POULTRYINDONESIA, Jakarta – Gerakan ayam petelur bebas sangkar (layer cage-free) terus menguat seiring upaya mendorong industri peternakan yang lebih ramah hewan dan beretika. Hal ini mengemuka dalam forum diskusi yang digelar di Jakarta, Kamis (11/12), yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas peningkatan standar kesejahteraan hewan serta percepatan transisi sistem produksi telur bebas sangkar di Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
Forum ini sekaligus menandai peluncuran laporan berjudul “Telur Bebas Sangkar: Transisi Global Menuju Model Bisnis yang Lebih Etis dan Resilien”, yang disusun oleh Program Kesejahteraan Hewan dan Penelitian Sinergia Animal International. Laporan tersebut mengulas berbagai model bisnis berkelanjutan bagi pelaku usaha pangan dan industri telur dalam mengadopsi sistem bebas sangkar, serta manfaatnya bagi kesejahteraan ayam dan ketahanan bisnis.
Dalam sambutan pembuka, Kepala Tim Pelaksana Kesejahteraan Hewan, Kementerian Pertanian, drh. Septa Walyani, M.Si., menegaskan pentingnya pendekatan terpadu dalam penerapan kesejahteraan hewan. Ia menekankan konsep One Health, yang menempatkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai satu kesatuan yang saling berkaitan dalam membangun sistem pangan yang etis, aman, dan berkelanjutan.
Laporan tersebut menyoroti bahwa sistem kandang sangkar membatasi ayam petelur dalam mengekspresikan perilaku alaminya dan meningkatkan tingkat stres. Oleh karena itu, pergeseran global menuju sistem produksi pangan yang lebih berkelanjutan, termasuk telur bebas sangkar, dinilai semakin relevan seiring meningkatnya tuntutan konsumen terhadap transparansi dan standar kesejahteraan hewan yang lebih tinggi.
“Sebagian besar ayam petelur di dunia masih dipelihara dalam kandang sangkar yang sempit. Riset ilmiah menunjukkan bahwa transisi ke sistem bebas sangkar dapat mencegah lebih dari 7.000 jam penderitaan pada setiap ayam dibandingkan dengan sistem kandang konvensional,” ujar Fernanda Vieira, salah satu penulis laporan sekaligus Direktur Program Kesejahteraan dan Penelitian Hewan.
Acara yang dikemas dalam White Paper Launch 2025 ini dihadiri oleh 63 peserta dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, perwakilan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner Kementerian Pertanian, organisasi masyarakat sipil, asosiasi profesi dokter hewan, produsen telur, hingga korporasi pengguna telur dalam skala besar.
Sejumlah organisasi internasional dan regional juga turut hadir, di antaranya Humane Farm Animal Care (HFAC) sebagai lembaga sertifikasi, Global Food Partners sebagai konsultan, serta perwakilan lembaga dan asosiasi dari Malaysia dan Thailand.
Dalam sesi diskusi, Luiz Mazzon, Global Program Director Humane Farm Animal Care, menekankan bahwa sertifikasi merupakan instrumen penting dalam transisi menuju peternakan bebas sangkar, namun perlu dibarengi dengan komitmen jangka panjang dari produsen. Menurutnya, perbaikan manajemen peternakan, edukasi konsumen, serta sistem penilaian dan ketertelusuran yang kuat menjadi kunci keberhasilan transisi tersebut.
Diskusi juga menghadirkan perspektif produsen dan konsultan. Roby Gandawijaya, CEO PT Inti Prima Satwa Sejahtera, bersama Jayasimha Nuggehalli, COO dan Co-Founder Global Food Partners, memaparkan dinamika historis peternakan unggas di Indonesia, tantangan ekonomi dalam adopsi sistem bebas sangkar, serta solusi praktis bagi perusahaan yang ingin beralih.
Selain itu, kisah sukses dari sektor pengguna ditampilkan melalui Novotel Jakarta Cikini, yang menargetkan penggunaan 100 persen telur bebas sangkar pada 2026. Pengalaman implementasi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kesejahteraan hewan dapat berjalan seiring dengan komitmen keberlanjutan bisnis.
Melalui forum ini, para pemangku kepentingan sepakat bahwa transisi menuju telur bebas sangkar bukan hanya isu etika, tetapi juga strategi penting dalam membangun sistem pangan yang lebih berkelanjutan dan berdaya saing di tingkat regional.