Produk perunggasan merupakan salah satu primadona untuk pemenuhan pangan masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak, produk perunggasan menyuplai tidak kurang dari sekitar 65% konsumsi protein masyarakat dibanding dengan produk lainnya. Hal ini tidak serta – merta terjadi secara instan, melainkan terbentuk karena proses panjang yang dilalui oleh bisnis ini semenjak era 1980 an hingga menjadi industri dengan perputaran ekonomi yang cukup besar.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan produksi ayam ras dan telur yang cukup besar. Bisnis perunggasan di Indonesia telah tumbuh cukup pesat dan bisa dibilang cukup kompetitif dalam urusan produksi ayam ras dan telur. Akan tetapi, kemampuan produksi yang cukup kompetitif tersebut belum diimbangi dengan tingkat konsumsi masyarakatnya.
Secara produksi, bisnis perunggasan telah mampu untuk menjawab permintaan masyarakat di Indonesia saat ini. Bahkan, untuk komoditas daging ayam ras dan telur telah mencapai kondisi surplus, dimana produksi komoditas tersebut telah melebihi dari konsumsi rata – rata masyarakat di Indonesia. Berdasarkan data yang disampaikan oleh Kepala Seksi Ternak Unggas Dirbitpro Kementan Iqbal Alim dalam sebuah webinar Rabu (22/3), menyampaikan bahwa potensi produksi ayam ras pedaging di tahun 2023 secara kumulatif berada di angka 3.997.653 ton dengan konsumsinya sebesar 3.507.754. Sedangkan untuk prognosa produksi ayam ras petelur di tahun 2023 itu sebesar 6.117.905 ton dengan konsumsi untuk telur sebesar 5.883.434 ton.
Masih dalam acara yang sama dengan asumsi jumlah penduduk sebesar 278.835.740 jiwa, maka perkiraan konsumsi ayam ras pedaging masyarakat Indonesia di tahun 2023 berada di angka 12,58 kilogram per kapita per tahun. Sedangkan jika merujuk pada prognosa produksi ayam ras pedaging di Indonesia tahun 2023 maka seharusnya bisa ditingkatkan lagi hingga 14,33 kilogram per kapita per tahun. Lalu untuk angka konsumsi telur ayam ras di tahun 2023, diprediksi berada di 21,10 kilogram per kapita per tahun. Sedangkan jika merujuk pada angka prognosa produksi maka masih bisa ditingkatkan hingga 21,94 kilogram per kapita per tahun.
Sementara itu, dalam acara yang sama menurut Asrokh Nawawi selaku Ketua IV GPPU, mengatakan bahwa setiap tahunnya mengalami surplus. Pada tahun 2021, Indonesia mengalami surplus sebanyak 290 juta ekor ayam, dan tahun 2022 surplus sebanyak 498 juta ekor, serta prognosa tahun 2023 juga mengalami surplus sebanyak 433 juta ekor. Ia menyadari bahwa ini menjadi tantangan langganan industri perunggasan nasional yang dihadapkan dengan anomalinya permintaan. “Kita lihat di tahun 2018, impor GPS kita sebanyak 744 ribu ekor, kemudian menjadi 761 ribu ekor di tahun 2019. Turun menjadi 694 ribu ekor di tahun 2020 dan turun lagi di tahun 2021 menjadi 642 ribu ekor. Kemudian di tahun 2022 di angka 630 ribu ekor. Di tahun 2023 ini kami impor GPS 660 ribu,” jelas Asrokh.
Struktur biaya produksi tingkat budi daya
Dalam memproduksi satu kilogram ayam ras, menurut Muhlis Wahyudi selaku Sekjen Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat indonesia (Pinsar Indonesia) biaya yang dikeluarkan bervariatif, tergantung pada harga sapronak dan tingkat performa ternak. Melalui sambungan telepon pada Kamis (30/3), dirinya menjelaskan bahwa biaya untuk memproduksi satu ekor broiler memang bervariatif tergantung dengan berapa harga sarana produksi ternak yang digunakan ketika proses chick in. Muhlis memberikan gambaran berapa besar biaya produksi yang ia gunakan ketika menjelang lebaran.
“Kalau bobot 1,6-1,7 bisa di angka Rp19.000,00 seperti masa sekarang ketika satu bulan lalu (bulan Maret) DOC itu di angka Rp6.000 – Rp6.500,00 belum lagi ditambah harga pakan yang naik sekitar Rp300,00 per kilogram. Maka kalau diasumsikan harga pakan itu Rp8.500,00 per kilogram maka untuk satu kilogram ayam itu membutuhkan sekitar 1,5 kilogram pakan maka berarti bpp untuk pakan itu di angka Rp12.750,00,” jelas Muhlis.
Dengan angka seperti itu, jika menghitung keadaan saat ini dimana biaya operasional seperti listrik, gas, dan sekam yang sedang naik maka menurut Muhlis biaya operasional satu periode bisa mencapai Rp4.000,00 per ekor. “jadi Biaya produksi kami jika hanya operasional dan pakan saja ada di angka Rp 16.000,00. Angka ini belum menghitung harga DOC. Bahkan kalau harga seperti sekarang di bawah Rp16.000,00, maka kami diberi DOC gratis saja rugi, karena biaya produksi kami sudah Rp16.000,00 tanpa DOC,” jelas Muhlis.
Harga tersebut memang disebabkan oleh faktor teori permintaan dan penawaran dimana ketika produksi barang lebih tinggi, maka harga akan turun mengikuti jumlah permintaan yang beredar di masyarakat. Sedangkan jika melihat sifat dari budi daya ayam ras pedaging yang merupakan komoditas biologis, maka akan sulit bagi peternak untuk menahan ayamnya menunggu momentum harga naik. Karena jika peternak menahan ayamnya melewati masanya, biaya produksi per hari akan terus meningkat dan menjadi tidak efisien.
