Hilirisasi produk unggas menjadi solusi strategis untuk menyeimbangkan rantai pasok, mengurangi fluktuasi harga, meningkatkan nilai tambah, dan membuka peluang ekonomi baru.
Industri perunggasan saat ini menjadi salah satu sektor unggulan dalam pemenuhan kebutuhan pangan nasional karena harganya yang relatif terjangkau. Konsumsi daging ayam dan telur nasional yang terus meningkat setiap tahunnya menunjukkan bahwa permintaan pasar domestik masih sangat potensial. Selain itu, perunggasan memiliki peluang besar untuk dikembangkan lebih lanjut, baik dari sisi peningkatan produksi, efisiensi usaha, maupun perluasan pasar, termasuk bidang hilirisasi.
Namun demikian, di balik potensi besarnya, industri perunggasan juga menghadapi berbagai tantangan, salah satunya adalah kondisi over supply atau kelebihan pasokan, yang sering kali terjadi akibat kurangnya sinkronisasi antara produksi dan permintaan pasar. Hal ini berujung pada fluktuasi harga yang tajam di tingkat peternak, terutama ketika pasokan produk unggas melebihi daya serap pasar. Harga yang jatuh di bawah biaya produksi tentu berdampak langsung terhadap kelangsungan usaha peternak, terutama peternak skala kecil dan menengah.
Industri perunggasan di Indonesia saat ini masih didominasi oleh aktivitas di sektor hulu, seperti produksi day old chick (DOC), penyediaan pakan, serta proses budi daya di kandang, dan kecanggihan ini belum diimbangi oleh pengembangan sektor hilir yang mampu memberikan nilai tambah bagi produk unggas. Akibatnya, rantai pasok industri perunggasan menjadi kurang optimal dalam mendukung keberlanjutan dan peningkatan kesejahteraan peternak.
Menurut kajian Kementerian Pertanian tahun 2024, hanya sekitar 10–15% dari total produksi unggas nasional yang masuk ke sektor industri pengolahan. Artinya, lebih dari 80% produk unggas masih dipasarkan dalam bentuk segar (raw product), seperti ayam potong utuh dan telur konsumsi biasa. Produk dalam bentuk segar ini memiliki daya simpan yang pendek, rentan terhadap kerusakan selama distribusi, dan relatif minim dalam nilai tambah ekonomis. Padahal, di era modern seperti saat ini, konsumen semakin mengarah pada preferensi produk olahan yang praktis, higienis, dan siap saji.










