POULTRYINDONESIA, Jakarta – Kondisi supply dan demand telur ayam ras nasional pada 2026 dinilai masih relatif aman, bahkan berpotensi surplus, meskipun Indonesia sedang memasuki periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Indikasi kecukupan pasokan ini terlihat dari tren harga telur yang cenderung stabil, bahkan tidak mengalami lonjakan harga seperti pola musiman pada tahun-tahun sebelumnya.
Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Suwardi selaku Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (KPUS) melalui sambungan telepon pada Senin, (2/2). Secara historis, menjelang HBKN harga telur biasanya mengalami kenaikan akibat peningkatan permintaan konsumsi rumah tangga dan industri makanan. Namun pada awal 2026, fenomena tersebut tidak sepenuhnya terjadi. Hal ini memperkuat indikasi bahwa pasokan telur di tingkat produksi masih mencukupi kebutuhan pasar domestik.
“Meskipun secara nasional pasokan dinilai cukup, disparitas harga masih terjadi, terutama antara wilayah barat dan timur Indonesia. Tantangan logistik menyebabkan harga telur di beberapa wilayah bisa melonjak hingga ribuan rupiah di atas rata-rata nasional”.
Menurut Suwardi, permasalahan bukan hanya pada produksi, tetapi juga pada rantai distribusi, termasuk biaya transportasi dan efektivitas logistik. Ketika distribusi tidak optimal, harga di daerah tujuan menjadi lebih mahal, sementara harga di sentra produksi relatif stabil atau bahkan turun.
“Saya menilai salah satu tantangan terbesar dalam menjaga keseimbangan supply-demand telur di Indonesia adalah struktur biaya produksi yang tinggi. Mulai dari bahan baku pakan, proses produksi pakan, hingga distribusi produk akhir, seluruhnya dibebani komponen biaya tambahan termasuk pajak dan logistik”.
Jika struktur biaya tersebut dapat ditekan, harga telur di tingkat konsumen berpotensi jauh lebih rendah dibanding kondisi saat ini. Selain faktor distribusi, dinamika harga Day Old Chick (DOC), soybean meal (SBM), dan jagung pakan juga menjadi penentu stabilitas produksi telur. Kebijakan harga acuan pemerintah sebenarnya sudah ada, namun implementasi di lapangan masih dipengaruhi perilaku pasar, termasuk peran agen dan dinamika kebutuhan peternak.
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Poultry Indonesia