Sebagai negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam, hadirnya bulan puasa yang dilanjutkan dengan perayaan lebaran menjadi sebuah momentum tahunan yang banyak dinanti. Tak hanya sebagai momen religius, Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) yang satu ini juga mempunyai dampak terhadap sektor ekonomi masyarakat Indonesia. Yang mana sudah menjadi fenomena lumrah disaat bulan puasa tiba, permintaan terhadap berbagai jenis bahan kebutuhan pokok mengalami kenaikan yang diikuti juga dengan kenaikan harga. Tentu hal ini bisa menjadi peluang yang bisa dimanfaatkan oleh para pelaku usaha di bidang pangan. Tak terkecuali pada bisnis perunggasan.
Kendati pasokan dipastikan aman, nyatanya peningkatan permintaan konsumen yang digadang gadang sebagai salah satu berkah di momen puasa dan lebaran tak lantas dirasakan oleh semua pelaku usaha perunggasan.
Pada saat momen HBKN, telah menjadi pola tahunan bahwa akan terjadi tren kenaikan permintaan pada telur dan daging ayam di masyarakat. Sebagai bahan pangan sumber protein yang terjangkau dan mudah didapat, maka tak ayal apabila daging dan telur ayam menjadi menu favorit untuk disajikan. Tak hanya digunakan sebagai menu buka dan sahur, produk unggas juga sering kali dicari untuk bermacam kebutuhan lain di bulan momentum ini.
Telur ayam misalnya, melihat pada kebiasaan masyarakat Indonesia, banyak digunakan sebagai bahan utama pembuatan berbagai macam kue lebaran. Sedangkan daging ayam, juga menjadi lauk andalan dalam berbagai kegiatan kolektif, seperti munggahan, buka bersama dan lain sebagainya. Tak hanya itu, jangan lupakan opor ayam sebagai menu masakan ikonik yang selalu diidentikkan dengan momen lebaran. Dengan berbagai fenomena tersebut, maka cukup beralasan apabila para pelaku usaha perunggasan melihat suatu peluang yang dapat dimanfaatkan di saat momen puasa dan lebaran ini.
Pasokan aman, harga telur dan LB beda haluan
Pembahasan terkait ketersediaan dan harga pangan selalu menjadi sorotan banyak pihak menjelang HBKN terutama saat puasa dan lebaran. Kedua hal ini saling berkorelasi. Pasalnya tren permintaan yang meningkat pada bulan-bulan tersebut, harus diimbangi dengan pasokan produk yang cukup. Apabila tidak, maka hal ini akan membuat harga pangan melambung tinggi.
Dalam sebuah seminar daring, Rabu (22/3), Kepala Seksi Ternak Unggas, Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak, Ditjen PKH, Iqbal Alim menyampaikan bahwa secara pasokan telur dan daging ayam, untuk menghadapi momen puasa dan lebaran tahun ini aman. Iqbal menyebutkan, berdasarkan prognosis supply demand ayam ras pedaging tahun 2023, produksi daging ayam tahun 2023 adalah sebesar 3,997,653 ton, sedangkan kebutuhan konsumsi sebesar 3,507,754 ton, sehingga terdapat surplus sebanyak 489,899 ton. Dan dengan surplus tahun 2022 sebanyak 150,489 ton, maka surplus kumulatif pada tahun 2023 sebesar 640,388 ton. Kemudian khusus untuk bulan puasa dan lebaran yang jatuh pada bulan Maret dan April 2023, diperoleh ketersediaan daging ayam sebanyak 669.708 ton dengan kebutuhan konsumsi sebanyak 608.575 ton, sehingga terjadi neraca surplus sebanyak 61.133 ton. “Begitu pun juga pada pasokan telur yang cukup untuk menghadapi momen puasa dan lebaran tahun 2023,” tambahnya.
Namun demikian, ia melanjutkan yang harus diperhatikan adalah terjadinya disparitas harga yang tinggi antara di peternak dan konsumen, terkhusus di komoditas ayam ras pedaging. Dimana ketika harga di konsumen stabil tinggi, berbanding terbalik dengan rerata harga livebird (LB) tingkat peternak di beberapa sentra produksi yang masih berada jauh di bawah HAP (Harga Acuan Perbadan). Berbeda dengan harga jual telur yang relatif stabil dan memiliki disparitas harga yang tidak jauh antara produsen dan konsumen.
