POULTRYINDONESIA, Jakarta – Beberapa waktu kebelakang, fluktuasi harga jual produk ayam ras baik telur maupun livebird (LB) sangatlah luar biasa. Pada suatu waktu, produk asal ayam ras naik tinggi, tapi tak jarang pula jatuh hingga membuat para peternak merugi.
Dinamika tersebut, ternyata tidak terjadi di telur puyuh. Sebab, menurut Slamet Wuryadi selaku owner Slamet Quail Farm, harga telur puyuh belum pernah dijual di bawah BEP produksi. Di mana rata-rata peternak masih mendapatkan margin bahkan jauh diatas BEP. Menurutnya BEP telur puyuh per butirnya Rp. 300 yang bisa terjual di atas Rp. 400 bahkan hingga Rp. 1000 perbutirnya.
Ketika mengisi acara Bimbingan dan Teknis Propaktani yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Slamet mengungkapkan bahwa selama ini belum ada keseimbangan antara pasokan dan permintaan.
Baca Juga: Jalan Baru Menuju Penerapan Konsep One Health di Indonesia
“Permintaan untuk 3 provinsi di Indonesia Jabar, DKI Jakarta, dan Banten mencapai 16,5 juta butir per minggu. Kami baru bisa memasok sebanyak 3,5 juta butir, sehingga masih kurang 13 juta butir per minggunya. Oleh karena itu, jika korporasi petani mampu memproduksi harian 10 juta butir, maka sudah menghasilkan omset harian sebesar 3,5 Milyar,” terangnya dalam acara yang mengangkat tema “Peran Pendidikan Vokasi dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan Indonesia” yang diselenggarakan secara streaming melalui kanal youtube Propaktani, Kamis ( 22/9).
Dirinya melanjutkan, omset yang demikian besar, semoga tidak dilirik oleh para pemilik modal besar dan biarlah menjadi usaha bagi kaum kecil. Sebab, peternakan puyuh merupakan sebuah solusi wirausaha yang cepat menghasilkan uang, dari awal menetas sampai dipelihara 45 hari sudah mampu memproduksi telur dan akan bertahan untuk bertelur hingga 18 bulan lamanya.
“Usaha ternak puyuh ini sangat minim dalam waktu kerja. Sebab, satu operator bisa mengerjakan 5000 ekor dalam waktu 4 jam per hari dan hanya membutuhkan lahan 12×10 meter saja. Lagipula ternak puyuh bisa dibilang zero waste (bebas sampah). Sebab, feses puyuh selain sebagai pupuk tanaman organik dapat juga dimanfaatkan untuk biogas, bahan dasar kolam, dan media maggot setelah difermentasi,” pungkasnya.