POULTRYINDONESIA, Bekasi – Program makan bergizi gratis (MBG) yang menjadi salah satu program andalan pemerintah disambut dengan antusias oleh berbagai stakeholders perunggasan nasional. Anggaran sebesar 71 triliun di tahun 2025 telah disiapkan sebagai awalan berjalannya program ini. Tak berlebihan, apabila program MBG diharapkan menjadi angin segar bagi ekosistem perunggasan nasional. Hal ini menyeruak dan menjadi salah satu pokok bahasan dalam acara seminar nasional outlook bisnis peternakan “Program MBG (Makan Bergizi Gratis): Angin Segar Bagi Industri Peternakan?” yang diadakan oleh Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) di Hotel Avenzel Cibubur, Rabu (20/11).
Deputi Sistem dan Tata Kelola Badan Gizi Nasional, Tigor Pangaribuan menjelaskan bahwa tujuan MBG tak sekedar untuk meningkatkan asupan gizi dan pengetahuan gizi kelompok sasaran. Namun juga bagaimana dapat meningkatkan ekonomi lokal. Dimana, nantinya semua bahan yang dibutuhkan dalam MBG diharapkan bersumber dari rakyat, termasuk ayam dan telur yang bersumber dari peternak-peternak rakyat di berbagai daerah. Dengan hal ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku UMKM serta dapat menciptakan lapangan kerja dan kesempatan ekonomi baru.
“Dalam penyusunan ekosistem program MBG kami melibatkan secara langsung peran Bumdes dan koperasi agar sirkular ekonomi dapat berjalan dengan baik. Dalam hal ini Bapak Presiden memerintahkan agar diutamakan penyuplai bahan makanan ke dapur-dapur MBG itu adalah Bumdes dan koperasi yang menaungi para petani, peternak maupun nelayan. Bukan perusahaan atau pun industri yang langsung deal dengan Badan Gizi Nasional. Hal ini guna mewujudkan terciptanya sirkulasi ekonomi desa sekaligus menekan peluang kebocoran anggaran,” tambahnya.
Sementara itu, Achmad Dawami selaku Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) optimis bahwa konsumsi daging dan telur ayam ras akan terus meningkat. Dirinya menyebutkan bahwa berdasarkan perkiraan pemerintah, konsumsi daging ayam akan tumbuh sebesar 3 % atau menjadi 13,21 kg/kapita/tahun. Sedangkan berdasarkan proyeksi OECD akan meningkat sekitar 1,2%, menjadi 8,25 %. Menurutnya perbedaan data ini menjadi hal yang wajar, karena kedua lembaga ini menggunakan metode perhitungan yang berbeda. Sedangkan untuk konsumsi telur ayam per kapita pada tahun 2025 diperkirakan mencapai  21,88 kg/kapita/tahun.
“Untuk supply demand broiler maupun layer diperkirakan masih surplus, karena jumlah DOC nya juga naik. Namun dengan adanya program MBG diharapkan akan terjadi keseimbangan yang lebih bagus. Kalau dihitung kebutuhannya, MBG diperkirakan membutuhkan ayam sekitar 911 ribu ton/tahun. Tapi saya tidak yakin itu bisa terjadi, bisa menambah 250 – 300 ribu ton saja sudah bagus, sehingga terjadi keseimbangan yang cukup baik. Dan saya yakin, MBG ini akan membawa dampak, namun apakah dampaknya akan sesuai dengan yang dikalkulasikan? Belum tentu. Karena masyarakat kita apabila diberi gratis, apakah akan memilih tepat beli? Itu juga harus dipikirkan. Terlepas dari itu, dalam jangka panjang MBG itu diharapkan dapat membiasakan masyarakat kita untuk makan protein hewani, termasuk ayam dan telur,” tambahnya.
Hal senada diutarakan oleh Desianto B Utomo, selaku Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makan Ternak (GPMT). Dirinya menjelaskan bahwa produksi pakan agro tahun 2024 diperkirakan turun 2%, dikarenakan deflasi selama 5 bulan berturut-turut sejak Mei 2024 sehingga menurunnya daya beli masyarakat. Hal ini juga berdampak pada penurunan demand akan ayam dan telur yang otomatis juga berimbas pada penurunan demand pakan.
“Apabila dilihat, konsumsi daging, telur dan susu masyarakat Indonesia masih rendah dibandingkan negara-negara lain. Oleh karena itu, dengan adanya program MBG ini diharapkan dapat menjadi penggerak ekonomi khususnya sektor perunggasan. Dan dengan adanya program MBG, yang diikuti dengan tren peningkatan ukuran ayam panen, serta perkiraan inflasi dan pertumbuhan ekonomi, maka produksi pakan agro nasional tahun 2025 diperkirakan akan tumbuh sekitar 2-3%,” tambahnya.
Wakil Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinasar Indonesia), Hidayaturrahman melihat bahwa dampak program MBG yang saat ini banyak dibicarakan adalah dapat meningkatkan konsumsi telur dan daging ayam ras. Dimana hal ini menjadi peluang sekaligus solusi persoalan utama perunggasan yaitu oversupply.  Dengan hal ini diharapkan dapat memberikan kesempatan bagi peternak UMKM, perusahaan besar, dan peternak mandiri untuk tumbuh.
“Selain itu, program ini juga dapat mendorong peluang bagi sektor-sektor lain yang selama ini mendukung industri perunggasan untuk berkembang. Dengan meningkatnya permintaan produk perunggasan (ayam, telur, daging), kebutuhan terhadap pakan ternak dan obat-obatan pun otomatis juga akan meningkat, sehingga dapat mendorong pertumbuhan industri terkait. Selain itu Rumah Potong Hewan (RPH) yang lebih efisien dan memenuhi standar higienis akan dibutuhkan untuk memenuhi pasokan kebutuhan program MBG. Disisi lain hal ini juga dapat  mendorong peningkatan permintaan untuk komoditas pangan lainnya, seperti jagung untuk pakan atau sayuran sebagai pelengkap gizi,” tegas Dayat.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Asohi menyampaikan bahwa program MBG berpeluang meningkatkan pertumbuhan protein hewani masyarakat Indonesia terutama terkait daging, telur ayam dan susu. Hal ini secara langsung juga akan membuat industri peternakan Indonesia tumbuh di tahun 2025.
“Secara umum, industri peternakan optimis tumbuh sekitar 5-10%. Dengan berbagai pertimbangan dan perhitungan, diprediksi industri obat hewan pun akan turut tumbuh hingga sekitar 15% dengan peluang ekspor yang semakin besar jika mendapatkan dukungan dari pemerintah. Demi mencapai hal tersebut, Asohi turut mengajak semua stakeholders untuk secara konsisten melakukan kampanye edukasi pentingnya protein hewani,” tambahnya.