POULTRYINDONESIA, Surabaya – Formulasi pakan merupakan langkah krusial dalam proses pencampuran pakan ternak. Salah satu metode praktis dan ekonomis yang kini banyak digunakan adalah dengan memanfaatkan Microsoft Excel, khususnya fitur Solver.
Hal tersebut disampaikan oleh Riestyarta Adi, Regional Nutritionist PT Malindo Feedmill Tbk, dalam seminar teknis bertajuk “Penyusunan Formulasi Pakan Ayam Petelur Berbasis Fungsi Solver Microsoft Excel” yang diselenggarakan oleh ASOHI Jawa Timur dalam rangkaian acara Indolivestock 2025 di Grand City Convex, Surabaya, Rabu (3/7).
“Formulasi pakan menggunakan Microsoft Excel dengan fungsi Solver itu gratis, karena programnya sudah tersedia. Tinggal bagaimana kita menerapkannya dengan benar,” ujar Adi saat memaparkan materi.
Adi menjelaskan, terdapat beberapa langkah penting dalam menggunakan Solver untuk formulasi pakan. Di antaranya adalah mengaktifkan Solver, menyusun matriks nutrisi bahan baku, melakukan quality control terhadap bahan, pengecekan fisik, menentukan harga bahan baku, dan akhirnya melakukan optimasi formulasi.
“Tantangannya adalah memastikan kombinasi bahan baku yang digunakan mampu menghasilkan jumlah nutrisi yang tepat sesuai kebutuhan ternak,” jelasnya.
Menurut Adi, formulasi pakan sejatinya adalah proses pemilihan dan pencampuran berbagai bahan dalam rasio tertentu agar menghasilkan keseimbangan nutrisi yang optimal bagi hewan. Ia menekankan bahwa tujuan akhir dari pencampuran pakan adalah memberikan performa terbaik bagi ternak.
“Harapan kita, pakan yang kita racik bisa memberikan efek optimal pada hewan yang mengonsumsinya,” tegas Adi.
Ia juga menguraikan prinsip dasar dalam formulasi pakan, yakni memperhatikan kebutuhan nutrisi hewan, pemilihan bahan baku, daya cerna, bioavailabilitas, efisiensi biaya, serta keseimbangan antara energi dan protein.
“Memang nutrisi itu kompleks. Tapi paling tidak, yang jadi patokan utama adalah keseimbangan antara energi dan protein. Kalau dua ini sudah tercapai, maka yang lainnya akan mengikuti,” tandasnya.
Dalam praktiknya, Adi mengingatkan agar formulator selalu memastikan keakuratan data nutrisi dan harga bahan baku, mempertimbangkan dampak kualitas bahan terhadap formula, serta melibatkan bantuan laboratorium untuk memperoleh matriks nutrisi yang valid. Ia juga menyarankan penggunaan referensi ilmiah untuk memperkirakan kandungan bahan baku yang tidak bisa dianalisis oleh laboratorium lokal.
“Solver hanyalah alat bantu. Keputusan akhir tetap berada di tangan formulator,” pungkasnya.