“Moto hidup saya, walaupun tidak ada yang melihat kerja itu tetap harus maksimal. Karena suatu saat apa yang kita pelajari dan usahakan pasti bermanfaat di masa depan.”
Dalam industri perunggasan yang bergerak cepat dan penuh ketidakpastian, bertahan bukan hanya soal strategi, tetapi juga tentang kebijaksanaan dalam mengelola berbagai aspek yang lebih menyeluruh. Bagi Fransiscus Perangin-angin, perjalanan kariernya bukan soal posisi atau seberapa besar perusahaan tempatnya bernaung. Yang lebih penting adalah bagaimana ia tetap melakukan yang terbaik apapun tanggung jawabnya.
Setelah resmi menjadi alumni peternakan Universitas Padjadjaran, Frans memulai karirnya di perusahaan mandiri yang masih merintis. Selama kurang lebih tiga tahun, ia belajar menyesuaikan pengembangan broiler di tengah keterbatasan modal dan sistem yang belum sepenuhnya terstruktur. Setelah itu, ia bergabung dengan perusahaan yang lebih kokoh, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPI), di lini internal broiler selama 2,5 tahun.
“Waktu saya di perusahaan mandiri, dengan segala keterbatasan modal dan sistem yang belum terlalu rapi, tantangannya justru terasa sekali. Kita harus banyak improvisasi, harus banyak turun tangan sendiri. Lalu ketika pindah ke perusahaan besar yang sudah sangat terstruktur, fasilitas lengkap, tim support kuat, sistem sudah berjalan, tantangannya berbeda lagi,” ceritanya melalui Zoom, Sabtu (7/2).
Dalam perjalanannya, enam tahun terakhir, pria yang akrab dipanggil Frans ini bergabung dengan PT Mitra Berlian Unggas (MBU) dan kini menjabat sebagai Business Unit Vice President Broiler. Pada awalnya, ia sempat menangani broiler, breeding, dan layer sekaligus. Namun seiring pengembangan perusahaan yang melaju cepat, kini fokusnya sepenuhnya berada di broiler.
“Awal-awal memang breeding dan layer masih ikut saya tangani. Tapi karena pengembangannya cukup cepat dan skalanya makin besar, sekarang saya fokus di broiler saja supaya lebih maksimal dan tidak setengah-setengah,” ujarnya.
Belajar dari Berbagai Lini Perunggasan
Pengalamannya melintasi broiler, breeding, hingga layer memberinya sudut pandang berbeda. Ia pernah menangani broiler di kedua sistem baik open maupun closed house. Selain itu, diriya juga pernah memegang breeding di closed house, serta layer di open house.
Open dan closed house sebenarnya dua dunia yang berbeda. Di open house, oksigen gratis, kita lebih bergantung pada kondisi alam. Sementara di closed house, semua serba terkontrol,” ungkapnya.
Menurutnya, manajemennya jauh berbeda, dari sisi ventilasi, kontrol suhu, sampai pengawasan performa produksi. Jadi bukan soal mana yang lebih susah, tapi bagaimana bisa menyesuaikan diri dengan sistem yang ada. Di breeding, ia merasakan kompleksitas yang menuntut presisi. Di layer, lebih banyak bersentuhan dengan sistem terbuka. Sementara di broiler, dinamika harga menjadi tantangan tersendiri.
Saat ini, operasional MBU tersebar di Jawa Barat dan Banten. Di Jawa Barat, farm tersebar dari Pangandaran, Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Bandung, Subang, hingga sebagian Karawang. Di Banten, konsentrasi terbesar berada di Kabupaten Lebak dan Pandeglang, dengan populasi broiler di Banten mencapai sekitar empat juta ekor.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Profil pada majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.