POULTRYINDONESIA, Jakarta – Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) menggelar acara Halal Bihalal dan silaturahmi Idulfitri 1446 Hijriah di Arion Suites Hotel, Kemang, Jakarta Selatan, Minggu (13/4/2025). Acara ini dihadiri oleh para pengurus PDHI, perwakilan pemerintah, sektor swasta, organisasi profesi, hingga akademisi yang berkecimpung dalam dunia peternakan dan kesehatan hewan.
Ketua Umum PB PDHI, Drh Munawaroh, dalam sambutannya menyampaikan rasa bahagia atas terselenggaranya kegiatan tersebut yang menjadi momen penting untuk mempererat kebersamaan dan kolaborasi lintas sektor.
“Hari ini menjadi hari yang paling membahagiakan karena kita bisa bersilaturahmi, saling memaafkan, dan memperkuat ikatan antarprofesi dan pemangku kepentingan,” ujar Munawaroh.
Ia menegaskan bahwa tantangan sektor peternakan dan kesehatan hewan semakin kompleks, sehingga kolaborasi menjadi kunci utama. Terlebih, sejumlah penyakit hewan strategis seperti penyakit mulut dan kuku (PMK) serta lumpy skin disease (LSD) masih menjadi ancaman nyata.
“Permasalahan penyakit makin hari makin bertambah. Kita masih terus berjuang bersama Kementerian Pertanian untuk mengendalikan PMK dan LSD. Negara kita luas, ini menjadi potensi sekaligus tantangan besar bagi profesi dokter hewan,” jelasnya.
Munawaroh juga menyoroti keterbatasan jumlah dokter hewan di Indonesia. Saat ini, hanya sekitar 15.000 dokter hewan yang terdaftar di PDHI. Jumlah ini dinilai masih jauh dari cukup untuk menjangkau seluruh wilayah Indonesia.
“Jumlah dokter hewan masih terbatas. Ke depan akan ada delapan program studi kedokteran hewan baru di sejumlah universitas. Kami berharap kualitas lulusan semakin baik, karena mereka inilah yang akan menjaga kesehatan hewan Indonesia,” katanya.
Tak hanya itu, Munawaroh menegaskan pentingnya regulasi yang kuat untuk mendukung profesi dokter hewan di Tanah Air.
“Kami terus mendorong adanya undang-undang yang menjadi payung hukum pelayanan kedokteran hewan di Indonesia. PDHI tidak akan berhenti berjuang dan akan terus membina anggota agar kompetensi dokter hewan Indonesia tidak tertinggal dibandingkan negara lain,” tegasnya.
Senada dengan itu, Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Drh Imron Suandy, yang hadir mewakili Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, menyampaikan apresiasinya atas peran aktif PDHI dalam membangun sektor peternakan.
“Kami sangat mengapresiasi peran PDHI yang terus berkontribusi dalam pembangunan sektor kesehatan hewan. Kolaborasi antara pemerintah, organisasi profesi, akademisi, dan masyarakat harus terus diperkuat,” ungkap Imron.
Menurut Imron, budaya gotong royong dalam penanganan penyakit hewan strategis perlu dijaga dan dikembangkan. Pemerintah, katanya, juga terbuka terhadap berbagai masukan demi memperkuat sistem kesehatan hewan nasional.
“Kami terus membuka ruang kolaborasi untuk menjaga keamanan ternak dan mewujudkan ketahanan pangan nasional. Ini bagian dari upaya besar menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Ia menambahkan, Indonesia harus mampu menjaga status kesehatan hewan yang setara dengan negara lain agar sektor ini semakin menarik bagi investasi.
“Semua sumber daya yang kita miliki harus diarahkan untuk menggairahkan sektor peternakan dan kesehatan hewan. Dengan begitu, peluang investasi juga akan meningkat,” pungkas Imron.