POULTRYINDONESIA, Jakarta – Generasi milenial merupakan generasi yang adaptif dan tergolong prima secara fisik maupun mental dalam menghadapi perkembangan zaman yang menuntut perubahan cepat pada berbagai bidang. Generasi yang populasinya terbanyak kedua di Indonesia akan tetapi, hanya menempati 29% di sektor pertanian, termasuk peternakan, sehingga regenerasi di sektor pertanian terbilang cukup sulit.
Peran dan keunggulan generasi milenial ini sangat dibutuhkan untuk kemajuan sektor peternakan, dalam hal ini perunggasan. Melihat potensi peranan generasi milenial ini, Poultry Indonesia menyelenggarakan Poultry Indonesia Forum (PIF) edisi ke 16 yang bertema ‘Perunggasan di Tangan Millennial’ secara virtual via Zoom, Sabtu (26/6).
Dr. drh. Maya Purwanti, MS selaku Dosen Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor mengamini bahwa sektor pertanian memang masih didominasi oleh pekerja yang berumur 40 tahun (50%). Hal tersebut mungkin disebabkan oleh citra pertanian yang tidak bergengsi, penghasilan rendah, dan selalu rugi. Padahal sektor ini sangat penting untuk menyediakan pangan dan berkembang baik walaupun diterpa pandemi covid-19.
“Berkembangnya budaya postmodern yaitu sosial media, semakin membuat pertanian tidak menarik,” jelas Maya.
Baca Juga: Peternak Milenial Jawa Barat Sepakat Bentuk Koperasi
Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka pemerintah juga sudah berupaya untuk menghasilkan petani millennial yang kompeten melalui pendidikan dan pelatihan vokasi, pelayanan P4S, magang luar negeri, menjaring duta petani milenial, penumbuhan wirausaha muda pertanian, dan Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS).
Hary Adam selaku CEO CV. Alkea Naratas Farm dan peternak milenial broiler mengaku bahwa dirinya telah berkecimpung untuk beternak broiler sejak tahun 2015, dan berlanjut hingga sekarang karena memang masih menjanjikan. “Kenapa broiler? Karena broiler sekarang menjadi kebutuhan pokok saat ini dan berskala industri,” jelasnya.
Hary berpesan kepada millennial yang ingin berkecimpung di dunia perunggasan, dalam hal ini broiler harus memahami teknik dasar dalam budi daya ayam. Generasi milenial juga perlu berpikiran terbuka terhadap perubahan zaman maupun kebutuhan ayam yang berbeda.
Lebih lanjut, Pesan terhadap peternak milenial turut disampaikan oleh Andi Ricki Rosali selaku peternak layer milenial. Andi mengatakan bahwa dalam menjalankan usaha, generasi milenial ini terkadang masih memiliki keinginan untuk mendapatkan segalanya serba instan. Hal tersebut yang menjadi kelemahan dari generasi milenial. “Harus dinikmati segala prosesnya dan diniatkan untuk usaha,” jelasnya.