Benny Pandapotan Nainggolan
Dibesarkan dari keluarga yang tak memiliki latar belakang wirausaha, tak membuat keinginannya menjadi salah satu wirausaha muda pudar begitu saja. Ia yang besar dalam lingkungan minoritas (suku batak) kala itu, tak membuat pemikirannya tumpul. Benny Pandapotan Nainggolan, inilah laki-laki yang saat ini sukses menjadi wirausaha muda telur bebek yang saat ini menjadi pemilik dari Eggy Telur Asin Pedas (CV Moving Serving Rising).

Hidup jangan standar-standar saja, hidup itu harus punya mimpi. Hidup harus punya tujuan, ketika orang punya tujuan hidup, pasti ia tahu apa yang harus dilakukan. Kita juga harus punya mental juang yang bagus, agar ketika kita dihantam permasalahan, kita tidak tumbang begitu saja

Pria kelahiran Bogor, 4 Februari 1992 ini merupakan keturunan Batak (Sumatra Barat) yang kemudian orang tuanya merantau ke Jakarta. Ia dibesarkan dari seorang Ibu Rumah Tangga, dan ayah yang berprofesi seorang pegawai swasta, yang kala itu bekerja di Jakarta dan kemudian pindah ke Bogor. Oleh karenanya Benny lahir dan tumbuh hingga SMP di Bogor.
“Kecil saya tumbuh seperti anak kecil pada umumnya, yang suka bermain di sawah bahkan mandi di sungai. Karena saya merupakan anak terakhir dari lima bersaudara, dan kakak-kakak saya semua perempuan, saya tumbuh menjadi sosok penurut, baik kepada orang tua saya dan juga nurut pada semua kakak-kakak saya. Saya memang tumbuh tidak terlalu didikte keluarga, namun saya selalu dibimbing untuk tidak bandel, dan tidak boleh terjerumus dalam hal-hal negatif,” terang Benny saat berdiskusi dengan tim Poultry Indonesia melalui aplikasi Zoom Meeting, pada Senin (15/11).
Selepas lulus SMP ia kemudian melanjutkan sekolah SMA di Bandung, dan tinggal bersama kakaknya. Sejak SMA, jiwa kewirausahaannya sudah muncul, ia sudah terbiasa berjualan mulai dari berjualan pulsa, berjualan lagu MP3, hingga berjualan kertas bekas. Tak hanya itu, ia juga aktif diberbagai organisasi, dari pernah menjadi Ketua Pramuka, hingga pernah menjadi Ketua Pecinta Alam. Ia memang tumbuh menjadi sosok dominan dan visioner, ia juga senang dengan musik dan menyukai olahraga.
Ia yang sedari kecil senang berkomunikasi dan bersosialisasi ini, pernah berangan-angan bahwa nanti jika sudah besar ingin menjadi manajer di perusahaannya sendiri. Sedari kecil ia memang gemar membaca buku, sampai buku tentang bagaimana menjalani kehidupan ia baca. Dari buku ia banyak belajar, ia juga suka belajar dari berbincang-bincang dengan orang lain.
“Sampai suatu ketika saya punya pandangan bahwa jadi orang itu harus berbeda, tidak boleh sama dengan orang pada umumnya, dan itu seperti muncul secara alami saja. Sampai saat kuliah saya tidak berpikiran untuk kerja, saya mulai berpikir bagaimana punya usaha. Dari sini mulai ada rasa tidak mau buang-buang waktu saat kuliah. Karena saya ingin membuka usaha di bidang peternakan, saya sering konsultasi dengan dosen, dan saya banyak berkomunikasi dengan para senior,” ucap Pengurus Astra Startup Community ini.
Baca juga : Profesor Muda yang Tak Pernah Lelah Belajar
Baginya dalam menjalani kehidupan harus memiliki tujuan hidup yang jelas, harus punya mimpi yang harus dicapai. “Hidup jangan standar-standar saja, hidup itu harus punya mimpi, kita harus bisa berkarya harus bisa memaksimalkan potensi yang ada, kita harus punya standar yang melebihi standar orang lain. Dan hidup harus punya tujuan, ketika orang punya tujuan hidup, pasti tahu apa yang harus dilakukan, harus tahu goals hidup itu apa, agar kita tahu batasannya seperti apa. Kita juga harus punya mental yang bagus, jangan punya mental ‘tempe’, dimana ketika kita punya masalah sedikit saja sudah langsung down, merenung boleh, tapi harus cepat bangkit lagi,” terang pria yang pernah Juara 3 Food Startup Indonesia ini
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Desember 2021 dengan judul “Hidup Harus Punya Tujuan. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153