“Sampai di minggu ke-2 Maret, rataan harga LB di tingkat peternak masih di angka Rp18.360,00 per kilogram, bahkan di Jawa Tengah masih berada di angka Rp16.975,00 per kilogram. Kalau harga telur relatif stabil baik di tingkat produsennya maupun konsumen, yang kami waspadai adalah jangan sampai harga telur ini melonjak tinggi. Untuk data, di tingkat produsen berada di angka kurang lebih Rp26.500,00 per kilogram, sedangkan harga di tingkat konsumennya saya cek berada di kasaran Rp29.000 – 30.000,00 per kilogram,” katanya.
Mengingat, saat momen puasa dan lebaran terjadi kenaikan permintaan untuk produk unggas sekitar 15-25 %, Iqbal berharap bahwa dengan pasokan daging ayam dan telur yang tercukupi maka akan terjadi keseimbangan harga di tingkat peternak maupun konsumen. Artinya harga daging ayam dan telur di tingkat peternak stabil di atas HPP (harga pokok produksi), sedangkan harga di tingkat konsumen pun juga tidak akan mengalami lonjakan yang drastis.
Sementar itu, ketersediaan pasokan yang cukup juga dipastikan oleh Asrokh Nawawi selaku Ketua IV Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU). Menurutnya setiap tahun, perunggasan nasional terkhusus ayam ras pedaging selalu mengalami surplus produksi. Hal ini terus terjadi walaupun sejak tahun 2019 terus dilakukan pengurangan impor GPS ayam ras pedaging. Yang mana pada 2019, impor GPS sebanyak 761 ribu ekor, turun menjadi 694 ribu ekor pada tahun 2020 dan turun lagi pada tahun 2021 menjadi 642 ribu ekor. Kemudian pada tahun 2022 di angka 630 ribu ekor.
“Pada 2021, diperkirakan terjadi surplus 290 juta ekor ayam, dan tahun 2022 surplus sebanyak 498 juta ekor. Hal ini dengan catatan sudah ada pengaturan supply dan demand melalui berbagai skema seperti cutting HE atau pun afkir dini PS. Kemudian berdasarkan prognosis, pada tahun 2023 Indonesia juga mengalami surplus ayam ras pedaging sebanyak 433 juta ekor. Sedangkan apabila apabila dilihat tonase nya, diprediksi pada tahun 2023 terjadi kelebihan 505 ribu ton/tahun. Jadi apabila ditanya pasokan perunggasan apakah cukup? Jelas cukup, bahkan surplus,” jelas Asrokh dalam materinya dalam sebuah seminar daring yang membahas pasokan perunggasan dalam menghadapi puasa dan lebaran, Rabu (22/3).
Kemudian dalam upaya stabilisasi supply demand dan harga, pemerintah juga telah mengeluarkan Surat Dirjen PKH No. B-16/PK.230/F/02/2023 perihal imbauan pengaturan produksi kepada perusahaan pembibit untuk melakukan pengendalian produksi day old chick (DOC) FS secara mandiri, ditargetkan total sebanyak 104.406.921 ekor, yang direalisasikan mulai 21 Februari – 15 April 2023. Dimana Asrokh menjelaskan bahwa menanggapi SE tersebut perusahaan pembibitan telah melakukan pemangkasan per minggunya sebesar 14,6 juta ekor, sehingga total mencapai 104,4 juta dalam periode tersebut.
“Dengan pemangkasan ini, produksi DOC per minggu menjadi 45,2 juta ekor. Angka ini diharapkan membuat harga DOC dan LB bisa terangkat dan mendekati bahkan masuk ke HAP pemerintah, yang efeknya akan terlihat selama 33 hari. Sedangkan apabila diproyeksikan ke LB, dengan asumsi deplesi 5 %, maka produksi per minggunya sekitar 42,9 juta ekor. Mestinya ini menjadi angka yang cukup baik, sehingga harga bisa terangkat, terlebih dengan mobilisasi penduduk yang luar biasa ketika momen mudik lebaran,” jelas Asrokh.
Adapun terkait harga, Ari Subagja seorang peternak ayam ras pedaging dari Cianjur mengaku bahwa saat momen puasa dan lebaran harga karkas di pasaran akan naik. Namun hal tersebut tidak diikuti dengan kenaikan harga LB di tingkat peternak. Menurutnya hal ini menjadi sebuah anomali, karena saat peak season seperti momen munggahan pun harga LB tidak bisa terangkat. Yang biasanya bisa di atas Rp20.000,00, tahun ini mentok kuat di kisaran Rp17.000,00-18.000,00 per kilogram.
