POULTRYINDONESIA, Blitar – Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah kanal media memberitakan kenaikan harga telur yang cukup signifikan di berbagai daerah. Namun, jika dicermati lebih dalam, harga telur ayam ras di tingkat peternak sebenarnya masih berada pada level yang wajar.
“Menurut saya, pada bulan Maulid biasanya banyak kegiatan dan hajatan. Secara tradisi, hal itu berdampak positif terhadap permintaan dan harga telur. Saat ini harga telur di tingkat peternak masih terjaga di kisaran Rp26.000–26.500 per kilogram, sesuai acuan harga Badan Pangan Nasional (Bapanas) tahun 2024. Alhamdulillah, stok di tingkat peternak juga masih cukup tersedia,” ujar Eti Marlina, Koordinator Rumah Kebersamaan Peternak Layer Mandiri Blitar Kediri Tulungagung Malang Trenggalek (BKT NT), dalam pernyataan daring, Senin (20/10).
Dengan kondisi tersebut, Eti meyakini bahwa stok telur masih mencukupi. Keyakinan itu didasarkannya pada harga telur di tingkat peternak di sejumlah sentra ayam petelur seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, dan Palembang yang masih sesuai dengan Harga Acuan Pemerintah (HAP). Selain itu, data dari Kementerian Pertanian serta neraca pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) juga menunjukkan kondisi surplus hingga akhir tahun 2025.
Kendati demikan, Eti mengakui bahwa sejumlah tantangan turut dihadapi peternak. Kondisi cuaca panas dan masa pancaroba menyebabkan sebagian peternak mengalami penurunan produksi. “Selama dua bulan terakhir, banyak kasus penurunan produksi di lapangan, terutama akibat infeksi penyakit yang disebabkan virus dan bakteri,” jelasnya.
Selain faktor cuaca, harga jagung juga menjadi variabel penting yang memengaruhi biaya produksi telur. Sekitar 50 persen bahan baku pakan berasal dari jagung. Di tengah sulitnya memperoleh jagung dengan harga wajar, Eti mengapresiasi program penyaluran jagung SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) oleh Bulog, yang mulai diterima peternak di Jawa Timur sejak awal Oktober 2025.
“Kami, para peternak di Blitar, Kediri, Malang, Tulungagung, dan Trenggalek, sudah menerima jagung SPHP sejak tanggal 4–5 Oktober dengan harga Rp5.500 per kilogram sampai ke kandang,” ujarnya.
Program SPHP menyalurkan sekitar 52.400 ton jagung, dengan prioritas bagi peternak mikro, kecil, dan menengah. Penyaluran bertahap ini diharapkan mampu menahan harga agar tidak melampaui Rp7.000 per kilogram. Namun, karena pasokan masih terbatas, harga jagung di wilayah Blitar Raya dan sekitarnya saat ini berada di kisaran Rp6.600–6.700 per kilogram.
“Harga jagung sekarang memang lebih tinggi dari HAP karena suplai terbatas dan permintaan meningkat. Kami para peternak tidak menuntut harga murah, tetapi harga yang wajar. Kami juga mendukung kesejahteraan petani jagung agar stabilisasi harga telur bisa tercapai,” tegasnya.
Dengan kondisi tersebut, Eti berharap pemerintah dapat terus menjaga ketersediaan bahan baku pakan, khususnya jagung, sepanjang tahun dengan harga yang seimbang antara petani dan peternak.
“Kami berharap Bulog tetap hadir sebagai buffer stock. Idealnya, Bulog menyerap jagung saat puncak panen pada Maret–Mei, kemudian melepas jagung SPHP pada periode Agustus hingga Februari ketika pasokan mulai menurun. Dengan begitu, stabilisasi harga jagung dan telur dapat terwujud,” pungkasnya.