Secara umum untuk industri pakan unggas di Indonesia masih terus tumbuh. Hal itu terbukti dari munculnya pemain baru dalam bisnis pakan unggas maupun dari perusahaan lama yang melakukan ekspansi bisnis dengan mendirikan pabrik-pabrik baru. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup stabil walaupun tidak juga bisa dikatakan melesat, menjadi daya tarik investor untuk menancapkan tongkat bisnisnya di negeri ini. Konsumsi produk hasil unggas masyarakat Indonesia yang terus meningkat tentu saja mendorong peningkatan produksi pakan karena kedua industri ini senantiasa berjalan beriringan.
Desianto Budi Utomo yang merupakan Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) mengungkapkan bahwa selain di Pulau Jawa, pertumbuhan pabrik pakan yang cukup bagus terjadi di Pulau Sumatra dan Kalimantan. Adanya rencana pemindahan ibu kota negara ke Pulau Kalimantan juga berdampak positif terhadap perkembangan industri ini, selain juga karena pertumbuhan ekonomi di Kalimantan tergolong baik.
Desianto berujar, untuk jumlah total produksi pakan ternak pada tahun tahun 2019 ini diprediksi sampai dengan akhir tahun sebanyak 20,5 juta ton dengan komposisi untuk pakan unggas sebanyak 92 persen sehingga total produksi pakan unggas pada tahun 2019 sebanyak 18,86 juta ton, sedangkan sisanya adalah pakan ikan dan udang. Mengenai jagung sebagai bahan pakan utama produksi pakan, untuk tahun 2018 telah menyerap 6,3 juta ton, sedangkan penggunaan jagung dalam formula pakan untuk tahun 2019 diprediksi berkisar antara 35-40 persen.
Harga jagung yang mencapai Rp4.400-4.600 per kilogramnya merupakan harga yang tidak efisien sehingga pabrikan harus mengurangi komposisi formulasi dari yang biasa menggunakan jagung sampai 50 persen, saat ini hanya sekitar 35 persen. Pabrik pakan mencukupinya dengan bahan pakan lain seperti feed wheat, rape seed meal, dan lain-lain. Lebih lanjut daripada itu, Desianto mengungkapkan struktur biaya untuk pakan ditentukan oleh bahan pakan utama seperti jagung yang berkontribusi terhadap ransum pakan sebesar 50-60 persen. Jika harga jagung mahal maka akan berpengaruh terhadap formula. Idealnya, saat harga jagung meningkat, maka harga pakan juga seharusnya naik. “Kenyataannya tidak bisa seperti itu, pabrik pakan biasanya mencari strategi lain agar tidak serta merta menaikkan harga pakan,” ungkapnya.
Baca Juga : Pentingnya Efisiensi Logistik Pakan
Sampai dengan saat ini, GPMT memiliki anggota sebanyak 84 pabrik pakan (sistem keanggotaan berdasarkan pabrik pakan) yang berasal dari 38 perusahaan. Anggotanya tersebar di berbagai wilayah seperti di Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. GPMT juga berusaha menjadi mitra strategis berbagai pihak seperti pemerintah maupun peternak dan senantiasa memberikan masukan kepada kementerian terkait mengenai berbagai kebijakan termasuk mengenai komoditas jagung. GPMT juga berharap kepada Bulog agar bisa berfungsi maksimal menjadi buffer stock nasional komoditas jagung.
Masih menurut Desianto, berdasarkan kebutuhan saat ini, gudang Bulog idealnya mampu menyimpan cadangan jagung sebanyak 500 ribu-1 juta ton per bulan dalam bentuk pipilan kering. Hal itu bertujuan apabila sewaktu-waktu suplai jagung berkurang, maka Bulog bisa mengeluarkannya dari gudang, sehingga harga di lapangan juga tidak akan bergejolak. Sebagaimana diketahui, pengguna komoditas jagung terbesar di Indonesia adalah pabrik pakan ternak, yakni mampu menyerap 68 persen dari total produksi jagung nasional. GPMT
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi November 2019 dengan judul “GPMT, Industri Pakan Ternak Terus Tumbuh”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153