
Oleh: Tony Unandar*
Benarkah ayam modern memang ditakdirkan lebih sensitif terhadap infeksi mikroba yang tergolong mikroorganisme prokariotik ini? Atau, apakah progres efisiensi pemeliharaan yang “kebablasan” menjadi faktor pencetus utama kasus ini di lapangan?
Di Indonesia, frekuensi kasus Mikoplasmosis pada peternakan ayam modern dalam kurun waktu satu dasawarsa terakhir tampaknya terus meningkat, baik yang disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum (Mg) maupun Mycoplasma synoviae (Ms).
Artikel singkat ini mencoba mengulasnya dari “kaca mata” seorang praktisi lapang yang tengah mencermati alternatif tindakan jitu untuk mengurangi kerugian peternak akibat gerak senyap “sang perampok” performa pada peternakan ayam modern.
Sekilas tentang Mikoplasma
Secara umum, mikroba Mikoplasma pada ayam, yaitu Mycoplasma gallisepticum (Mg) maupun Mycoplasma synoviae (Ms), dikategorikan sebagai mikroorganisme yang sangat rapuh karena tidak dapat bertahan hidup dalam jangka waktu yang lama di luar tubuh induk semang (ayam).
Namun, manusia, burung, dan hewan liar lainnya yang ada di sekitar peternakan ayam (ferret animals) serta peralatan peternakan dapat bertindak sebagai sumber kontaminan dan atau vektor mekanis penyebaran Mikoplasma dalam suatu populasi ayam dari satu kandang ke kandang lainnya, atau bahkan dari suatu flok ke flok ayam lainnya (Kleven, 1990).
Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah data penelitian yang dilaporkan oleh Yamamoto (1989) yang mengindikasikan bahwa, baik Mg atau Ms, dapat bertahan hidup pada komponen bulu ayam ataupun bahan organik yang berasal dari ayam sampai dengan 2 hari.
Kondisi lapangan yang kurang ideal, seperti tidak adanya istirahat kandang, kepadatan ayam yang tinggi, dan pengaturan ventilasi dan sanitasi peternakan yang buruk, serta sistem pemeliharaan ayam yang “multi-age” atau banyak umur dalam satu lokasi farm, menyebabkan Mikoplasmosis, baik yang disebabkan oleh Mg atau Ms, seolah-olah selalu berulang dengan derajat keparahan yang semakin lama semakin hebat.
Salah satu keunikan partikel sel Mikoplasma adalah tidak mempunyai dinding sel. Itulah sebabnya preparat antibiotika kelompok Beta-laktam, seperti Penisilin dan derivatnya, serta kelompok Sefalosporin tidak efektif digunakan untuk mengatasi kasus-kasus yang disebabkan oleh infeksi Mikoplasma.

Keunikan lainnya dari Mikoplasma, baik Mg maupun Ms, adalah mempunyai variasi yang sangat besar antar strain yang ada (Yoder, 1989), terutama dari karakter virulensi (keganasan), antigenisitas, maupun jaringan target infeksi (tissue tropism).
Variasi yang besar dalam beberapa aspek tersebut di atas mengakibatkan bervariasinya derajat keparahan kasus dan atau bervariasinya manifestasi gejala klinis yang tampil di lapangan yang berujung pada kesulitan besar dalam menegakkan diagnosa yang akurat dan cepat bagi praktisi lapangan.
Pola penularan Mikoplasma
Mikroba Mycoplasma gallisepticum (Mg) dan Mycoplasma synoviae (Ms) dapat ditularkan baik secara horizontal maupun secara vertikal. Walaupun penularan melalui percikan batuk dan bersin ayam yang tertular (aerosol) bisa terjadi sampai dengan jarak 1 km atau bahkan lebih, akan tetapi penularan secara aerosol merupakan model penularan horizontal yang tidak terlalu progresif karena seperti yang telah disebutkan di atas bahwa Mikoplasma sangat rapuh ketika berada di luar tubuh ayam.
Namun, fakta lapangan mengindikasikan bahwa dalam sistem kandang tertutup (closed house system), kasus Mikoplasmosis pada ayam modern, baik pada breeder, broiler, atau layer komersial, pola penularan secara aerosol tampaknya cukup dominan dibandingkan dengan ayam yang dipelihara dalam sistem perkandangan konvensional (terbuka/open house system).
Walaupun realita pola penularan Mikoplasma (Mg dan Ms) pada ayam secara vertikal via telur (in-ovo) telah lama diketahui oleh para ahli penyakit unggas, akan tetapi faktor pencetus maupun faktor pendukung yang menentukan kapan terjadinya transmisi vertikal belum diketahui secara tuntas.
Yang jelas, transmisi vertikal akan terjadi secara progresif dalam kurun waktu 4 hingga 6 minggu pertama pasca infeksi bagi suatu populasi ayam tertentu. Untuk fase-fase selanjutnya, baik dari segi waktu maupun derajat transmisi, penularan secara vertikal tidak mempunyai pola yang jelas dan umumnya hanya terjadi secara sporadik (Rodriguez, 1980).
Dalam satu dekade terakhir, tampaknya ada pergeseran tantangan mikroba Mikoplasma pada industri ayam modern. Di Amerika dan Canada misalnya, data survei kasus lapangan menunjukkan bahwa frekuensi kasus Mikoplasmosis yang tinggi ternyata tidak hanya disebabkan oleh Mg, akan tetapi juga Ms.
Hasil survei tersebut juga ditegaskan oleh pengamatan para praktisi lapangan di mana Mikoplasmosis yang disebabkan oleh Ms umumnya mempunyai pola penularan horizontal yang lebih cepat dengan tingkat kesulitan yang relatif lebih tinggi untuk diatasi (Carrier, 2001).
Tulisan ini merupakan potongan dari artikel rubrik Kesehatan majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153









