POULTRYINDONESIA, Jakarta – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) memastikan akan memulai pembangunan proyek hilirisasi industri unggas terintegrasi di lima wilayah di Indonesia. Proyek ini dijadwalkan mulai dikerjakan dalam waktu dekat, dan menjadi bagian dari strategi pemerintah memperkuat sektor pangan nasional melalui hilirisasi.
Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani di Gedung IDN, Jakarta pada Rabu, (14/1) menyampaikan bahwa industri unggas termasuk ke dalam enam proyek hilirisasi prioritas yang akan mulai dibangun pemerintah pada Februari 2026. Meski demikian, ia belum mengungkapkan detail lokasi untuk proyek tersebut.
Sebelumnya, saat peresmian Pertamina Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan pada Senin, (12/1) Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa Indonesia berpeluang memperoleh investasi hilirisasi hingga US$ 6 miliar atau setara Rp 101 triliun dalam waktu dekat. Pemerintah menargetkan realisasi enam hingga sebelas proyek hilirisasi di berbagai sektor strategis. Dan termasuk didalamnya sektor perunggasan.
Dari perspektif pasar modal, kebijakan tersebut diperkirakan akan memberikan dorongan positif bagi saham-saham di sektor unggas. Selain rencana hilirisasi industri, sektor ini juga mendapat sokongan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program prioritas nasional.
Tak hanya itu, Danantara juga dikabarkan akan menyalurkan investasi sekitar Rp 20 triliun guna memperkuat industri perunggasan nasional yang mencakup 13 provinsi. Langkah ini dinilai berpotensi meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menjaga stabilitas pasokan protein hewani.
Dalam kajiannya, Analis CGS International Sekuritas, Jason Chandra, menilai program MBG menjadi pendorong utama pertumbuhan permintaan ayam broiler. Ia mencatat bahwa pada kuartal IV 2025, harga rata-rata ayam broiler mencapai Rp 22.800 per kilogram, meningkat 8% dibandingkan kuartal sebelumnya dan 5% secara tahunan. Kenaikan ini dipicu oleh peningkatan penyerapan dari program MBG.
“Lonjakan permintaan tersebut diperkirakan akan membawa JPFA mencetak rekor laba per saham, seiring dengan percepatan cakupan program MBG oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Hingga Desember 2025, jumlah penerima manfaat program telah mencapai 55 juta orang, meningkat tajam dari sekitar 20 juta penerima pada Agustus 2025,” tulis Jason dalam riset yang dipublikasikan pada Selasa, (2/12).
Selain dari sisi volume, perbaikan juga terjadi pada aspek arus kas. Skema pembayaran di muka yang diterapkan melalui dapur pusat dinilai mampu mengurangi risiko keterlambatan pembayaran kepada pemasok.
“Kami memperkirakan laba bersih JPFA dan CPIN pada FY25F masing-masing mencapai Rp 3,9 triliun dan Rp 5,3 triliun, atau tumbuh 30% dan 42% secara tahunan,” tambah Jason.
Lebih lanjut, Jason menilai tren harga ayam broiler yang masih kuat pada kuartal I 2026 berpotensi menopang kinerja saham sektor unggas. Secara musiman, harga ayam cenderung menguat selama periode Ramadan dan Idulfitri, yang jatuh pada kuartal tersebut. Momentum ini juga bertepatan dengan publikasi laporan keuangan tahun buku 2025, yang diperkirakan akan melampaui ekspektasi pasar.
“Dari sisi biaya produksi, tekanan diperkirakan mulai mereda. Data Kementerian Pertanian menunjukkan harga jagung sempat meningkat hingga Rp 6.000 per kg pada kuartal IV 2025 akibat hambatan distribusi. Namun, setelah pemerintah memberlakukan kebijakan batas harga, harga jagung berangsur stabil”.
Sementara itu, harga bungkil kedelai di pasar global tercatat turun sekitar 8% dari level tertingginya pada akhir November 2025. Sejalan dengan proyeksi USDA yang memperkirakan pasokan global melampaui permintaan, harga komoditas tersebut masih berpotensi melemah ke depan, sehingga membuka ruang perbaikan margin bagi pelaku industri unggas.
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.