POULTRYINDONESIA, Jakarta – Peringatan Hari Gizi Nasional tahun 2023 mengangkat tema “Protein Hewani Cegah Stunting”. Tema tersebut dilatarbelakangi oleh banyaknya kasus stunting yang terjadi pada anak akibat berbagai faktor, termasuk kurangnya asupan protein hewani. Dalam hal ini, tentu dunia perunggasan mempunyai andil besar sebagai penyediaan produk pangan protein hewani untuk masyarakat.
Namun di sisi lain, banyaknya tantangan yang tidak dapat diprediksi dan berubah dengan sangat cepat, ditambah dengan kompetisi global, mengharuskan para stakeholders perunggasan untuk dapat beradaptasi. Melihat hal tersebut, Indonesia Livestock Alliance (ILA) menggelar sebuah seminar daring dengan tema “Catatan Awal Tahun Perunggasan 2023” melalui aplikasi Zoom, Minggu (19/2).
Guru Besar Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada, Prof Ali Agus dalam materinya menggambarkan beberapa persoalan yang berulang kali menimpa dunia perunggasan nasional, terutama broiler. Seperti halnya fluktuasi harga livebird (LB) yang berkepanjangan sehingga membuat para pelaku usaha mengalami kerugian. Hal ini pun menimbulkan pertanyaan terkait keseimbangan supply-demand daging broiler (oversupply).
“Di sisi lain kita juga harus mengakui bahwa secara global, daya saing perunggasan kita lemah. Yang mana dari input produksi utama kita masih harus impor serta dari sisi budi daya masih didominasi oleh kandang konvensional. Selain itu dari sisi hilir, preferensi konsumen masih ke hot carcass dan rantai pasok dingin juga belum berkembang dengan baik,” jelasnya.
Dari berbagai persoalan tersebut, Ali menyarankan agar pemerintah dapat mengambil kebijakan berbasis data hasil kajian dan penelitian yang profesional, independen, dan sinergi multi stakeholders. Kemudian perlu adanya peta jalan pembangunan future broiler industry yang disusun melalui asumsi dasar konsumsi, produksi, local, SDM, teknologi dan pasar yang akurat. Selain itu perlu adanya insentif dan desinsentif bagi pelaku usaha yang loyal and comply dengan kebijakan pemerintah.
“Perlu adanya dorongan pasar ekspor bagi pelaku usaha skala besar dengan berbagai insentif yang menarik seperti tax holiday. Dan untuk para pelaku usaha, juga perlu adanya dorongan akselerasi adopsi teknologi manajemen broiler modern serta penegmbangan cold chain produk broiler seperti RPHU, cold storage dan infrastruktur logistik,” tegas Ali.
Baca Juga: Ceva University Broiler Indonesia Kembali Diselenggarakan
Sementara itu, I Gusti Ketut Astawa selaku Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan, Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) menjelaskan bahwa berdasarkan prognosa daging ayam nasional tahun 2023, menunjukkan bahwa terjadi potensi surplus produksi hampir setiap bulan kecuali pada Maret 2023. Secara keseluruhan pada akhir tahun 2023 terjadi potensi surplus sebesar 538,999 ton. Menurut Ketut hal ini harus diperhatikan, karena apabila posisi setiap bulan seperti ini, maka harga di peternak akan susah untuk diangkat.
“Di broiler ini cukup berbeda dengan komoditas pangan lain, seperti halnya beras. Walaupun terjadi surplus di beberapa bulan ketika panen raya, namun terdapat bulan yang produksinya kosong sehingga produksi surplus dapat menutup kebutuhan di bulan lain. Berbeda dengan broiler yang hampir setiap bulan terjadi surplus produksi. Untuk itu, hal inilah yang harus bersama kita cari solusinya,” terang  Ketut.
Terkait harga, Ketut mengakui bahwa di beberapa wilayah memang masih terdapat tingkat harga yang rendah dan di bawah harga acuan. Seperti halnya di Jawa Tengah, dimana harga LB di tingkat peternak per 17 Februari berada di kisaran Rp18.000,00/Kg. Dirinya melanjutkan beberapa hal yang telah dilakukan NFA untuk menyikapi hal tersebut adalah penetapan Harga Acuan Pembelian atau Penjualan (HAP) berdasarkan Perbadan No 5 Tahun 2022. Hal ini sebagai pedoman intervensi kebijakan yang akan dilakukan oleh NFA apabila terdapat fluktuasi perunggasan.
“Selain itu kebijakan jangka pendek yang telah dilakukan oleh NFA untuk mengendalikan harga LB di tingkat farm adalah dengan memfasilitasi mobilisasi daging ayam serta memfasilitasi penyerapan LB oleh BUMN pangan dan perusahaan integrator. Kemudian NFA juga telah menyiapkan beberapa cold storage sebagai stabilisasi pasokan dengan peningkatan umur simpan pangan perishable. Walaupun sistem rantai dingin telah dikembangkan, tapi oversupply berlebihan masih terjadi fenomenanya pun akan sama saja. Untuk itu pengendalian produksi tetap harus berjalan dengan baik,” tambahnya.
Masih dalam acara yang sama, Singgih Januratmoko, Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan (Pinsar) Indonesia menyampaikan bahwa selama beberapa tahun terakhir peternak broiler menghadapi gonjang-ganjing yang luar biasa dan menyebabkan banyak peternak yang merugi. Saat ini pun, Singgih melanjutkan peternak banyak mengalami masalah pembayaran dengan pabrik pakan, bahkan ada yang sampai dibawa ke meja pengadilan (PKPU).
“Kondisi berat juga dirasakan oleh usaha budi daya breeding, di awal tahun 2023 harga DOC jatuh hingga Rp1.500,00/ekor. Kalau kita melihat kebelakang, seharusnya panen saat ini sudah membaik karena impor GPS nya sudah berkurang. Namun ternyata, praktik di lapangan secara genetik ayam telah bekembang sehingga produksi GPS ke PS dan berlanjut ke FS sudah semakin baik. Jadi hal itu membuat kesalahan hitung dan berlanjut ke oversupply hingga di peternak. Perhitungan ini tentu harus menjadi koreksi,” tegasnya.