Sedangkan untuk biaya produksi dari kegiatan budi daya ayam ras petelur menurut Jenny Soelistyani selaku Ketua Pinsar Petelur Nasional (PPN) Lampung ketika dihubungi melalui aplikasi Zoom Selasa (18/4), harga satu kilogram telur ayam ras adalah 3,5 kali dari harga pakan. “Kalau perhitungan saya yang sempat saya hitung dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas) itu efisiennya di angka 3,5 kali harga pakan. Angka tersebut menurut saya sudah menjadi ukuran koefisien yang memang dibutuhkan peternak petelur supaya dia tetap bisa bertahan dan mungkin berkembang dengan segala macam situasinya,” ungkap Jenny.
Maka menurut Jenny, dengan fluktuasi harga pakan yang terjadi sekarang maka akan sulit bagi peternak untuk bisa bertahan, sehingga memang perlu upaya untuk peningkatan konsumsi masyarakat. “Jika melihat kondisi harga pakan sekarang yang cenderung mengalami kenaikan, yang rata-rata sudah di Rp7.500,00 dikali 3,5 maka keluar angka di sekitar Rp.26.000,00. Ketika harga itu terpenuhi, sebetulnya peternak ini masih punya HPP dan masih ada lebihnya, masih bisa bertahan dan sedikit berkembang lah untuk mempertahankan eksistensi dia. Tapi kalau harganya selalu di bawah ini, lama – lama peternak juga menyusut,” keluh Jenny.
Padahal, jika dilihat dari sisi produksi memang peternak sudah mampu dan siap jika masyarakat meningkatkan konsumsi telur. Bahkan, Jenny menjelaskan bahwa untuk di daerahnya di Lampung telah terjadi kondisi surplus yang cukup besar. “Jika dilihat per daerah, seperti di Lampung ini bisa surplus sebesar 7 ton per hari. Di Sumatra ini daerah produsen terbesarnya ada di Palembang, Lampung, Sumbar, dan Jambi”.
Masih menurut Jenny, demand dari produk telur menurutnya cukup bagus. Apabila dilihat, dengan adanya pandemi Covid-19 menjadikan produk telur ayam ras itu betul – betul menjadi makanan pokok yang dicari oleh masyarakat. Jenny menilai bahwa masyarakat cukup teredukasi bahwa ketika ada pandemi Covid-19, telur menjadi makanan yang dibutuhkan oleh tubuh.
“Apalagi sekarang dari Kementerian Kesehatan ada program pengentasan stunting, dan produk yang digunakan adalah telur, sehingga membuat permintaan dari telur cukup bagus. Hal ini juga membuat permintaannya naik. Hal ini tak lepas dari telur ini sangat fleksibel, paling gampang. Saya pribadi rata-rata minimal satu kilogram telur selalu ada di rumah. Dan kalau tidak ada telur serasa ada yang kurang,” tambahnya sambil bercanda.
Manfaat mengonsumsi daging ayam dan telur
Produk hasil unggas berupa daging ayam dan telur memiliki sejumlah kelebihan dibanding sumber protein hewani lainnya, yakni dapat terjangkau di hampir semua lapisan masyarakat, harga relatif murah, mudah diolah menjadi berbagai hidangan lezat, dan yang tak kalah penting adalah memiliki sumber zat gizi yang lengkap dan mudah diserap oleh tubuh manusia yang mengonsumsinya.
Protein |
Aktivitas Biologis |
Referensi |
Ovalbumin |
Antioxidant activityAntimicrobial activity |
Huang et al. (2012), Pellegrini et al. (2004), Fan et al. (2003); Goldberg et al. (2003); He et al. (2003) |
Ovotransferin |
Anticancer activityImmunomodulatory activityAntioxidant activityKim et al. (2012)Antihypertensive activityAntimicrobial activityAnticancer activity |
Rupa et al. (2015); Vidovic et al. (2002), Kim et al. (2012), Majumder and Wu (2010, 2011), Moon et al.(2012), Ibrahim and Kiyono (2009); Lee et al. (2017a); Moon et al. (2012,2013), Huang et al. (2010); Lee et al. (2018); Majumder et al. (2013) |
Lyzozyme |
Immunomodulatory activityAntihypertensive activityAntimicrobial activityAnticancer activityImmunomodulatory activity |
Yoshii et al. (2001), Mine et al. (2004); Pellegrini et al. (2000), Mahanta et al. (2015) |
Cystatin |
Antimicrobial activityAnticancer activityImmunomodulatory activity |
Ha et al. (2013), Blankenvoorde et al. (1996),Cegnar et al. (2004);Saleh et al. (2003) |
Avidin |
Antimicrobial activityAnticancer activity |
Kato et al. (2000)Avidin,Korpela et al. (1984)Corti et al. (1998); Gasparri et al. (1999)Kobayashi et al. (2004)Oguro et al. (2000) |
Ovomucin |
Antimicrobial activityAnticancer activityImmunomodulatory activity |
Sun et al. (2016) |
Phosvitin |
Antioxidant activityMetal chelating activityAntimicrobial activityAnticancer activityImmunomodulatory activity |
Katayama et al. (2006); Sakanaka et al. (2004); Xu et al. (2007), Castellani et al. (2004), Khan et al. (2000); Ma et al. (2013), Moon et al. (2014),Hu et al. (2013); Lee et al. (2017b); Ma et al. (2013); Xu et al. (2012),Amirijavid and Hashemi (2015); Amirijavid et al. (2014) |
IgY |
Anticancer activityImmunomodulatory activity |
Li et al. (2016) |
Livetin |
Immunomodulatory activity |
Meram and Wu (2017) |










