Penyakit Infectious Bursal Disease (IBD) atau Gumboro diakibatkan oleh virus dan
sangat menular pada ayam. Penyakit ini dapat menyebabkan kerugian yang besar
akibat kematian langsung, imunosupresi, serta infeksi sekunder.
Penyakit Gumboro (IBD) pertama kali dilaporkan pada ayam broiler & layer pada tahun 1991 di Indonesia (Parede et al., 2003) dengan berbagai manifestasi klinis dan patologis. Mortalitas pada broiler sebesar 25% dan pada ayam layer hingga 60% bila terinfeksi pada umur muda 3-4 minggu. Vaksin inaktif autogenous dapat mengurangi kematian sebesar 5% -10%. Saat ini, penggunaan vaksin live IBD dan in-aktif bersama dengan biosekuriti yang baik memungkinkan peternak untuk dapat lebih mengontrol wabah IBD pada broiler, breeder dan layer. Fakta bahwa ayam layer lebih rentan terhadap vvIBDV daripada broiler adalah fenomena yang sudah dikenal di seluruh dunia.
Pada tahun 2016, Prof Michael Hariyadi Wibowo dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM melakukan analisis fragment VP2 virus IBD di Indonesia dengan RT-PCR dan menemukan 7 sampel positif IBD dari 11 sampel lapangan. Dari 7 sampel positif, 2 sampel adalah IBDV klasik dan 5 sampel strain vvIBDV Indonesia. IBD saat ini mewabah di sebagian besar dunia dan jurnal Prof Michael Hariyadi Wibowo menunjukkan bahwa hal itu juga terjadi di Indonesia. Namun, dengan praktik biosekuriti dan manajemen yang buruk di Indonesia dan adanya challenge Avian Influenza (AI), penyakit Newcastle Disease (NDV) atau tetelo, dan tantangan penyakit lainnya,
membuat upaya pengendalian IBD pada ayam petelur menjadi tugas yang menantang. Meskipun vaksin Gumboro diterapkan, baik di hatchery dan/atau di kandang. Di antara para peternak
ayam layer di Indonesia IBDV masih merupakan masalah yang sangat umum yang berdampak pada kesehatan dan performa ayam layer.

Untuk membantu mengatasi tantangan Gumboro (IBD), Phibro Animal Health Indonesia memperkenalkan generasi baru vaksin IBD, yaitu PHIVAX MB-1. PHIVAX MB-1 adalah vaksin live IBD (strain MB) yang diadaptasikan untuk aplikasi secara in-ovo pada hari ke 18.5d inkubasi atau injeksi subkutan pada DOC di hatchery mampu memberikan perlindungan yang aman, lebih dini dan kuat terhadap IBD pada ayam broiler, breeder dan layer. PHIVAX MB-1 tidak akan mengganggu respon imun ayam terhadap vaksinasi lain. PHIVAX MB-1 diluncurkan di Indonesia pada Maret 2021, dan untuk mendukung klaim terkait efikasi dan keamanan, Phibro melakukan serangkaian 5 uji coba lapangan di peternakan ayam petelur komersial (250.000 ekor) yang
terletak di area dengan tantangan IBD tinggi (high challenge).
PHIVAX MB-1 diinjeksikan bersama vaksin Marek pada DOC layer di hatchery dengan program vaksinasi lainnya sesuai program lokal baik dengan atau tanpa vaksin Gumboro live di
kandang. Parameter yang diamati dalam uji coba adalah adanya gejala klinis & patologis IBD, titer Elisa IBD pada umur 1, 7, 14, 21, 28, 35, dan 42 hari dan PCR dari Bursa smear untuk IBD
pada umur yang berbeda dari 14 hingga 35 hari, serta PCR dari folikel bulu untuk Marek’s pada umur 28-42 hari. Di beberapa peternakan kami juga menguji titer ND HI pada usia yang berbeda.
Hasil
Adanya gejala klinis dan patologis IBD:
Tidak ditemukan adanya penyakit IBD di kandang dengan challenge IBD tinggi ini, begitu juga dengan adanya penyakit lain.
Titer IBD ELISA (BIOCHECH, Lab lokal)
Rata-rata titer MAB IBD yang diturunkan dari induk dalam percobaan ini berkisar antara 5.886 sampai 9.776 dengan kisaran CV 14% – 42%. Dalam semua percobaan kami mengamati penurunan titer MAB sampai umur 21 hari dan mulainya serokonversi pada umur 28 hari. Lihat Grafik 1 dibawah.

Tes PCR – sampel Bursa (kartu FTA, VetMedUni LabAustria)
Tidak ada deteksi strain lapangan IBD di semua sampel yang diuji.
Meskipun kami tidak dapat melakukan pengambilan sampel pada semua umur di semua kandang. Kami menemukan bahwa empat dari lima kandang adalah strain MB positif pada umur 21 hari dan satu kandang positif terhadap strain MB pada umur 28 hari.
Virus serotipe 1 dari vaksin Marek’s juga ditemukan pada umur 28 hari atau 35 hari. 
Titer ND HI (lab lokal)
Titer ND pada saat pengamatan konsisten dengan kisaran normal HI titer dan keseragaman (CV). Dengan program vaksin sebagai berikut PHIVAX MB-1, Marek’s, ND IB live, dan vector ND di hatchery, dilanjutkan dengan ND live pada umur 21 hari.
Kesimpulan
PHIVAX MB-1 (dengan atau tanpa tambahan vaksin gumboro live) mampu menghasilkan reaksi kekebalan yang cepat dan kuat terhadap IBD. PHIVAX MB-1, yang diinjeksikan ke DOC ayam layer komersial tidak mengganggu respon terhadap vaksinasi Marek’s yang diberikan pada saat yang bersamaan, begitu juga respon terhadap vaksinasi ND.
Tidak ditemukan adanya indikasi penyakit lain atau masalah lain yang muncul.
Hasil ini sejalan dengan temuan kami pada jutaan ayam layer yang divaksinasi dengan PHIVAX MB-1 di India, Argentina, dan Vietnam. Hingga hari ini lebih dari satu juta layer telah divaksinasi dengan PHIVAX MB-1 Indonesia. Adv