sektor perunggasan menyediakan 65% kebutuhan protein hewani bagi masyarakat indonesia
Persaingan global merupakan suatu hal yang tidak dapat terhindar dari dinamika perekonomian dunia termasuk sektor perunggasan. Tiap negara produsen berlomba-lomba untuk menghasilkan produk yang terbaik dengan meningkatkan efisiensi produksi. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan daya saing agar memiliki posisi tawar yang baik dalam transaksi perdagangan. Industri perunggasan Indonesia dalam hal ini juga dituntut untuk lebih memiliki daya saing agar dapat bertahan maupun bersaing dengan produk unggas luar negeri.

Sektor perunggasan yang menyumbangkan 65% asupan protein hewani bagi masyarakat Indonesia dan memiliki nilai investasi yang sangat besar menjadikan sektor perunggasan di Indonesia memiliki masa depan yang cerah.

Nilai ekonomi perunggasan
Sektor perunggasan di Indonesia merupakan penyumbang protein hewani terbesar di Indonesia yaitu sekitar 65%. Harganya yang terjangkau hampir di semua kalangan masyarakat, membuat daging ayam masih menjadi primadona dibandingkan komoditas lainnya seperti daging sapi, kambing, maupun susu. Nilai ekonomi dari perunggasan juga tidaklah sedikit, berdasarkan data Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), nilai ekonomi dari industri perunggasan di Indonesia yaitu sebesar US$29,5 miliar atau setara dengan Rp428 triliun.
Preferensi konsumsi masyarakat
Konsumsi daging ayam masyarakat Indonesia kian meningkat setiap tahunnya. Jika mengacu pada data potensi produksi daging ayam tahun 2019 yang sebesar 3.829.664 ton, maka konsumsi daging ayam per kapita masyarakat Indonesia pada tahun ini sebesar 14,24 kilogram. Peningkatan konsumsi daging ayam ini didukung oleh semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya asupan gizi yang baik serta perubahan tingkat urbanisasi juga turut mendorong perubahan gaya hidup dari masyarakat yang menuntut segala sesuatu serba cepat dan instan. Aplikasi yang tersedia dalam ponsel pintar pun turut mempermudah masyarakat melakukan transaksi makanan siap saji.
Baca Juga : Nasib Peternak Rakyat
Perubahan preferensi konsumsi masyarakat Indonesia ini mendorong para pelaku industri perunggasan untuk meningkatkan kapasitas produksi maupun daya saing yang harus didampingi oleh peningkatan produktivitas, daya tahan, dan modernisasi dalam setiap rantai produksinya. Celakanya, perunggasan Indonesia khususnya yang di sektor perunggasan rakyat masih terkendala kualitas dan kuantitas input sepeti mahalnya harga day old chick (DOC), minimnya permodalan, harga pakan yang tinggi, dan adanya ancaman penyakit yang membuat upaya modernisasi masih sebatas angan-angan.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi November 2019 dengan judul “Gambaran Umum Sektor Perunggasan Nasional”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153