POULTRYINDONESIA, Jakarta – Tingginya biaya produksi, yang tidak diimbangi oleh kenaikan harga livebird (LB) sebagai produk output peternak broiler, membuat kerugian tak terhindarkan. Hal ini membuat puluhan peternak ayam mandiri yang tergabung dalam Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN) kembali menggelar aksi simpatik dengan membagi-bagikan ayam secara gratis sebagai bentuk kekesalan atau protes kepada pemerintah pada hari Kamis 11 Januari 2024. Sebanyak kurang lebih 1500 ekor LB dibagikan secara gratis di sekitaran patung kuda (Monas) serta depan kantor Kementerian Pertanian, Jakarta.
“Saat ini situasi sulit tengah dihadapi oleh peternak rakyat dan peternak mandiri. Pasalnya harga ayam hidup di tingkat peternak rakyat dan peternak mandiri hanya sebesar Rp16.000,00/kg sampai Rp17.000,00/kg. Jauh dibawah rata-rata harga produksi yang mencapai Rp20.500,00 sampai Rp21.500,00/kg,  karena input harga pakan mengalami kenaikan. Padahal apabila kita lihat di sisi konsumen, harga ayam tetap stabil tinggi di atas Rp30.000,00/kg,” jelas Alvino Antonio selaku Ketua KPUN.
Menurutnya, situasi kemarjinalan yang dihadapi peternak rakyat dan peternak mandiri ini semakin berat dengan kebijakan pemerintah yang memberikan izin kepada perusahaan-perusahaan integrator untuk menjual hasil produksinya ke pasar-pasar tradisional dan konsumen rumah tangga. Sehingga, pangsa pasar peternak rakyat dan peternak mandiri secara otomatis semakin tergerus dan mengakibatkan hilangnya peluang peternak rakyat dan peternak mandiri untuk berusaha di bidang peternakan unggas.
“Saat ini, industri perunggasan nasional mengalami ketidak-berpihakan kepada pembudidayanya, khususnya para peternak rakyat dan peternak mandiri yang mesti berhadapan dengan perusahaan-perusahaan modern terintegrasi dan bertarung di pasar yang sama. Karena keterbatasan modal, akses dan teknologi, hasilnya mudah ditebak, peternak rakyat dan peternak mandiri secara perlahan namun pasti kalahbersaing dan mulai berguguran. Pilihannya serba tidak enak, bertahan rugi atau mati,” tegasnya.
Sementara itu, Ari Subagja, seorang peternak dari Cianjur, Jawa Barat menyampaikan bahwa  situasi di lapangan menunjukkan bahwa setiap hari peternak rakyat dan peternak mandiri terus menerus berada dalam tekanan dan terancam punah dari industri perunggasan Indonesia. Kebijakan yang tidak berpihak, harga bibit dan bahan pakan yang tinggi, harga jual yang rendah, serta adanya “over supply” ayam hidup ditingkat konsumen berdampak pada penghasilan, keberadaan, dan kehidupan peternak rakyat dan peternak mandiri saat ini.
“Mungkin saat ini hanya 5-10 % peternak mandiri yang bisa bertahan. Pada tahun 2000, jumlah peternak rakyat dan peternak mandiri masih sekitar 2,5 juta orang. Tetapi saat ini jumlahnya diperkirakan kurang dari 170.000 orang. Situasi ini menunjukkan posisi yang sangat berat  yang dialami oleh para peternak rakyat dan peternak mandiri di Indonesia,” tambahnya.
Dalam aksi simpatik tersebut, KPUN berharap agar pemerintah dapat menegakkan dan memerintahkan para marketing dan offtaker LB dikandang sesuai Harga Acuan Pembelian di Tingkat Produsen yang diatur di dalam Peraturan Badan Pangan Nasional No. 5 Tahun 2022. Selain itu peternak juga berharap agar hak budi daya ternak unggas 100% dapat dikembalikan ke Peternak Rakyat dan Peternak Mandiri. Terakhir, peternak mengharapkan turun tangan Presiden untuk menerbitkan Peraturan Presiden mengenai perlindungan peternak sebagaimana amanat UU No. 18/2009 Jo. UU 41/2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan Pasal 33 ketentuan lebih lanjut mengenai Budidaya sebagaimana dimaksud Pasal 27 sampai Pasal 32 diatur dengan Peraturan Presiden.