Peternakan ayam komersial sudah banyak bertebaran di nusantara. Namun, tidak dengan peternakan ayam hobi, khususnya ayam kontes. Peternakan ayam ini terbilang langka, salah satu peternakan ayam kontes itu bernama Raja Laut Farm, milik H. Muhammad Idris. Idris, begitu sapaan akrabnya, memberi nama farm-nya dengan Raja Laut dikarenakan letak farm ini di Pulau Seribu,yang dikelilingi laut.
Ayam champion lahir dari darah champion. Hanya seribu satu, kesempatan ayam champion lahir dari darah yang tidak champion, yang champion saja belum tentu champion apalagi yang tidak champion.
Ia menceritakan ketertarikan untuk menekuni ayam kontes berawal dari hobi memelihara ayam sejak kecil, di mana hobi ini sejalan dengan hobi sang Ayah yang juga memelihara ayam, khususnya ayam bangkok. Idris mengungkapkan bahwa tidak terasa hobi itu terus tertanam dalam dirinya, hingga selanjutnya membuatnya berani bermimpi untuk bisa menjadi salah satu peternak ayam hobi yang bisa disegani,dan bisa bersaing dengan farm-farm besar lainnya bahkan dari negara lain.
Idris menceritakan awalnya ketika ia masih duduk di bangku sekolah ia sudah memelihara ayam. Namun setelah ia terjun di dunia usaha, ia memutuskan untuk mengembangkan usaha ternak ayam kontes dengan lebih serius dengan membangun kandang khusus. “Sejak kecil saya melihat bapak saya pelihara ayam bangkok, dan tanpa sengaja saya juga ikut pelihara ayam, meski ayam lokal biasa, dan suatu saat saya diberi kepercayaan untuk memelihara ayam sendiri,” terang pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum PPAKN (Perkumpulan Penghobi Ayam Kontes Nasional).
Ia mengungkapkan pada awalnya ia hanya membangun satu kandang. Namun, tanpa terasa pembangunan kandang berlanjut ke kandang kedua, ketiga, bahkan sampai berkembang membangun kandang di sejumlah lokasi yang terpisah-pisah. Ia mengungkapkan sudah beternak selama puluhan tahun. Terbilang lebih dari dua puluh tahun, sehingga Ia mengaku hafal betul konsep dalam beternak, ia mengerti betul awal mula beternak. Sebab semua itu sudah ia lakukan dalam waktu yang lama, sehingga menjadi ingatan yang terus membekas di pikirannya.
“Awalnya saya beternak ayam lokal. Namun belakangan saya mengikuti perkembangan perayaman di dunia, dan acuan saya untuk beternak ayam kontes adalah Thailand. Dari para peternak di Thailand itulah saya merasa lebih tertarik lagi untuk mengembangkan banyak hal. Dan menurut pengamatan saya semua itu memang perlu biaya yang besar dan perlu pengorbanan waktu dan tenaga agar bisa mempunyai hasil yang maksimal,” terangnya.
Ia mengaku Thailand adalah tempat yang cocok untuk belajar ayam kontes, tak mengherankan jika kemudian ia selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke Thailand, setidaknya dua kali dalam setahun. Ia menegaskan bahwa dari negeri Thailand itulah ia banyak belajar dan membeli ayam kontes. Idris mengaku lebih menyukai ayam kontes dibanding dengan jenis ayam lain, karena menurutnya ada kebanggaan tersendiri jika ayamnya bisa menjadi juara dalam kontes.
Ia menjelaskan bahwa tidak mudah menciptakan ayam champion. Sebab ayam champion lahir dari darah ayam champion juga. Ia mengungkapkan bahwa hanya seribu satu peluang ayam champion lahir dari darah ayam yang tidak champion. “Ayam yang champion saja belum tentu bisa menjadi champion apalagi ayam yang tidak champion. Jadi menurut saya ayam bagus lahir dari keturunan yang bagus pula, serta dari proses penyilangan yang tepat,” tegasnya.
Ia mengungkapkan bahwa ayam-ayam terbaik dari negera lain, tidak mudah datang ke Indonesia. Menurutnya kalaupun berhasil masuk ke Indonesia, tentunya dengan harga fantastik, yang cenderung dengan harga yang tidak wajar.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Mei 2022 dengan judul “H. Muhammad Idris, Sang Penghobi Ayam Kontes”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153
Menyukai ini:
Suka Memuat...