POULTRYINDONESIA, Malang – Peningkatan mutu genetik, menjadi bagian yang paling mendasar dan mempunyai kekuatan yang luar biasa, dalam rangka keberlangsungan dunia pertanian, termasuk dunia peternakan. Sehingga efisiensi dapat mudah tercapai, dengan menggunakan sumberdaya yang seminimal mungkin.
Baca juga : Memaksimalkan Potensi Genetik melalui Kandang Closed House
Berdasarkan pemaparan dari Prof. Julius Van Der Werf dari University of New England, Australia yang menjadi salah satu keynote speaker pada acara “The 2nd International Conference on Environmentally Sustainable Animal Industry (The 2nd ICESAI)” yang diadakan oleh Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (UB), Malang, Selasa (12/10), yang diadakan secara virtual dengan menggunakan Zoom.
Sebagai contoh adalah, pada ayam broiler secara genetik di tahun 2005 sudah mampu tumbuh dengan berat badan sebesar 2,4 kg selama enam minggu, dengan total mortalitas hanya empat persen. Pada tahun tersebut juga secara genetik bisa mencapai Feed Convertion Rate (FCR) sebesar 1,7.
“Dengan demikian, kebutuhan sumberdaya yang lebih sedikit, namun hasil produksi bisa lebih baik,” tegasnya.
Acara ini mengundang narasumber ahli peternakan dari dalam dan luar negeri, antara lain Dr. Ir. Nasrullah selaku Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan), Prof. Anjas Asmara Samsudin selaku dosen Universiti Putra Malaysia, Malaysia, dan Prof. Suyadi selaku Dekan Fapet UB. Sementara peserta berasal dari beberapa negara seperti Taiwan, Malaysia, Italia, Australia, dan Indonesia.
Menurut ketua pelaksana, Rizki Prafitri, Ph.D, ICESAI merupakan annual international seminar yang dilakukan sejak tahun 2020 lalu. Menurutnya konferensi ini adalah wadah bagi peneliti, dosen, mahasiswa dan semuanya untuk menunjukkan kontribusi bidang peternakan.
“Mereka bisa menunjukkan hasil penelitian mereka seperti skripsi, tesis, disertasi, atau penelitian yang dilakukan dosen, yang tadinya akan dipublikasikan secara internasional,” terangnya.
Ia menjelaskan untuk acara kali ini berbeda dengan tahun lalu, dimana tahun lalu memilih topik tentang Covid-19. Sedangkan untuk tahun ini bertema sustainable animal industry post Covid.
“Hanya saja perbedaan penyelenggaraan di tahun tidak hanya presentasi paper, tetapi juga kesempatan untuk menampilkan poster, dimana peserta presentasi poster ini tidak memberikan presentasi. Cukup dengan menampilkan poster tentang penelitiannya seperti apa,” katanya.