Oleh : Ahmad Sanusi*
Menaik lagi untuk kesekian kalinya, harga pakan mengalami lonjakan harga yang jauh terbilang dari kata murah. Mengingat pakan adalah sumber nutrisi yang dibutuhkan untuk menjalankan aktivitas dan metabolisme tubuh ternak. Kenaikan harga pakan ternak tampaknya bukan sebuah masalah baru, namun masalah yang selalu berulang kali terjadi setiap tahunnya.
Sekarang, kenaikan harga pakan membuat kondisi perunggasan bergejolak. Tentunya kenaikan ini akan berimbas pada kenaikan harga produksi dan harga produk perunggasan. Jikalau kita tilik lebih dalam lagi, hal ini juga disebabkan oleh  melonjaknya harga komoditas bahan pakan dunia seperti jagung dan bungkil kedelai.  Pasalnya, biaya produksi pakan 80% dipengaruhi oleh biaya bahan pakan. 
Naiknya harga jagung tidak lain dan tidak bukan dipicu oleh menipisnya stok jagung itu sendiri. Akibat kenaikan ini, pakan ternak pun ikut terkerek karena komposisi jagung yang menyumbang 50% pada  pakan ternak. Peternak berharap, pemerintah menambah lebih banyak sentra pakan khusus jagung pada daerah yang memiliki basis peternakan, serta akan penjagaan dan stabilitas harga  pakan agar tetap dalam kendali sesuai regulasi dan aturan yang telah ditetapkan.
Harapan serupa disampaikan oleh Novi Hendri seorang peternak ayam petelur asal Kabupaten Lima Puluh Kota. Beliau menyampaikan harapan kepada pemerintah untuk mencarikan alternatif solusi terhadap permasalahan ini.  Menormalkan kembali harga yang sudah terlanjur melonjak agar biaya produksi bisa ditekan, kegiatan jual beli stabil, biaya produksi tidak besar ketimbang harga penjualan, serta mengharapkan pemerintah menetapkan kebijakan yang dapat mensejahterakan peternak rakyat.
Kenaikan harga pakan tentu berimbas terhadap harga telur. Saat ini, harga telur ayam di pasaran terhitung tinggi. Peternak hanya bisa mengupayakan efektifitas produksi. Berupaya semaksimal mungkin menekan biaya produksi dengan harapan margin keuntungan dapat meningkat. Peternak dibuat pusing dengan keadaan pasar yang tidak stabil. Carut-marut keadaan yang tidak jelas, dimana kenaikan harga telur yang diikuti dengan melonjaknya biaya produksi tentu membuat keuntungan yang diraup peternak menjadi sedikit.
Masih menurut Novi, saat ini harga telur ayam dari peternak berkisar Rp45.000,00 hingga Rp50.000,00/tray. Menurutnya, penyebab utama kenaikan harga telur adalah harga pakan. Pakan sangat memengaruhi harga pokok penjualan. “Meski harga telur naik, dampak kenaikan harga pakan tersebut membuat keuntungan (margin) dari jual telur menipis,“ keluhnya saat berdiskusi dengan penulis melalui sambungan telepon, Kamis (13/7).
Selain itu, dampak dari kenaikan ini juga mempengaruhi daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah. Mengingat telur menjanjikan protein hewani yang dibutuhkan masyarakat. Telur juga komoditi yang mudah didapatkan, hampir setiap rumah menyediakan telur tiap harinya. Namun, hari ini masyarakat berharap telur murah adalah sebuah mimpi belaka. Kenaikan harga telur membuat masyarakat memandang ini sebuah beban.
Tentu kita tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan. Ditengah upaya pemerintah hari ini menurunkan angka stunting dan kelaparan namun juga diikuti dengan kenaikan harga telur. Maka pemerintah harus segera mengambil langkah cepat dan solusi agar permasalahan ini tidak kian semrawut. Kita mengetahui bersama telur memiliki protein hewani, salah satu zat gizi pembatas yang menjadi parameter dalam penentuan status stunting pada anak. Jika kebutuhan gizi terpenuhi, maka stunting bisa dihindari. 
Peternakan unggas perlu menjadi perhatian khusus mengingat potensi besar yang dimiliki salah satunya memberdayakan masyarakat di dalamnya dalam rangka penyediaan lapangan kerja untuk upaya pengentasan kemiskinan. Disamping itu, produk unggas sebagai penyumbang protein hewani untuk pemenuhan zat gizi masyarakat terutama kalangan anak-anak untuk menanggulangi stunting dan kelaparan di indonesia. Maka diharapkan, pemerintah kembali mengkaji permasalahan yang terjadi dan merumuskan kebijakan yang tepat agar mensejahterakan seluruh golongan masyarakat di Indonesia. *Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Peternakan, Universitas Andalas