POULTRYINDONESIA, Jakarta – Kondisi berat terus dirasakan oleh para pelaku usaha perunggasan, terutama peternak mandiri broiler. Yang mana peternak mandiri dipaksa berkompetisi secara langsung dengan perusahaan integrasi yang  mempunyai berbagai sumber daya produksi. Persoalan ini membuat para peternak pun tidak mampu bersaing, tak mampu bertahan hingga banyak yang berguguran.
Hal tersebut diungkapkan oleh Alvino Antonio, selaku Ketua Komunitas Unggas Nusantara dalam sebuah acara yang bertajuk Diskusi Dialegtika. Acara yang terselenggara secara daring melalui aplikasi zoom ini diprakarsai oleh Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia Wilayah 3 (Ismapeti Wilayah 3), Minggu (14/5).
Melihat kondisi tersebut, Alvino berharap agar pemerintah dapat segera membuat draft Rancangan Peraturan Presiden tentang Perlindungan Peternak Rakyat Ayam Ras. Sebagaimana diamanatkan UU No.18/2009 Jo; UU 41/2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, pasal 33 ketentuan lebih lanjut mengenai Budidaya sebagaimana dimaksud Pasal 27 sampai Pasal 32 diatur dengan Peraturan Presiden. Menurutnya peraturan yang diharapkan peternak adalah peraturan yang mengandung sanksi tegas ketika ada yang melanggar dan tidak hanya bersifat himbauan semata.
Baca Juga: Ciptakan SDM yang Luar Biasa di Industri Agrikultur
“Selain itu kami berharap, pemerintah dapat membuat segmentasi pasar. Lebih jujur kami ingin integrator itu tidak berbudi daya. Artinya mereka hanya menjual sapronak, DOC, pakan dan OVK. Biar lah ranah budi daya itu diserahkan ke kita, para peternak mandiri. Atau kalau memang perusahaan besar telah melakukan investasi yang terlalu banyak tidak masalah. Hanya saja tolong dibatasi dan pemerintah membuat segmentasi pasar. Jadi perusahaan besar ini larinya ke horeka dan rantai dingin hingga olahan. Jangan lah ikut ke pasar becek atau pasar tradisional, yang mana merupakan pasar peternak mandiri bergantung,” jelasnya
Sementara itu, dirinya juga menyinggung bahwa ketika harga livebird sedang rendah, pemerintah sebenarnya bisa membantu meneyerap ayam dari peternak mandiri yang kemudian dibawa ke RPHU dan diolah sebagai langkah jangka pendek. Produk ini kemudian bisa didistribusikan ke jaringan BUMN yang jumlahnya tidak sedikit.
“Kalau pemerintah bisa melakukan itu, kami pun juga terbantu. Sebenarnya tidak banyak kok populasi ayam dari para peternak mandiri ini. Mungkin saat ini populasi ayam di peternak mandiri itu tidak lebih dari 10 %. Sisanya adalah punya perusahaan besar dan kemitraannya,” tambahnya.
Masih dalam kesempatan yang sama Alvino juga mengajak para peternak untuk bersama membenahi bisnis unggas ini. Dirinya menyerukan untuk tetap  kompak dan jangan sampai mau di adu domba.