Tumpukan bahan pakan dalam gudang pakan
POULTRYNDONESIA, Jakarta – Naiknya harga pakan yang terjadi pada beberapa bulan terakhir ini kembali menjadi tantangan peternak di tengah optimisme membaiknya kondisi industri perunggasan pasca melalui kondisi berat pada tahun 2020.
Melihat fenomena tersebut, majalah Poultry Indonesia berinisiatif menyelenggarakan seminar virtual Poultry Indonesia Forum (PIF) edisi ke-7 dengan tema “Dampak Naiknya Harga Pakan terhadap Budi Daya Unggas” melalui aplikasi Zoom, Sabtu (23/1).
Dalam pemaparannya, drh. Makmun Junaiddin, M.Sc selaku Direktur Pakan, Ditjen PKH, mengungkapkan bahwa kenaikan harga pakan menjadi sesuatu yang sering diperbincangkan beberapa waktu terakhir.
Kenaikan tersebut disebabkan oleh naiknya harga bahan pakan impor yang proporsinya sekitar 35 persen dalam pakan unggas.
“Menyikapi hal tersebut pemerintah telah melakukan subsidi bea masuk dan PPN sehingga importir tidak menanggung biaya tersebut. Kemudian, melalui litbang kami juga terus berupaya melakukan riset-riset untuk mencari bahan pakan alternatif yang dapat diproduksi secara massal untuk mengurangi ketergantungan akan bahan pakan impor,” jelasnya.
Selain itu pemerintah juga mencoba meningkatkan transparansi terkait harga pakan dan info pembelian jagung oleh pabrik pakan yang bisa dilihat di http://pakan.ditjenpkh.pertanian.go.id. Dirinya berharap kenaikan pakan tersebut dapat berjalan secara bijak, dalam artian tidak merugikan industri pakan, namun juga tidak memberatkan para peternak.
Pada kesempatan yang sama, Desianto Budi Utomo, Ph.D, yang merupakan Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), menjelaskan bahwa 80-85 persen biaya pakan ditentukan oleh biaya bahan pakan, jadi apabila harga bahan pakan naik bisa dipastikan harga pakan juga ikut naik.
Menurutnya, sejak Agustus 2020 hingga November 2020 telah terjadi kenaikan harga soybean meal (SBM), padahal SBM sebagai sumber protein utama dalam pakan proporsinya mencapai 20-25 persen dan tidak dapat diproduksi secara lokal, telah mengalami kenaikan sebesar Rp1.694 per kilogram.
Sementara itu untuk meat bone meal (MBM), sejak bulan Agustus-Desember 2020 terjadi kenaikan sebesar Rp3.725 per kilogram. Diperkirakan naiknya harga bahan pakan tingkat global akan terus berlanjut hingga awal tahun atau Kuartal I 2021.
“Untuk kelangsungan industri pakan ternak ke depan, dukungan pemerintah seperti pembebasan PPN atas bahan pakan dan fasilitas BMDTP sangat dibutuhkan. Selain itu, industri pakan juga dituntut untuk meningkatkan daya saing dalam perdagangan internasional,” ujarnya.
Baca Juga: Maxi Mil Atasi Penyusutan Kadar Air dalam Pakan
Hal senada diungkapkan oleh Prof. Budi Tangendjaja, Konsultan Teknis, Nutrisi dan Teknologi Pakan dari USSEC. Ia menceritakan bahwa kenaikan harga SBM di dunia terjadi karena lonjakan permintaan beberapa waktu ke belakang.
Salah satu kenaikan ini disebabkan oleh telah selesainya wabah ASF (African Swine Fever) di China, sehingga terjadi kenaikan impor kedelai China dari 68,0 menjadi 98,5 MMT pada tahun 2020. Hal ini diperparah dengan masalah kekeringan yang terjadi di Brazil dan Argentina, sehingga produksi kedelai menurun. Selain itu, tingginya permintaan ini juga menimbulkan kenaikan biaya kontainer.
“Naik turunnya harga bahan pakan merupakan sebuah hal yang biasa terjadi di dunia. Janganlah kita merespon terlalu berlebihan serta selalu menyiapkan antisipasi. Untuk importir, sebaiknya selalu ikuti informasi dunia sehingga perubahan dapat diantisipasi. Selain itu untuk meningkatkan daya tawar, impor bahan pakan dapat dilakukan secara berkelompok,” jelasnya.
Budi Tangendjaja juga menambahkan bahwa industri perunggasan dan pabrik pakan seharusnya terus meningkatkan daya saing serta menciptakan formulasi pakan untuk mencari alternatif bahan pakan.
Sementara itu menurut Ermin Magtagnob, Senior Technical Services Specialist Novus International mengungkapkan bahwa seiring dengan kenaikan harga bahan pakan, penggunaan enzim protease dalam pakan dapat menjadi alternatif solusi yang bisa digunakan oleh peternak.
Penggunaan enzim protease dalam pakan dapat mengoptimalkan nilai nutrisi pada bahan pakan terutama sumber protein. Seperti pada bungkil kedelai yang mempunyai anti nutrisi trypsin inhibitor yang berpengaruh negatif terhadap performa ternak.
Selain itu, penggunaan enzim ini dapat meningkatkan kesehatan usus, mengurangi bakteri patogen dan mengurangi inflamasi pada usus dalam saluran pencernaan.
“Enzim protease dapat meningkatkan efisiensi biaya sehingga memberikan penghematan pada biaya produksi, terlebih ketika terjadi kenaikan harga pakan seperti saat ini,” tegasnya.