ayam dalam kandang beralas kawat dan kayu
Oleh: drh. Esti Dhamayanti
Di tengah pandemi yang melanda dunia saat ini, semua orang berlomba-lomba untuk meningkatkan sistem imunnya agar tidak terserang virus. Selain meningkatkan sistem kekebalan tubuh, kegiatan penunjang seperti menjaga higiene, sanitasi, dan asupan gizi yang baik, menjadi ujung tombak dalam mencegah virus tersebut menginfeksi diri. Namun, bagaimana jika virus tersebut bekerja menghancurkan sistem kekebalan tubuh?

Infectious Bursal Disease atau yang dikenal dengan sebutan gumboro merupakan penyakit viral yang dapat menurunkan daya tahan tubuh. Diperlukan kontrol terhadap vektor serta strategi untuk melakukan vaksinasi pada waktu yang tepat sebagai langkah proteksi.

Pada dunia perunggasan, terdapat beberapa jenis virus yang dapat menurunkan sistem imun atau disebut juga immunosuppressive seperti marek, chicken anemia virus, limfoid leukosis, dan infectious bursal disease (IBD). Tiap penyakit tersebut memiliki ciri yang berbeda namun memiliki tujuan utama yaitu melemahkan penghasil sel imun tubuh. Artikel ini akan membahas mengenai IBD, temuan penyakit ini dilapangan pada broiler, dan langkah perbaikan managemen kandang.
Infectious Bursal Disease virus (IBDV) yang disebut juga gumboro merupakan penyakit virus yang berasal dari genus Avibirnavirus. Penyakit immunosupresive ini dikategorikan sangat menular. Terdapat dua stereotipe dari IBDV yaitu 1 dan 2, di mana kedua stereotipe tersebut dapat menginfeksi beberapa jenis unggas seperti ayam, kalkun, itik, ayam mutiara, dan burung unta.
Prevalensi kematian dari strain IBDV klasik yaitu 10-50%, sedangkan yang bersifat hipervirulent atau sangat ganas (vvIBDV) dapat mencapai 20-30% sedangkan tingkat kesakitannya mencapai 100% (Teshom et al. 2015). Virus ini secara berkala berevolusi di lapangan dengan perubahan pada antigenesitas maupun virulensinya. Penyebaran dari IBDV dapat berasal dari kontaminasi dari feses ayam yang sakit, maupun kontaminasi pada air minum dan pakan.
Saat diwawancarai oleh Poultry Indonesia, Kamis (14/5), drh. Pradifta Ramdani selaku Animal Health Service PT Malindo Feedmill, Tbk mengatakan bahwa berdasarkan temuannya di lapangan, kasus IBD pada broiler terjadi pada saat transisi musim. ”Biasanya kejadiannya diatas umur 21 hari. Mulai banyak kasusnya saat transisi musim kemarau ke hujan (pancaroba) apalagi kalau sudah banyak ditemukan Franky sebagai vektor IBD di bawah sekam,” ucapnya.
Pradifta menambahkan bahwa tingkat deplesi tertinggi yang ia temukan pada kasus IBD mencapai 3% per hari. ”Biasanya terlihat pola kematiannya tiga hari naik dan empat hari stagnan, lalu langsung turun, tetapi dengan catatan tidak ada infeksi sekunder yang mengikuti,” jelasnya.
Baca Juga: Pengendalian Vektor Penyakit Unggas di Era Bebas AGP
Franky atau serangga yang bernama latin Alphitobius diaperinus merupakan serangga yang menjadi vektor dari sekitar 60 penyakit di mana unggas rentan terhadapnya. Beberapa di antaranya yaitu Newcastle Disease (ND), avian influenza, Marek’s disease, dan IBD itu sendiri. Franky juga bertanggung jawab atas transmisi beberapa jenis bakteri, diantaranya Eschericia coli dan Salmonella (Boozer 2008). Kedua bakteri tersebut dapat menyebabkan foodborne disease.
Pradifta mengatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang mendukung terjadinya IBD di lapangan, di antaranya persiapan kandang yang terburu-buru, strategi penjarangan yang kurang baik, stres, serta sarana dan prasarana kandang yang sudah rusak dan perlu dipebaiki. “Apalagi kalau kandang yang alasnya semen dan sudah banyak bolong bakal jadi tempat Franky bersembunyi. Penjarangan juga penting dilakukan karena akan berdampak pada kepadatan ayam di dalam kandang dan IBD itu muncul ketika kondisi ayam mengalami stres,” imbuh Pradifta.
Pada kasus IBD yang ditemukannya, gejala klinis yang terlihat yaitu ayam terlihat lemah, tidur berdiri, nafsu makan turun ditandai dengan average daily gain (ADG) yang tidak maksimal, feses yang encer dan berwarna putih. Virus IBD akan mengalami fase inkubasi pada tubuh hewan sekitar 2-3 hari, kemudian timbulnya gejala klinis. Sebagai virus yang menyebabkan immunosupresi, IBDV yang menginfeksi tubuh akan memperbanyak dirinya pada salah satu organ penghasil imun tubuh ayam, yaitu bursa fabricius.
Hal ini terlihat dari hasil temuan nekropsi yang Pradifta temukan di lapang, di antaranya menunjukkan bursa yang seperti diselimuti gelatin pada infeksi awal dan hermoragi juga dapat terjadi pada bursa. Lesi patologi yang ditemukan pada organ lainnya yaitu hemoragi pada junctio proventikulus dan gizzard, hemoragi (striae) pada otot pada dan dada.
Pembengkakan pada bursa fabricius (Sumber gambar: Poultrydvm.com)
Berdasarkan penelitian Dey et al. (2019), diferensiasi dari sel B pada bursa fabrisius memiliki peran utama dari replikasi virus. Fase akut dari penyakit IBD berlangsung sekitar 7-10 hari di mana terjadi pengurangan jumlah sel B pada daerah korteks maupun medula bursa fabricius, sehingga bursa fabricius menjadi atropi setelah mengalami pembengkakan, edema, dan terkadang disertai dengan lesio hemoragi pada bursa fabricius pada 3-4 hari post-infeksi. Virus IBD juga dapat dideteksi pada organ limfoid perifer, seperti sekal tonsil, limpa, dan timus.
Pada unggas muda yang sembuh dapat mengalami immunosupressi secara permanen. Unggas muda yang mengalami immunosupresi irreversible tersebut dapat lebih mudah terserang oleh mikroorganisme opportunistik yang normalnya tidak bersifat patogen pada unggas yang sehat. Pradifta mengatakan bahwa beberapa penyakit mungkin terjadi bersamaan dengan kasus IBD yaitu Chronic Respiratory Disease, Colibacillosis, Inclusion Body Hepatitis (IBH), dan Newcastle Disease (ND). “Penyakit tersebut berpeluang untuk terjadi jika challenge lapangannya tinggi,” ucapnya.*Wartawan Poultry Indonesia
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Juni 2020 ini dilanjutkan pada judul “Upaya Kontrol IBD dalam Peternakan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153