbon selama produksi pakan, tetapi juga memperhitungkan kemungkinan peningkatan jejak karbon ketika pakan diberikan kepada ternak. Misalnya, pabrik pakan harus dapat memberikan saran kepada peternak akan risiko peningkatan pencemaran lingkungan ketika ransum diberikan tidak tepat untuk ternaknya. Sistem pemberian pakan harus disarankan secara tepat sehingga mengurangi jejak karbon. Misalnya pemberian pakan starter terus menerus pada broiler sampai panen akan mengakibatkan ketidakefisienan penggunaan zat gizi oleh ayam, pemberian pakan secara bertahap (phase feeding) perlu dianjurkan. Pemberian protein yang berlebihan pada peternakan layer akan mengakibatkan peningkatan amonia dalam kandang dan tidak hanya memberikan pengaruh negatif terhadap ayam, tetapi juga mencemari lingkungan.
  1. Penggunaan Imbuhan pakan
Penggunaan imbuhan pakan saat ini banyak ditujukan untuk meningkatkan kesehatan usus dan jika usus menjadi lebih sehat baik secara fisiologis, anatomis, dan juga mikrobiotanya, maka penyerapan zat gizi akan lebih baik dan pengeluaran senyawa kimia yang tidak dicerna makin menurun. Berbagai jenis imbuhan pakan banyak dijumpai di alam dan dapat dimanfaatkan sebagai fitogenik. Hanya perlu diingat bahwa tidak semua imbuhan pakan memberikan pengaruh positif dalam produksi ternak, karena keberhasilannya ditentukan berbagai faktor seperti bahan aktifnya, jumlahnya, konsistensinya, kestabilannya, kondisi ternaknya dsb., oleh karena itu perlu pembuktian dari hasil penelitian yang dapat dipercaya.
  1. Efisiensi pemakaian energi selama proses produksi pakan.
Banyak pabrik pakan menggunakan energi listrik dan bahan bakar minyak (BBM) yang sangat berlebihan dalam memproduksi 1 ton pakan. Pabrik pakan sebaiknya mengukur dirinya sendiri, seberapa besar (Kwh/ton) dan penggunaan BBM (l/ton) dalam menghasilkan ransum. Pernah dilakukan “benchmarking” dengan pabrik pakan di negara maju, maka banyak ditemui pabrik pakan di negara Asia yang boros dalam penggunaan energi dan BBM. Alangkah baiknya jika pabrik pakan menelusuri setiap tahapan dalam produksi pakan yang mengakibatkan keborosan dalam menggunakan energi dan berusaha untuk memperbaikinya terus menerus. *Praktisi nutrisi dan teknologi pakan
Artikel ini merupakan rubrik Opini pada majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com