“Di pasar harga ayam akan naik, namun di kandang akan stagnan seperti ini saja. Hal ini tak lepas dari keluarnya karkas frozen ketika harga karkas di pasaran mengalami tren kenaikan. Dan frozen ini sistemnya door to door, jadi ketika di pasar terjadi kenaikan pun, tidak akan lama karena akan masuk juga karkas-karkas frozen. Terlebih dengan zaman digital saat ini, dimana informasi akan sangat cepat sekali sampai. Dan hal ini secara langsung akan terus menekan harga di kandang, sehingga akan sulit untuk naik,” jelas Ari saat berbincang dengan Poultry Indonesia, di Jakarta, Senin (13/3).
Di sisi lain, Ari menambahkan bahwa menjelang momen puasa telah terjadi kenaikan harga pada inputnya, terkhusus DOC. Menurutnya pada awal bulan Maret harga DOC berada dikisaran Rp1.000-1.500,00 per ekor dan menginjak minggu ketiga harga DOC telah tembus Rp5.000,00 per ekor. Dengan berbagai dinamika yang ada, menurutnya peternak akan berat mendapatkan harga di atas biaya pokok produksi (BPP).
Kondisi sedikit berbeda nampaknya dirasakan oleh para pelaku usaha rumah potong hewan unggas (RPHU). Saat berbincang dengan Poultry Indonesia, di daerah Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (21/3) Sigit Pambudi selaku Wakil Ketua Persekutuan dan Perkumpulan Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (ARPHUIN) mengaku bahwa kondisi bisnis karkas tak jauh beda dengan bisnis LB. Dimana keduanya merupakan komoditas yang harganya sangat tergantung dengan pasar. Hal ini membuat dinamika bisnis RPHU ini sangat luar biasa berfluktuasi. Ada saat dimana pelaku usaha benar-benar harus berjuang hanya untuk survive, dan ada kalanya dimana usaha ini bisa berjualan dengan tenang.
“Hal ini tak lain karena karkas juga termasuk komoditas, sehingga harganya akan selalu terbawa kondisi pasar. Ketika LB harganya lagi jatuh, karkas harganya juga akan ketarik ke bawah. Dan yang harus dipahami adalah karkas frozen yang kita simpan itu belum tentu dari LB yang harganya murah. Bisa jadi itu berasal dari hasil potongan sebelumnya, sehingga ketika harga rendah kita harus jual rugi. Demikian pula kalau harga LB naik, tidak serta merta harga karkas itu mengikuti. Demikian sebaliknya, sehingga dinamikanya luar biasa sekali. Dan ketika menjelang puasa, kondisi mulai terasa lebih enak. Semoga hal ini berlangsung terus, bukan hanya sekedar saat puasa dan lebaran, tapi kalau bisa lanjut setelah lebaran. Karena momen setelah lebaran menjadi hal yang krusial pada bisnis ini,” terangnya.
Setali tiga uang, Sigit memastikan bahwa pasokan karkas untuk menghadapi momen puasa dan lebaran akan aman. Namun demikian, dirinya mengaku bahwa untuk angka-angka berapa stok di cold storage ada di ranah Kesmavet. Dan penambahan stok di cold storage itu, identik dengan penambahan RPHU baru, sehingga otomatis di situ ada warehouse dan pasti akan bertambah
“Tapi apabila dilihat dari harga LB dan karkas saat ini, Sigit melihat bahwa stoknya masih cukup banyak, bahkan berlebih. Terutama untuk menghadapi kebutuhan HBKN ini. Demikian juga harganya gak akan melonjak sangat tinggi. Jadi saya rasa, stok cukup, harganya juga terjangkau. Kalau harga naik, itu wajar. Dan ini menjadi berkah bagi kami peternak dan RPHU untuk menarik keuntungan. Karena sebelumnya kondisinya memang cukup berat,” tambah Sigit.
Adapun keberkahan momentum puasa dan lebaran juga dirasakan oleh para peternak ayam ras petelur. Saat diwawancara Poultry Indonesia melalui sambungan telepon, Kamis (16/3) Yudianto Yosgiarso selaku Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional (PPN) menyampaikan bahwa harga telur menjelang datangnya puasa mengalami tren kenaikan. Hal ini bertahan hingga minggu pertama puasa berlangsung dan berada stabil di antara HAP Perbadan. Disisi lain menurut Yudi, disparitas harga antara di peternak dan di konsumen tidaklah jauh berbeda. Hal ini tak lepas dari peranan Badan Pangan Nasional yang telah membuat aturan main berupa Perbadan no 5 tahun 2022.
