Pengendalian HPAI
Oleh : Elinda Luxitawati*
Wabah Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) menarik atensi publik internasional selama bertahun-tahun lamanya, mengingat virus yang sangat patogen ini memiliki konsekuensi yang serius terhadap kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, dan perdagangan internasional di berbagai negara. Hewajuli dan Dharmayanti (2012) menyebutkan bahwa HPAI disebabkan oleh strain virus Avian Influenza (AI) sub tipe H5 dan H7 yang mempunyai suatu furin pada cleavage site protein hemaglutinin dan biasanya bersifat akut serta menyebabkan infeksi sistemik. Kemunculan wabah HPAI di negara-negara Asia telah terjadi sejak tahun 1996 (HPAI H5N1) yang kemudian melambungkan angka mortalitas terhadap ayam, itik, dan juga spesies burung liar.
Baca juga : Urgensi Pendidikan dalam Kemajuan Industri Perunggasan di Negeri Kincir Angin
Virus HPAI H5N1 patogenisitas tinggi, A/goose/ Guangdong/1/1996 (Gs/GD) pertama kali diidentifikasi pada angsa lokal di Provinsi Guangdong, China. Virus ini kemudian menyebar secara cepat ke berbagai negara di Eropa, dan Afrika. Migrasi burung liar, khususnya unggas air liar dari famili Anatidae (dikenal sebagai burung reservoir virus AI) turut berkontribusi pada transmisi virus jarak jauh ini. Hingga tiba pada kenyataan hari ini, bahwa evolusi virus HPAI H5N1 telah terjadi terus-menerus hingga terdiversifikasi menjadi bermacam-macam klad (clade) dan sub kelompok. Semenjak tahun 2014 dan seterusnya, virus HPAI H5Nx yang termasuk dalam clade 2.3.4.4 (seperti H5N2, H5N6, dan H5N8), telah mewabah dengan penularan yang bervariasi sesuai dengan ragam genetikanya.
Tahun 2014, Korea Selatan mengisolasi virus HPAI H5N8 dari peternakan pembiakan itik, peternakan itik pedaging, dan dari bangkai itik Baikal (A/breeder duck/Korea/Gochang1/2014); A/duck/Korea/Buan2/2014; dan A/Baikal Teal/Korea/ Donglim3/2014). Kemunculan wabah HPAI H5N8 (2014-2016) di Korea Selatan terhitung sebagai wabah kelima yang mengikuti empat wabah sebelumnya di tahun 2003-2011 (yakni virus H5N1).
Wabah HPAI H5N8 tersebut terdeteksi berasal dari clade 2.3.4.4c. Sementara itu, HPAI yang terjadi di musim dingin 2016-2017 terdeteksi dipicu oleh virus clade 2.3.4.4e H5N6 dan clade 2.3.4.4b H5N8. Lebih dekat lagi, kemunculan kasus-kasus di peternakan unggas Korea pada tahun 2017-2018 teridentifikasi disebabkan oleh virus H5N6 dari sub kelompok yang berbeda.
Tercatat sejak April 2018, kasus HPAI tidak teridentifikasi di Korea Selatan. Namun, HPAI kembali mewabah di tahun 2020-2021. Oktober 2020, virus HPAI H5N8 clade 2.3.4.4b (yang secara genetik mirip dengan virus yang mewabah di Eropa pada awal 2020 lalu) terdeteksi pada burung liar di Korea Selatan. Virus tersebut kemudian teridentifikasi pada peternakan unggas di minggu terakhir November 2020 lalu.
Kabar terkini, sebaran kasus HPAI H5N8 clade 2.3.4.4b di Korea Selatan telah terdeteksi pada 109 peternakan komersial (termasuk itik) serta 234 pada burung liar. Serangan wabah ini telah mengakibatkan depopulasi secara besar-besaran terhadap persediaan ayam Korea Selatan (chicken inventory) sejak 26 November 2020. Pemusnahan populasi secara masal untuk mengontrol wabah tersebut, berlangsung pada periode musim dingin hingga musim semi lalu yakni pada November 2020 hingga April 2021. Kalkulasi yang dimuat pada laporan tahunan unggas dan produk tahunan USDA per September 2021, tercatat bahwa depopulasi tersebut telah mencapai 26 juta ekor atau sekitar 15% dari keseluruhan total unggas, baik layer, broiler, maupun parent stock. *Pascasarjana Kangwon National University, Korea Selatan

 

Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi November 2021 dengan judul “Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) dan Perkembangan Perunggasan Terbaru Korea Selatan. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153