POULTRYINDONESIA, Semarang Berbagai asosiasi dan koperasi peternak ayam ras petelur (layer) yang tergabung dalam wadah Rumah Bersama berkumpul di Semarang pada Rabu (04/10) untuk melakukan rembuk bersama mencari jalan keluar dari permasalahan jagung yang tengah terjadi. Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional (PPN), Yudi Yosgiarso menceritakan bahwa harga jagung yang kini berada di kisaran Rp6.600,00-6.700,00/kg sangat memberatkan peternak. Terlebih, diperkirakan hingga Januari 2024 mendatang tidak akan ada penambahan stok jagung dari petani lokal, karena panen jagung baru ada di bulan Januari 2024. Hal ini memaksa peternak untuk bisa bertahan menunggu selama jagung belum dipanen.
“Di lain sisi, menurunnya jumlah jagung yang beredar menjadikan harga kian melonjak. Terhitung dari awal tahun 2023 harga jagung masih di kisaran Rp5.000,00/kg, namun saat ini sudah menembus angka Rp.6000,00 ke atas. Itu pun kami sangat kesulitan mendapatkan jagung dari petani. Apalagi kami tidak mampu jika bersaing dengan feedmill yang mampu menyerap ribuan ton jagung sekaligus dari petani. Para peternak tidak memiliki silo penampungan jagung sebesar feedmill, sehingga ada kecenderungan keberpihakan dari petani ke para feedmill. Peternak yang ingin mendapatkan jagung dari petani harus merogoh kocek lebih dalam untuk bisa menawarkan harga yang sedikit lebih tinggi dari feedmil agar petani mau memberikan jagung kepada peternak. Hal ini semakin tidak terkontrol ketika harga yang didapatkan peternak terus merangkak naik. Kondisi kian sulit karena di tengah harga pakan yang melambung, harga jual telur di peternak justru menurun, hingga di angka Rp21.000,00/kg. Jika permasalahan ini tidak segera ditangani, peternak akan terus merugi,” katanya.
Dirinya berharap adanya bantuan dari pemerintah untuk melakukan pengadaan jagung bagi peternak layer nasional. Memang sebelumnya pemerintah juga telah menggelontorkan bantuan subsidi jagung, namun subsidi tersebut hanya menyentuh peternak layer kecil yang memiliki populasi di bawah 11 ribu dan baru bisa mencukupi 20% dari total kebutuhan jagung para peternak layer kecil.
“Anggota kami tidak hanya ada di UMKM atau peternak dengan kapasitas 11 ribu, namun juga peternak menengah dan besar. Semua peternak ini harus diwadahi karena tantangan dalam peternakan ayam petelur semakin besar. Dari Rembuk Nasional ini, kami menghasilkan kesepakatan bersama bahwa peternak memohon pemerintah segera impor jagung sebagai langkah cepat mengatasi masalah kelangkaan pakan ayam. Pemerintah harus membuka keran impor jagung melalui Bulog. Secepatnya. Paling lambat November 2023 untuk menjaga keberlangsungan ternak ayam (layer). Pemerintah sedikitnya dapat merealisasikan impor jagung sebanyak 304.000 ton untuk menghadapi masa paceklik panen tiga bulan kedepan, masing-masing 184.000 ton untuk peternak skala menengah-atas dan 120.000 ton untuk peternak skala UMKM,” terangnya.
Atas keluhan tersebut, Perwakilan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Muhammad Musyafa mengakui bahwa memang terjadi anomali antara data jagung dengan kondisi di lapangan. Untuk itu Bapanas mencoba mengambil langkah untuk melakukan stabilisasi harga dengan memfasilitasi distribusi jagung. Selain itu Bapanas juga menerbitkan berbagai regulasi, seperti Perbadan no 15 tahun 2022 terkait Stabilisasi Pasokan Harga Pangan Beras, Jagung, dan Kedelai, serta Perbadan no 13 tahun 2022 tentang Cadangan Jagung Pemerintah, dimana penugasan melalui Bulog. Terkait permohonan impor jagung peternak, Musyafa mengaku bahwa pengajuan tersebut harus dibahas terlebih dahulu melalui Rakornis bersama pihak Kementan.
Masih dalam forum yang sama, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Agung Suganda menyampaikan data surplus stok jagung di lapangan yang seharusnya bisa terserap oleh para peternak layer. Namun permasalahan persaingan antara industri feedmill dengan peternak menjadikan jagung tidak dapat terserap secara optimal oleh peternak, sehingga melalui Rakornis muncul opsi alternatif penyelesain permasalahan jagung, salah satunya dengan importasi gandum.
“Alokasi impor gandum ini masih ada yang belum terealisasi sebesar 440 ribu ton. Harapannya gandum ini dapat menjadi substitusi jagung dalam pakan. nantinya Ditjen PKH akan meminta para feedmill besar untuk bisa menggunakan gandum untuk substitusi jagung sebagai bahan pakan dan industri pakan menghentikan penyerapan jagung dari petani. Dengan adanya kebijakan ini, setidaknya jagung yang ada bisa digunakan peternak,” jelasnya.
Agung melanjutkan bahwa opsi pengadaan jagung melalui impor juga sudah dibahas di Rakornis, tinggal kelengkapan data saja yang masih kurang. Dalam hal ini, menurutnya Kementan akan selalu mendukung bagaimana pemenuhan ketersediaan jagung bagi peternak layer.