“Kenaikan harga telur ayam ras di pasaran disebabkan oleh permintaan pasar yang semakin meningkat pada momen puasa dan lebaran mencapai sekitar 30 %. Biasanya permintaan akan naik ketika menjelang puasa karena terdapat tradisi munggahan terkhusus di Jawa. Kemudian ketika puasa melandai dan akan naik lagi saat mendekati lebaran. Selain itu kebutuhan lain untuk bahan baku roti kering juga meningkat. Dengan hukum pasar apabila terjadi peningkatan permintaan, maka harga pun juga akan meningkat. Walaupun tidak dipungkiri bahwa terkadang di sisi tata niaga, juga masih ditemui oknum yang bermain dan menggoreng isu telur ini, sehingga membuat harga naik,” ujar Yudi.
Lebih lanjut, Yudi menjelaskan bahwa peningkatan permintaan dan harga telur ayam ras juga disebabkan karena adanya bantuan sosial yang diberikan oleh pemerintah. Hal ini menjadi dilema, mengingat kepentingan masyarakat luas yang betul-betul harus dibantu pada saat momen HBKN di tengah kenaikan harga berbagai bahan pokok. Namun di sisi lain hal ini akan membawa dampak kepada kenaikan harga telur di masyarakat. Selain itu, pada ranah budi daya juga terjadi kenaikan harga pakan terutama jagung, yang tembus di angka Rp5.500,00 – 6000,00 di tingkat konsumen. Tentu dengan hal ini menyebabkan biaya produksi naik, dan otomatis harga telur pun ikut naik untuk menutupi biaya produksi tersebut.
Pantauan di tingkat konsumen
Tren kenaikan harga secara langsung juga dirasakan di tingkat konsumen. Hal ini diakui oleh Suparno, pedagang sayur yang juga menjual daging dan telur ayam di Jakarta Pusat. Menurutnya harga telur ayam di bulan puasa 2023 mengalami kenaikan, akan tetapi harga daging ayam masih normal. Harga telur yang semula Rp28.000 kini naik hingga Rp32.000 per kilogram nya.
“Harga telur saat ini sedang naik, sedangkan harga daging ayam masih normal. Biasanya nanti di pertengahan bulan puasa harganya akan turun, tapi menjelang lebaran pasti naik lagi. Rata-rata kenaikan berkisar dari Rp2.000,00-5.000,00 dari harga saat itu. Kalau harga telur biasanya dari Rp28.000,00 ke Rp32000,00 kalau harga daging ayam gak terlalu banyak naiknya. Misal harganya dari Rp40.000,00 paling naik ke Rp43.000,00 atau Rp45.000,00 dari harga normal saat itu. Kalau permintaan, tidak terlalu meningkat, tapi palingan pembeli mengeluh saja karena harganya naik. Tapi mau tidak mau, pasti juga akan tetap beli,” jelasnya pada tim Poultry Indonesia saat diwawancarai, Rabu (29/3).
Sementara itu, saat berbincang dengan Poultry Indonesia, Rabu (29/3) Dwi Sulistyorini seorang ibu rumah tangga di Jakarta Pusat mengaku bahwa tradisinya setiap puasa dan lebaran pembelian daging dan telur ayam pasti meningkat. Meski harga tak menentu, pembelian daging dan telur ayam di bulan puasa dan lebaran ia pastikan meningkat. Dirinya juga mengaku bahwa terjadi kenaikan harga di pangan asal unggas ini. Menurutnya yang paling berasa itu harga telur. Dimana sebelumnya Rp27.000,00 sekarang sudah di atas Rp30.000,00.
“Kalau daging ayam, kenaikan tidak terlalu signifikan, jadi tidak terlalu terasa. Tapi berbeda dengan telur yang kenaikannya lebih terasa. Dan untuk belanja sendiri, bedanya sama tahun lalu jauh banget. Tahun ini jauh lebih banyak belanjanya, kalau tahun-tahun sebelumnya kan masih terbatas, karena ada ketakutan dengan Covid-19. Kalau tahun ini belanjanya meningkat karena kadang saat buka puasa pingin makan macam-macam, jadi bikin sendiri. Dan biasanya di pertengahan bulan puasa, pasti akan jenuh masak. Tapi menuju lebaran nanti akan sibuk lagi masak buat persiapan hari lebaran, misalnya bikin ketupat, bikin opor ayam, bikin kue-kuean. Itu kan butuh ayam dan telurnya. Harganya juga pasti naik, tapi mau bagaimana. Namanya juga butuh. Jadi mau tidak mau pasti dibeli,” tutupnya.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Laporan Utama pada majalah Poultry Indonesia edisi April 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi April 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com
Menyukai ini:
Suka Memuat...